Subscribe Us

KRISIS ADAB: ANCAMAN GENERASI


Oleh Khumaira
(Aktivis Muslimah)


Vivisualiterasi.com - Media sosial dikejutkan dengan viralnya seorang guru SMK yang berkelahi dengan muridnya. Sangat disesalkan, insiden yang mencoreng dunia pendidikan harus kembali terjadi. Peristiwa yang berujung perkelahian itu terjadi di SMK 3 Negeri Tanjung Jabang Timur, Jambi. Semua bermula ketika kegiatan mengajar berlangsung. Seorang guru (Agus), pada Selasa (13/1) pagi itu berjalan di depan kelas dan mendengar seorang murid menegurnya dengan kata-kata yang tidak pantas dan meneriakinya. Merasa diperlakukan tidak hormat oleh siswanya, Agus masuk ke dalam kelas dan meminta kepada siswa untuk mengaku siapa yang telah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas tersebut. Salah satu siswanya mengaku dan malah balik menantang, sehingga spontan Agus menamparnya, dilansir detikSumbagsel, Kamis (15/1).

Menurut Agus, tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk peringatan moral untuk tidak mengulanginya lagi. Sementara muridnya mengatakan bahwa Agus seringkali menghina salah satu siswanya yang kurang mampu, sehingga memicu emosi siswa yang lain hingga terjadi keributan yang disertai aksi kekerasan. Permasalahan tersebut tidak menemui jalan keluar, walaupun telah dilakukan mediasi. Hingga dalam perjalanan menuju kantor, Agus mengalami pengeroyokan oleh beberapa siswa dan mengalami memar di beberapa anggota badannya.

Akhirnya, mediasi kedua belah pihak dilakukan untuk menangani konflik antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung oleh Polres Tanjung Jabung Timur dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Proses mediasi berlangsung di ruang majelis guru dengan dihadiri unsur kepolisian, TNI, kejaksaan, serta perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Tetapi setelah dua kali pertemuan mediasi, Agus tidak hadir dan tak kunjung ada hasil. 

Pada kesempatan lain, seperti dilansir detikSumbagsel, Jum'at (16/1), Agus didampingi salah satu kerabatnya melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya dan mengambil langkah hukum atas kejadian itu. "Akibat beredarnya video yang berdurasi 58 detik merugikan secara mental, selain psikisnya terganggu, nama baiknya tercoreng di media sosial dan kami sebagai warga negara berhak melaporkan tindakan pengoroyokan ini," ujar Nasir salah satu kerabat dari Agus, saat sedang menjalani proses pemeriksaan selama lima jam di SPKT Polda Jambi.

Sayangnya, sampai saat ini, proses belajar mengajar di SMK Negeri 3 belum berjalan normal. Pihak sekolah berharap persoalan yang terjadi dapat segera diselesaikan. Sebagaimana diketahui bahwa UU di Indonesia terkait perlindungan anak di atur dalam UU No.35 Tahun 2014 : Perubahan atas UU No.23 Tahun 2002, memperkuat perlindungan anak di Lingkungan sekolah dan keluarga dari kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Jika dikaitkan dengan peristiwa aksi kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada murid, maka menurut Ubaid Matraji, bahwa itu adalah pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut serta kekerasan, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dan UU perlindungan anak.

Generasi Remaja yang Arogan

Peristiwa pengeroyokan yang menimpa seorang guru bernama Agus Saputra, yang dilakukan oleh puluhan siswanya di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur sangat disayangkan. Akibat kesalahpahaman yang disertai emosi, sehingga memicu terjadinya perkelahian.

Dulu, seorang guru dibmata murid bagaikan orang tua yang harus dihormati dan disegani. Tetap dijaga adab dan etika sekalipun guru menegur bahkan dengan sedikit sentilan, namun tidak pernah ada dendam bahkan ingin balik membalas. Jauh berbeda dengan saat ini. Hubungan ikatan sosial semakin rapuh antara guru dan murid sehingga berubah kaku dan transaksional. Aturan hanya sebatas formalitas administratif tanpa dibentengi dengan moral. Sekolah berjalan dengan aturan-aturan namun gagal menjalankan fungsi yang semestinya. 

Dari peristiwa pengeroyokan tersebut, tidak mengherankan jika siswa merasa tidak terikat secara emosional maupun moral untuk menjaga adab dan etika ketika berkomunikasi. Posisi guru saat ini sangat berat dan tidak mudah karena dikejar target kurikulum dan tuntutan administratif. Mereka harus membentuk karakter dan adab, namun tangan mereka seolah-olah diikat oleh ketakutan akan kriminalisasi. Sebab setiap teguran ada konsekuensi berujung jeruji besi. Maka ketika seorang siswa sudah kehilangan etika terhadap guru dan berani menghina bahkan sampai mengeroyok, justru hukum seringkali lebih tajam menyasar mereka yang mencoba memperbaiki moral dan etika anak.

Islam Mencetak Generasi Qur'ani

Pendidikan akhlak dan adab tidak sepenuhnya diajarkan di setiap sekolah. Jadi seharusnya orangtuanya yang pertama mengajarkan kepada anak dari buaian hingga dewasa. Karena saat ini bukan perkara mudah mengajarkan adab dan etika kepada anak, apalagi seorang guru yang hanya sebatas transfer ilmu saja dengan di batasi oleh waktu yang singkat. 

Di era serba digital, teknologi dengan mudahnya memberikan akses dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya generasi Z dan Alpa yang tumbuh  bersama internet, media sosial, dan perangkat digital. 

Teknologi bagaikan dua mata pisau, disatu sisi membawa manfaat, sisi yang lain pengguna teknologi yang berlebihan dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental.

Lebih dari itu, jika paparan media sosial yang berlebih sering memicu perbandingan sosial, rendahnya kepercayaan diri, hingga kecemasan. Jika hal tersebut terus berlanjut maka dampak yang ditimbulkan adalah anak menjadi susah diarahkan. Hingga kurangnya respon terhadap orang-orang sekitar, baik terhadap orang tua apalagi terhadap guru.

Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk pribadi shaleh yang beriman dan bertakwa, mengabdi pada Allah, serta bermanfaat bagi dunia dan akhirat, dengan berdasarkan Al-Quran dan hadits. Jika demikian halnya, tentu kasus pengoroyokan tidak akan pernah terjadi bahkan tidak akan pernah ada. 

Salah satu Hadits menekankan bahwa memuliakan guru setara dengan memuliakan Rasulullah saw dan Allah Swt, yang berbuah surga. 

"Barangsiapa memuliakan orang berilmu (guru), maka sungguh ia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, maka ia memuliakan Allah. Barangsiapa memuliakan Allah, maka tempat kembalinya adalah surga." (Dikutip dalam Lubab al- Hadist Oleh Imam≠ Jalaluddin al- Suyuthi).

Seperti itulah Islam memberikan porsi yang seimbang dalam sistem pendidikan. Sekolah bukan hanya sebagai ruang transfer ilmu, akan tetapi sebagai 'wadah' untuk mencetak generasi emas penerus peradaban Islam. Hal itu akan tercipta ketika Syariat Islam diterapkan pada semua sendi kehidupan, termasuk sistem pendidikan. Wallahua'lam Bisshawab.[AR]


Posting Komentar

0 Komentar