(Publisher Vivisualiterasi)
Laporan investigasi Al-Jazeera menyebutkan setidaknya sudah lebih 2842 orang menghilang sejak agresi Israel pada Oktober 2023. Dan kini, Israel diyakini menggunakan senjata termal dan termobarik untuk membunuh warga Palestina. Hal ini berdasarkan para ahli militer dan saksi mata di lapangan mengaitkan fenomena hilangnya jasad korban dengan penggunaan sistematis senjata thermobaric, yang sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol. (metronews,15/2026)
Ilusi Perdamaian
Serangan terakhir oleh Israel itu bahkan setelah adanya deklarasi gencatan senjata fase kedua dan di bentuknya Dewan Perdamaian. Meskipun negara dunia bersepakat atas perdamaian atas peperangan antara Israel dan Palestina, namun hal itu hanya lip service dari para pemilik kepentingan.
Diketahui bahwa Israel melancarkan serangan udara di Gaza Timur yang menyasar kawasan Lahan Younis, sedikitnya dilaporkan 21 orang tewas, termasuk enak orang anak dan seorang bayi berusia 5 bulan. Ini menunjukkan diplomatik AS hanyalah retorika belaka, karena bertentangan dengan realitas serangan Zion*is.
Mengharapkan keadilan dan perdamaian Palestina dari AS maupun PBB merupakan sebuah kekeliruan mutlak,sebab merekalah sumber masalah. Korban jiwanya terakhir bahkan sejak gencatan senjata diumumkan telah mencapai jumlah 9,7 ribu perempuan, 18,4 ribu anak-anak, dan 4,4 ribu orang lanjut usia. Mereka melakukan penyerangan tanpa pandang bulu, kelompok rentan tetap mereka jadikan sasaran. Dewan HAM PBB pun sudah mengumumkan pada 16 September 2025 bahwa Israel telah melakukan genosida. Mirisnya, draf perdamaian yang di ajukan AS lebih mengarah pada agenda keamanan entitas zionis.
Tak berdayanya para penguasa negeri muslim dan ikutsertaan mereka dalam bOp ini sejatinya bentuk normalisasi merestui penjajahan Palestina. Termasuk keterlibatan Indonesia justru bertentangan dengan UUD 1945, hal ini sangatlah disayangkan karena nampak jelas menganggap masalah Palestina ini sebagai masalah negara tetangga saja,bukan masalah saudara seakidah.
Dari sini bisa kita pahami bahwa serangan yang terus terjadi yang meninggalkan duka yang mendalam bagi anak, perempuan dan seluruh penduduk Palestina adalah bukti nyata kerapuhan perjanjian gencatan senjata. Semua ini terjadi dan berlangsung dibawah ketidakpedulian dan kegagalan total dunia seolah kini telah terbiasa dengan pembunuhan, tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan anak yang tak lagi mendapatkan perlindungan. HAM nampaknya menjadi hal yang terkutuk bagi mereka disana,sebab sangat tidak mungkin mereka mendapatkan HAM yang di gemborkan para pembelanya.
Bersegera Mengambil Solusi Hakiki
Kita perlu membenakkan firman Allah:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah Rida kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang sebenarnya,sungguh jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai padamu, tidak ada bagimu perlindung dan penolong dari (azab) Allah." (QS. Al-Baqarah:120)
Kita sepatutnya harus mengeliminasi harapan pada narasi-narasi perdamaian yang di usung AS dan para pendukungnya. Sebagai umat kita seharusnya menolak segala bentuk kompromi dan komitmen guna melegitimasi penguasaan dan penjajahan atas tanah Palestina.
Didalam Islam, perjanjian damai tidak boleh dilakukan jika tujuannya untuk melegitimasi pengambilan tanah bersifat permanen. Hubungan diplomatik dengan negara kafir adalah keharaman, sebab itu menjadikan pengkhianatan terhadap tanah milik umat Islam. Sebab saat mereka terluka,maka sejatinya pula kita terluka, sebagaimana hadist nabi:
"Dari Abdullah bin Umar Ra., Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda, Muslim adalah saudara muslim, dia tidak mendzoliminya dan menyerahkannya (kepada musuh)..." (HR. Bukhari & Muslim)
Allah berfirman:
"Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain sebab apa yang mereka usahakan". (QS. Al-An'am:129)
Solusi atas masalah Palestina kini tidak bisa selesai hanya dengan perjanjian-perjanjian damai saja. Sudah saatnya, umat melihat solusi atas ini dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan militer dari negeri kaum muslimin yang mengkonsolidasi militer untuk melindungi darah dan nyawa saudara muslim di Palestina. Urgensi keberadaan negara Islam dipimpin oleh Khalifah untuk membebaskan Palestina sebagai institusi politik merupakan lawan yang imbang dalam melawan hegemoni barat.
Sungguh perdamaian tidak akan hadir jika berharap dengan sistem dunia hari ini,kaum muslim harus bangkit dan berupaya mengembalikan kehidupan Islam sebagai akidah dan aturan kehidupan dalam kepemimpinan Khalifah yang mempersatukan dan membebaskan Gaza dari penjajahan. Dengan negara Islam (Khilafah) akan menjadi komando yang menyatukan kekuatan militer negeri muslim dengan instruksi jihad fisabilillah membebaskan Palestina. Ini semua akan terwujud jika Islam memimpin dunia. Wallahu alam.[PUT]


0 Komentar