Subscribe Us

SKB KESEHATAN JIWA ANAK: MAMPUKAH MEMBANGUN GENERASI SEHAT DAN BAHAGIA?

Oleh Mutiara Aini
(Kontributor Media Visualiterasi)


Vivisualiterasi.com-Kesehatan jiwa anak-anak merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan bangsa. Akan tetapi, kasus kesehatan jiwa anak di Indonesia makin meningkat sehingga pemerintah mengambil langkah serius dengan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kesehatan Jiwa Anak. SKB ini muncul setelah terjadi peningkatan angka pengakhiran hidup oleh anak pada 2 bulan terakhir di awal 2026 dan meraknya kasus perundungan pada anak-anak sepanjang tahun 2025. 

Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, hal tersebut tidak bisa hanya ditangani oleh satu kementerian. 
Beberapa kementerian yang turut menandatangani SKB adalah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, turut hadir Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji, serta perwakilan Kapolri. (antaranews.com, 5/3/2026).

SKB Kesehatan Jiwa Anak diterbitkan pemerintah sebagai respons atas meningkatnya kasus dan tendensi pengakhiran hidup anak. Berdasarkan data Healing 119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), faktor utama pemicu berasal dari konflik keluarga, perundungan, masalah psikologis, dan tekanan akademik.

Adapun tujuan dari SKB ini adalah untuk meningkatkan kesehatan jiwa anak-anak di Indonesia dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa anak, meningkatkan koordinasi antar kementerian dan lembaga, serta meningkatkan layanan kesehatan jiwa anak di sekolah dan keluarga dengan harapan dapat membantu mencegah dan menangani kasus kesehatan jiwa anak, seperti bunuh diri dan kekerasan.


Buah dari Sistem Sekuler Liberal 

Krisis kesehatan jiwa anak merupakan isu kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sistem kehidupan sekuler liberal kapitalis. Paham ini dengan sengaja memisahkan agama dari kehidupan sehingga orientasi hidup masyarakat hanya ditujukan untuk mencapai kepuasan individu dan pencapaian duniawi. Maka wajar, kondisi lingkungan yang demikian tidak akan pernah mampu membangun dengan fondasi keimanan yang kokoh pada masyarakat terutama anak-anak. Alhasil, manusia akan mudah merasa tertekan, depresi, hingga putus asa bahkan bisa melakukan bunuh diri. Kehidupan sekuler kapitalisme juga memberikan ruang kompetisi yang tidak adil. Karena standar kesuksesan dinilai dari jumlah materi.

Dalam lingkungan sekolah misalnya, orientasi pendidikan lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik, kompetisi, serta keberhasilan yang diukur melalui prestasi. Oleh karenanya, anak-anak didorong untuk mengejar standar kesuksesan yang ditentukan oleh ukuran ekonomi dan status sosial. Sehingga hal tersebut dapat memicu tekanan psikologis di tengah masyarakat, termasuk pada anak-anak. Ditambah lagi, arus informasi digital hari ini pun turut mengokohkan ide sekuler kapitalisme. Alhasil, masalah mental tidak bisa terelakkan. Akibatnya, pendidikan di keluarga, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak pada akidah dan syariat Islam, tetapi justru yang tumbuh adalah paham materialistik. 


Dengan demikian, biang masalah yang tumbuh dalam diri umat hari ini adalah penerapan sistem batil bernama sekuler kapitalisme. Oleh sebab itu, sudah selayaknya masyarakat memandang sistem ini sebagai ancaman serius. Penyelesaiannya tidak bisa dilakukan dengan solusi pragmatis teknis ataupun memperbaiki perilaku individu. Melainkan dengan cara sistemis dan Ideologis, yakni syariah Islam sehingga standar kesuksesan dinilai dengan ketakwaan bukan dengan materi.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Qur'an surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa standar kesuksesan dan kemuliaan dinilai dari ketakwaan. 

Begitu juga sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR Muslim). 

Islam Sebagai Aturan Hidup Manusia 

Keimanan adalah modal awal bagi siapapun, termasuk anak-anak untuk bertahan hidup dan menjalani berbagai masalah. Jika keimanan telah hilang dalam pikiran, perasaan, hingga sistem, maka kehidupan akan terasa hampa tanpa asa sehingga menjadikan manusia gampang stres. Padahal, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih ketakwaan. 

Dalam kitab Nizhamul Islam karangan Syekh Taqiyuddin Andabhani, Bab Qiyadah Fikriyah, dan Mafahim Hizbut Tahrir menjelaskan bahwa masyarakat itu merupakan sekumpulan manusia yang hidup bersama dan di antara mereka terjadi interaksi yang diatur oleh seperangkat pemikiran, perasaan, dan sistem aturan yang sama. Jadi, kasus kesehatan jiwa anak sebenarnya merupakan cerminan pemikiran, perasaan, dan sistem yang ada hari ini.

Sejatinya, Allah Ta'ala mewajibkan kaum muslim untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar ketika terjadi kezaliman dan kemaksiatan. Oleh karenanya, harus ada dakwah yang diarahkan untuk mengganti sistem sekuler kapitalisme dengan sistem Islam yang menjadikan syariat Islam sebagai dasar pengaturan seluruh aspek kehidupan. 

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab besar sebagai raain (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Maka, peran tersebut menuntut negara untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan tata kelola kehidupan masyarakat berjalan sesuai dengan syariat Islam. Begitu juga dalam konteks perlindungan anak dan keluarga, negara wajib menutup berbagai pintu kerusakan yang lahir dari nilai-nilai sekuler liberal kapitalistik, baik yang masuk melalui sistem pendidikan, media, maupun budaya yang dapat merusak tatanan moral generasi muda. 

Oleh karena itu, paradigma politik dalam pengelolaan berbagai sektor strategis harus terkait dengan syariat Islam. Begitu juga dalam sistem pendidikan harus dibangun di atas akidah Islam yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam dan melahirkan generasi yang berilmu sekaligus bertakwa. Kemudian dalam sistem kesehatan, negara harus memberikan jaminan sosial secara cuma-cuma kepada setiap warga negara sebagai bentuk amanah dalam menjaga jiwa manusia. 

Demikian pula dalam sistem ekonomi harus diatur berdasarkan hukum syariat yang menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu secara adil dan mampu menutup celah eksploitasi kapitalistik.
Maka, dengan pengaturan seperti ini akan melahirkan tatanan masyarakat yang sehat secara fisik, kuat secara mental, serta kokoh akidahnya. Integrasi ini akan terwujud ketika negara mau menerapkan syariat Islam secara kafah (menyeluruh) di muka bumi.[Irw]




Posting Komentar

0 Komentar