Oleh Sinta Lestari
(Pegiat Literasi dan Aktivis Dakwah)
Vivisualiterasi.com - "Board of Peace" menjadi salah satu senjata baru Amerika yang dirilis atas ambisi untuk membangun kembali Gaza (New Gaza) sebagai alat legitimasi AS menghilangkan jejak genosida.
Baru-baru ini manuver politik AS menyita perhatian dunia. Kabarnya menantu Trump, Jared Khuser dalam paparannya di World Economic Forum (WEF), Davos Swiss, Jared mengungkapkan rencananya untuk fokus membangun New Gaza yang hancur akibat perang antara Palestina dan Israel.
Jared mengungkapkan salah satu rencananya untuk membangun bandara hingga pelabuhan serta kawasan wisata di pesisir Gaza laut Mediterania. Sementara Gaza akan menjadi pusat industri dengan tujuan membangun 100 persen lapangan pekerjaan. (CNN Indonesia, 24/01/2026)
Atas ambisinya inilah "BOARD OF PEACE" (BoP) dibentuk sebagai dewan perdamaian Gaza untuk mengendalikan Gaza secara total bagi tiran Amerika. Trump mendatangi negeri-negeri muslim untuk berkonsolidasi. Membicarakan perdamaian, walaupun kita paham kata "Peace" yang seolah indah namun kita tahu perdamaian tidak selalu menghadirkan keadilan.
AS terus berusaha mencari dukungan atas ambisinya tersebut melalui hubungan bilateralnya di wilayah-wilayah Timur Tengah. Menawarkan kerjasama untuk menormalisasi penjajahan dengan mengatasnamakan perdamaian, rekonstruksi dan stabilisasi, bahkan ancaman atas kenaikan tarif pajak dan semacamnya.
Alih-alih demi rekonstruksi, stabilisasi dan keamanan bagi kedua belah pihak, faktanya hal ini digunakan sebagai alat untuk memperkuat hegemoninya.
Sayangnya, Indonesia ikut dalam BoP ini, terjebak dalam kendali asing untuk membela penjajah yang memerangi saudara seakidah. Bahkan Presiden Prabowo mendukung perdamaian di antara kedua belah pihak. Padahal kita tahu siapa seharusnya yang harus dilindungi? Siapa yang selama ini teraniaya dan tertindas? Namun presiden kita dan Pemimpin negeri-negeri muslim lainnya masih terus mempercayai solusi yang berasal dari penjajah. Mereka terus melakukan hubungan kerjasama dengan pihak penjajah. Langkah ini diambil dalam rangka menjaga eksistensi dan mempererat hubungan baik yang didasari atas asas manfaat. Hal ini menandakan bahwa mereka hanya mementingkan urusan kebangsaannya masing-masing. Tanpa memperdulikan Gaza yang selama ini berdiri sendiri di tengah pengkhianatan negeri-negeri muslim.
Sementara itu, mereka malah mendukung penjajah dan berdiri seolah pahlawan kesiangan yang ikut serta mendamaikan.
Allah telah menegaskan di dalam QS. Al-Maidah ayat 51, " Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin" .
Ada 5 point analisis terhadap "Board of Peace".
Pertama, BoP merampas hak Gaza, bukan hanya itu kedaulatan penuh Gaza diambil alih oleh penjajah sebagai bentuk penjajahan gaya barunya menguasai Palestina.
Kedua, BoP mendorong pelucutan senjata Hamas dan penduduk Gaza dengan dalih stabilitas agar rakyat Gaza menyerahkan alat perlawanan. Secara keseluruhan penjajah ingin melemahkan Gaza.
Ketiga, BoP tidak melibatkan rakyat Palestina sebagai anggota dewan ini. Padahal merekalah korban akibat penjajah dan genosida oleh Israel dan Amerika.
Keempat, BoP tetap mempertahankan eksistensi Israel tanpa menyentuh akar permasalahan Palestina. Tidak ada pengembalian tanah Palestina yang dirampas. Kemudian tidak ada tuntutan pembongkaran negara penjajah yang menduduki wilayahnya.
Kelima, keterlibatan para pemimpin muslim yang bergabung dalam BoP merupakan pengkhianatan terhadap Palestina.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an, "Jika mereka memerangi kalian, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan setimpal bagi kaum kafir." QS. Al-Baqarah: 191.
Dari ayat di atas kita memahami bahwa Allah memerintahkan umat Islam untuk melawan. Walaupun jumlah mereka banyak dan memiliki kekuatan militer yang kuat namun sejatinya lemah karena terpecah belah. Bahkan kata Rasulullah saw. mereka bagaikan buih di laut yang tidak memiliki kekuatan. Para pemimpin muslim dijadikan boneka kekuasaan yang mengikuti setiap ambisi AS. Mereka tetap hidup meski saudaranya mati. Mereka tetap berkuasa meski kebijakan yang mereka ambil merugikan saudaranya sendiri. Mereka tetap aman dan melanjutkan misi kebangsaan meski ada segelintir orang mati-matian mempertahankan bumi Syam.
Sejatinya semua yang diupayakan AS bukan semata-mata menghadirkan perdamaian di dunia ini. Merekalah yang menciptakan konflik. Mereka yang menyemai penyakit hingga kaum muslimin sakit tak mampu berdiri melawan. Semua ini dilakukan untuk mempertahankan hegemoninya dan kepentingannya untuk mengendalikan dunia dengan tipu muslihat yang licik.
Harapan untuk Palestina
Palestina adalah tanah kaum muslimin yang turun temurun dibebaskan oleh pemimpin negeri muslim. Hari ini telah dirampas oleh Israel, tamu yang datang lalu tega mengusir tuan rumahnya.
Sejarah panjang Baitul Maqdis tak luput dari perjuangan nyata untuk membebaskannya. Bukan dengan jalur diplomasi atau kerjasama.
Kondisi ini semakin diperparah saat pemimpin negeri muslim tunduk pada negara kafir. Padahal jelas Islam melarang muslim untuk mengikuti orang kafir termasuk mengikuti langkah-langkah politik yang membahayakan nasib kaum muslimin.
Umat Islam harus memiliki kesadaran penuh terhadap permasalahan umat hari ini, bahwa Gaza akan dikuasai As dan Israel, bahwa sistem kapitalisme telah membuat pemimpin negeri-negeri muslim tega menggadaikan Gaza demi keamanan, kepentingan, kekuasaan dan nikmat dunia yang sedikit. Sistem kapitalis yang berasaskan manfaat membuat pemimpin negeri-negeri muslim mengambil keputusan berdasarkan materi dan manfaat semata.
Umat Islam harus menyadari satu hal. Kekuatan umat Islam tak akan bisa diraih saat umat Islam terpecah belah. Maka harus ada persatuan umat. Siapa yang mampu menyatukan kita? Tak lain adalah kepemimpinan Islam, satu komando kepemimpinan Islam yaitu Khilafah. Sehingga Palestina mampu dibebaskan dengan kekuatan jihad fii Sabilillah. Semua ini tidak akan tercapai tanpa ada perjuangan nyata yang terus konsisten dibangun di atas akidah yang benar dengan kelompok dakwah Islam ideologis, dari sinilah diawali dari bangkitnya pemikiran hingga perasaan juga persatuan umatan Wahidan.
Sebagaimana Salahuddin Al Ayubi yang melawan tentara Salib merebut kembali Baitul Maqdis. Semua itu akan terwujud saat belenggu penjajahan pemikiran telah dibebaskan dari diri kaum muslimin sehingga yang mereka takuti bukanlah Amerika namun pada Allah Swr.
Wallahu a'lam bishawwab.[Irw]


0 Komentar