Subscribe Us

NEW GAZA & BOARD OF PEACE: KENDALI TOTAL AMERIKA



Oleh Hany Siti Nurlatifah
(Pegiat Literasi)


Vivisualiterasi.com - Setelah berlangsung selama 467 hari serangan brutal Israel terhadap Gaza, akhirnya gencatan senjata. Tapi apakah Palestina benar-benar sudah merdeka? Apakah Palestina benar-benar mendapatkan sepenuhnya kebebasan? Apakah Palestina benar-benar mendapatkan hak-haknya kembali?

Belum lama umat Islam di seluruh dunia sedikit bernafas lega dan merasa bahagia setelah mendengar kabar Palestina dinyatakan merdeka dan diberlakukannya gencatan senjata, namun tiba-tiba umat dikejutkan kembali dengan sebuah pemberitaan yang membuat hati merasa geram, marah, lelah dan sedih.

Baru-baru ini masyarakat di seluruh dunia digemparkan oleh pemberitaan tentang rencana AS yang ingin membangun "New Gaza" yang dilengkapi oleh gedung-gedung pencakar langit. Proyek ini kabarnya akan mulai dibangun dari nol pada wilayah-wilayah di Palestina yang hancur akibat serangan Israel. AS juga akan membangun puluhan gedung pencakar langit, yang membentang di sepanjang pantai dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah luluh lantak akibat serangan Israel. (Bbc.com, 30/01/2026)

Tapi apakah hal ini benar-benar dilakukan demi kebaikan warga Palestina? Apakah ini benar-benar untuk mengembalikan negara Palestina ke posisi semula? Apakah ini benar-benar demi membangun "New Gaza" yang sesuai dengan harapan warga Palestina?

Faktanya, hingga kini warga Palestina tidak pernah benar-benar merdeka, Menteri Israel Smotrich telah menyerukan agar menghancurkan seluruh Gaza dan mengusir paksa warganya. Dilansir dari Tribun-Video.com (30/01/2026), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dikabarkan telah melanggar perjanjian gencatan senjata. Buldoser milik militer Israel menggempur markas badan PBB yang diperuntukkan bagi pengungsi warga Palestina (Unrwa) yang ada di wilayah Yerusalem Timur.

Hal ini jelas menimbulkan kecaman keras dari berbagai pihak, karena tampaknya mereka tidak pernah puas dengan apa yang selama ini mereka lakukan terhadap warga Palestina. Hingga saat ini warga Palestina masih merasa sangat jauh dari kata aman dan nyaman. Setelah menghancurkan tempat-tempat pengungsian, mereka juga masih ingin merekonstruksi dan mengendalikan seluruh wilayah Palestina secara total dan bekerjasama dengan AS dalam membangun "New Gaza".

AS dan Israel berambisi untuk menguasai Gaza dan menghilangkan jejak genosida dengan membangun "New Gaza". Lalu untuk memperkuat posisi kendali politik internasional, AS membentuk Dewan Perdamaian (Board of Peace) Gaza, merangkul negeri-negeri dengan mayoritas muslim termasuk Indonesia. Semua ini dilakukan sebagai siasat untuk menguasai dan mengendalikan Gaza secara total. 

Palestina Butuh Keadilan, Bukan Sekedar Stabilitas

Dewan ini digagas oleh negara yang selama ini membela penjajah, bagaimana mungkin pendukung penindasan jadi penentu perdamaian? 

Masalah Palestina bukan sekadar konflik biasa, melainkan penjajahan. Jika penjajahan tidak dihentikan maka perdamaian hanyalah jeda luka. Dan yang dikhawatirkan adalah Gaza dibangun, tapi penjajahan dibiarkan. Lalu rumah-rumah berdiri tegak, tapi justru kebebasan tetap dirampas. Wilayah Gaza dan Palestina sejatinya tanah milik umat Islam yang dirampas oleh Israel.

AS dan Israel membentuk Dewan Perdamaian Gaza tanpa menyertakan Negara Palestina itu sendiri, maka mereka jelas tidak berhak atas Palestina. AS dan Negara-negara yang bergabung dengan (BoP) hanya sibuk membicarakan Palestina tanpa benar-benar mendengarkan suara mereka. Padahal Allah Swt. melarang umat Islam untuk tunduk patuh dan memberikan loyalitas pada negara kafir.

Bicara Palestina bukan sekedar politik, melainkan soal iman, kemanusiaan dan amanah. Berpihak pada yang tertindas juga bukan ekstrem, melainkan kewajiban. Maka umat dan penguasa dunia Islam wajib melawan semua makar AS dan Israel yang ingin menguasai Gaza. Kembalikan masa kanak-kanak mereka, berikan kebebasan mereka dalam berpendapat dan mengutarakan perasaannya, bukan dibungkam dan diberikan harapan palsu demi meredam konflik semata.

Palestina adalah masalah akidah, kemanusiaan dan amanah, sehingga solusinya adalah melalui jihad fi sabilillah di bawah naungan satu kepemimpinan yaitu Khilafah, yang mampu menyatukan tentara dari negara-negara Muslim untuk bersatu memerangi kaum kafir dan penjajahan. Serta partai Islam ideologis guna menegakkan Khilafah Islamiyah global untuk memerangi segala bentuk penentangan terhadap Islam dan penjajahan terhadap kaum muslim. Wallahua'lam bisshawab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar