Ingin marah? Ya. Namun, kepada siapa kita harus marah ketika para pemimpin muslim tidak mendengarkan keluhan ini? Di sinilah dibutuhkan kekuatan pemikiran untuk bisa bertahan di tengah kondisi sulit. Pikiran adalah kekuatan utama manusia. James Allen dalam bukunya As a Man Thinketh berkata, “A man is literally what he thinks” (manusia pada hakikatnya adalah apa yang ia pikirkan). Hal ini diperkuat oleh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam bahwa pemikiran adalah kekuatan besar manusia karena setiap perubahan besar dimulai dari berpikir, sebagaimana Rasulullah saw. mengubah masyarakat Arab yang jahiliah menjadi masyarakat Islam. Dari sini pula membuat Michael H. Hart kagum dan menempatkan Rasulullah saw. pada posisi pertama dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.
Sebagai muslim, tentu kita bangga memiliki Rasulullah, bukan? Namun, jangan sampai kebanggaan itu sebatas rasa, melainkan harus diwujudkan dengan meneladani beliau. Rasulullah adalah teladan terbaik dalam kehidupan. Yang paling menonjol adalah cara beliau berpikir yang luar biasa positif dan tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat Arab kala itu. Beliau resah dan membenci keadaan jahiliah, ketika perempuan dihina, zina dianggap biasa, dan riba merajalela. Maka, dalam hal ini kita harus berpikir sebagaimana Rasulullah saw. berpikir, yakni membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, bukan sekadar untuk kepentingan individu.
Taqiyuddin dalam kitab At-Tafkir atau Hakikat Berpikir membagi berpikir menjadi tiga tingkatan, yaitu berpikir dangkal (at-tafkir as-sath-hi), berpikir mendalam (at-tafkir al-‘amiq), dan berpikir cemerlang (at-tafkir al-mustanir).
Pertama, berpikir dangkal adalah hanya memindahkan fakta ke dalam otak tanpa membahas fakta lainnya atau tanpa mengindera hal-hal lain yang berkaitan dengan fakta tersebut. Misalnya, menganggap orang miskin karena malas bekerja, padahal tidak semua orang miskin demikian. Menurut Taqiyuddin, berpikir dangkal berbahaya karena tidak akan mengantarkan kepada kebangkitan. Jangan menjadi orang yang berpikir dangkal.
Kedua, berpikir mendalam berarti mengindera suatu fakta dan mendalami informasi yang berkaitan dengan penginderaan tersebut untuk memahami fakta secara utuh. Misalnya, kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh kemalasan, melainkan juga faktor terbatasnya akses pendidikan, kurangnya lapangan kerja, kondisi kesehatan, dan sistem ekonomi yang tidak mendukung seseorang keluar dari kemiskinan. Pemikiran mendalam dilakukan dengan pengamatan berulang hingga menemukan fakta-fakta lain yang berkaitan. Pemikiran seperti ini dimiliki oleh para intelektual dan ulama, tetapi belum cukup untuk mencapai kebangkitan.
Ketiga, berpikir cemerlang adalah berpikir mendalam yang disertai kesimpulan yang benar. Contohnya, seorang ahli atom yang meneliti pembelahan atom, ahli kimia yang meneliti susunan senyawa, dan seorang fakih yang membahas penggalian hukum serta pembuatan undang-undang. Mereka membahas secara mendalam dan mendapatkan kesimpulan yang gemilang. Namun, tidak disebut pemikir cemerlang jika para ahli tersebut menyembah selain Allah. Berpikir cemerlang mengharuskan proses belajar dan tidak terbatas pada kaum pelajar; semua manusia bisa melakukannya. Misalnya, seorang Arab Badui yang berkata, “Kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan.” Ia disebut pemikir yang cemerlang. Jadi, tidak perlu melanjutkan studi hingga doktoral untuk bisa berpikir cemerlang, asalkan mau belajar dan berpikir mendalam.
Dari tiga tingkatan berpikir tersebut, yang paling baik adalah berpikir cemerlang, tetapi harus dilakukan dengan keseriusan. Keseriusan akan menghasilkan usaha untuk merealisasikan apa yang dipikirkan, dan usaha itu harus sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Berpikir serius membuat seseorang melakukan aktivitas fisik yang setara dengan apa yang dipikirkan. Misalnya, seseorang yang meyakini Islam sebagai sistem hidup terbaik akan menjelaskan Islam yang ia pahami kepada orang lain melalui dakwah. Taqiyuddin menekankan bahwa keseriusan harus membawa manfaat dalam kehidupan. Jadi, ketika kita diberi pemahaman suatu ilmu, sampaikanlah. Jangan hanya untuk memuaskan intelektualitas, tetapi agar ilmu tersebut mampu membawa perubahan dalam kehidupan.
Kesimpulannya, setiap orang berilmu memiliki beban peradaban, khususnya muslim. Tugas muslim adalah berpikir cemerlang dengan terus belajar dan bersungguh-sungguh mengubah kehidupan sekuler menuju kehidupan Islam. Dalam menjalankan tugas ini, kita perlu meneladani Rasulullah saw. dalam mengubah masyarakat Arab jahiliah menjadi masyarakat Islam melalui dakwah kepada manusia dan para penguasa agar mengambil Islam sebagai sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan.
Oleh karena itu, bulan Ramadan ini kita jadikan momentum untuk meningkatkan pola pikir (level up mindset) dari yang mungkin masih dangkal menuju mendalam hingga cemerlang. Caranya dengan terus belajar tentang kehidupan dan bersungguh-sungguh memperbaiki kondisi yang rusak hari ini menjadi kehidupan yang rahmatan lil ‘alamin. Penting bagi kita untuk mempelajari Islam secara mendalam dan serius mengubah kehidupan sekuler (jauh dari Islam) menjadi kehidupan yang Islami, sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat berjuang mengubah kehidupan jahiliah menjadi Islam.
Allah Swt. berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Wallahu a‘lam bishawab. (Dft)


0 Komentar