Subscribe Us

RAMADHAN, KORBAN BENCANA TERABAIKAN

Oleh Sarlin
(Penulis Opini MCQ) 

Vivisualiterasi.com-Hampir tiga bulan pasca bencana longsor dan banjir bandang berlalu menerjang Sumatera, namun masih banyak warga belum dapat merasakan kembali kehidupan normal. Bahkan memasuki Ramadhan, masih banyak yang berjuang membersihkan rumah mereka dari lumpur sisa banjir bandang. 

Salah satu warga Desa Menasah, Pidie Jaya Aceh Muhammad Nur mengaku, hampir setiap hari berupaya membersihkan rumahnya dari sisa lumpur. Oleh sebab itu, Hingga saat ini masih ada warga korban bencana banjir dan longsor Sumatera yang tinggal di tenda pengungsian.

Hampir tiga bulan, Zuraida bersama suami dan tiga orang anaknya menempati tenda pengungsian di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Tidak ada persiapan khusus untuk memasuki bulan Ramadhan.

Kondisi yang sama juga dialami warga korban banjir bandang di Desa Suka Jadi, Kecamatan Karang Baru lainnya. (KOMPAS.TV, 19/02/2026)

Fakta ini menunjukkan, bahwasanya penanganan pasca bencana berjalan lambat. Para korban juga masih ada juga sebagian yang tinggal di posko pengungsian. 
Sebab pembangunan hunian sementara (Huntara) belum sepenuhnya rampung.

Para korban juga belum dapat kembali bekerja, karena lingkungan tempat tinggal mereka dan sumber sumber penghidupan mereka rusak. Akibatnya, kebutuhan hidup sehari-hari mereka masih bergantung pada bantuan masyarakat dan relawan. Situasi tersebut berdampak langsung pada ketahanan pangan korban. Apalagi kebutuhan konsumsi dan gizi meningkat saat menjelang Ramadhan. 

Sulitnya kehidupan pasca bencana ini menunjukkan bahwa realitas di lapangan masih jauh dari harapan yang dijanjikan. Meskipun negara mengklaim telah menjalankan berbagai kebijakan rekonstruksi pasca bencana, namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. 

Pengungsian belum sepenuhnya tertangani, kebutuhan dasar belum terpenuhi dan pemulihan berjalan lambat terutama di bulan Ramadhan ini. Hal ini menunjukkan negara tidak menjalankan tugasnya sebagai raa’in sehingga kondisi wilayah bencana tak kunjung pulih.

Ini adalah model nyata dari kepemimpinan kapitalistik yang menjadikan kebijakan hanya bersifat pencitraan saja tanpa mampu memberikan solusi apalagi penyelesaian yang nyata. 

Berbeda dengan negara Islam, dalam Islam penguasa adalah raa’in (pengurus) urusan rakyat. Maka negara wajib memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya. Di antaranya menjamin makanan, tempat tinggal, kesehatan, keamanan dan pendidikan termasuk bagi korban bencana. 

Negara juga memperhatikan ibadah warganya sehingga negara akan mensuasanakan  Ramadhan agar rakyat bisa menjalankan ibadahnya secara optimal. Pemulihan listrik, air, tempat tinggal serta distribusi kebutuhan pokok menjadi prioritas agar Ramadhan tidak dilalui dalam kesulitan.

Dalam sistem Islam, wilayah terdampak bencana mendapat perhatian khusus. Negara akan mengerahkan kebijakan terpadu, anggaran yang memadai serta sumber daya manusia terbaik untuk percepatan konstruksi.

Karena visi negara Islam adalah me-riayah, menjadikan kebijakan dan pengelolaan anggaran untuk wilayah bencana bersifat efektif dan solutif bukan pencitraan.

Negara tidak akan membatasi anggaran untuk rekonstruksi bencana, selalu ada dana untuk bencana baik dari pos yang bersifat tetap maupun dari dharibah. Maka dalam menangani pasca bencana negara Islam wajib menjamin kesejahteraan rakyat secara langsung. Wallahua'lam Bish-Shawab.[AR]



Posting Komentar

0 Komentar