Subscribe Us

GURU VS MURID: CERMIN PENDIDIKAN MINUS ISLAM

Oleh Mai Hanum Asmu’i
(Kontributor Vivisualiterasi Media) 


Vivisualiterasi.com-Dinas Pendidikan Provinsi Jambi akan mendalami kasus pengeroyokan siswa terhadap guru Bahasa Inggris di SMK 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang viral di media sosial.(cnnindonesia.com, 15/1/26). Menanggapi hal tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan bahwa Disdik dan pihak terkait sudah menengahi peristiwa tersebut.

Belum genap sebulan menapaki tahun baru yang diharapkan lebih baik dari setahun lepas, telah beredar video terkait konflik yang disertai kekerasan antara murid dengan guru. Berawal dari ucapan guru yang dinilai kurang mengenakkan bagi murid hingga ketegangan berakhir baku hantam. Khalayak mungkin bertanya, “Kemanakah marwah pendidikan dan ilmu? Kemanakah hilangnya sikap menghargai seorang murid dan rasa sayang seorang guru sebagai pendidik?"

Lantas, apakah  faktor mendasar yang menjadi pemicu? 

Pendidikan dalam Perspektif Kapitalisme

Sesungguhnya relasi antara guru dan murid dapat diibaratkan sebagaimana hubungan anak dan orang tua. Kekerasan yang terjadi antara keduanya bukanlah permasalahan baru. Profesi guru yang diharap menjadi sosok penuh kasih sayang dan panutan bagi siswa, harus tercoreng dengan berbagai peristiwa kekerasan dengan guru sebagai pelaku. Harus diakui bahwa ada pergeseran nilai dan tujuan bagi profesi pendidik, terlebih dalam sistem kapitalisme  dengan sekularisme yang menjadi tambatan bagi kurikulum pendidikan. Asas kemanfaatan dengan materi sebagai orientasi telah menjadi pemicu pergeseran nilai dan tujuan. Pada iklim kapitalisme nyaris jarang ditemui keikhlasan pendidik dalam mengajar. Tugas yang sama dengan tuntutan kebutuhan hidup yang serupa namun berbeda dalam pemberian jaminan kesejahteraan antara Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Guru Honorer, turut memberi kontribusi pada ketidakstabilan psikis pengajar. Konsep pendidikan sekuler dalam kapitalisme menjadikan hubungan guru dan murid sebatas hubungan administrasi.

Sementara, pada siswa dengan model pendidikan sekuler yang terpisah antara aktifitas dengan ruhiyah, memunculkan pandangan, pemikiran serta tujuan hidup bersifat serba instan,  sehingga menghasilkan pola penyikapan serba praktis dalam mencari solusi atas permasalahan. Sementara generasi senior mereka lebih menyukai proses yang memerlukan usaha lebih sebagai bentuk eksistensi mereka. Akibatnya sering tak ada titik temu pada persoalan sepele sekalipun. Meski tetap ada kesamaan pada keduanya yakni dengan mengesampingkan adanya keterikatan setiap aktifitas dengan hukum syarak dan hubungannya dengan kehadiran sang Pencipta.

Dunia pendidikan sejatinya merupakan gerbang untuk mengukir peradaban. Pendidikan pula yang dapat memberi hasil warna dan corak tertentu pada generasi bangsa. Di mulai sejak masa pengasuhan, tahapan pendidikan mulai diperoleh dalam lingkup keluarga terdekat. Tahapan berikutnya setiap individu mengenyam pendidikan dalam lingkup lebih luas. Dalam fase ini lingkungan turut memberi warna pada pemahaman setiap individu. Tujuan kurikulum pendidikan dalam sistem kapitalisme secara global hanya mengacu pada keberhasilan yang bersifat duniawi atau materialisme. Sedangkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kerangka berfikir islami demi terbentuknya syakhsiyyah Islamiyyah atau kepribadian Islam.

Harmonisasi Hubungan Guru dan Murid dalam Islam

Kepribadian Islam yang dihasilkan dari optimalnya penerapan hukum syarak oleh individu, memungkinkan setiap individu memiliki akhlak mulia. Memahami kewajiban dan hak orang lain, serta menjaganya dalam pengawasan iman. Akidah Islam yang menjadi landasan setiap aktifitas, mewujudkan kesadaran akan keterikatannya dengan sang pencipta. Sehingga harmonisasi hubungan guru, murid dan wali murid tetap stabil. Sebab pada guru senantiasa ada keteladanan dalam sikap, kelembutan dalam bertutur serta penghargaan terhadap posisi siswa yang menjadi obyek bimbingan.

Sejarah Islam menulis dengan indah, bagaimana Khalifah Harun Al Rasyid menegur Al Ashma’i sebagai guru atas putranya. Saat itu sang Khalifah melihat guru tersebut berwudhu dengan air yang dituang oleh putra sang Khalifah. Melihat hal tersebut, alih alih marah Khalifah justru memerintahkan sang guru agar menyuruh putranya membasuh kaki sang guru. Dengan tujuan sang putra lebih memahami adab. Dalam Islam ilmu dan adab atau akhlak adalah dua hal yang tak terpisahkan. Pada manusia, terdapat akal untuk memahami ilmu. Sedangkan ilmu adalah cara untuk memahami kewajiban yang harus dilaksanakan oleh manusia. Dengan memahami kewajiban, seorang muslim akan senantiasa dituntut melaksanakan hukum yang diketahui. Dengan kuatnya aqidah,  pelaksanaan hukum syara' turut pula menghasilkan akhlak atau adab yang terpuji.

Dengan  demikian, konflik antara guru dan murid dapat dicegah. Sebab tujuan dari keduanya bukan eksistensi individu yang terpusat pada materialisme semata. Relasi antara guru dan murid dalam Islam dilandasi dengan aqidah serta pemahaman terhadap kewajiban. Sehingga ilmu akan mampu meninggikan derajat keduanya dengan keridhaan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَا فْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِ ذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَا نْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan didalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

Ibrah terhadap Kondisi

Konflik antara guru dan murid semestinya tak boleh terjadi meski tak dapat disangkal ada  pengaruh kondisi yang tidak islami. Aturan yang mengikat dalam kehidupan sekularisme penuh kecacatan sebab lahir dari nafsu manusia yang sarat kepentingan pribadi, serta terbatas dalam memandang persoalan. Dalam suasana yang jauh dari keimanan dalam ideologi kapitalisme inilah generasi muda atau bahkan senior mereka gagap dalam menentukan tujuan hidup yang sebenarnya. 

Memandang kondisi tersebut perlu adanya peran jamaah ideologis Islam yang secara konsisten mampu menjadi alarm menuntunnya ke arah tujuan hidup yang benar. Membina mereka menjadi pribadi tangguh di tengah kondisi yang rusak tanpa adanya perisai daulah Islam sekalipun. Dengannya dua generasi berbeda ini bahkan mampu bekerja sama mewujudkan cita-cita tinggi kaum muslim, mendorong penerapan aturan dalam bingkai institusi Islam kembali. Proyek besar yang hanya bisa diwujudkan oleh individu yang sadar keterikatannya dengan sang Khaliq dan beban hukum yang wajib dijalankan. Karenanya menyamakan visi dan misi keduanya amat penting

Dengan kesamaan visi maupun misi menjadi umat harapan Rasulullah bukanlah mustahil. Umat terbaik dengan pola pikir serta pola sikap islami, jeli dalam memilah  produk hasil peradaban Barat yang merusak seperti berbagai slogan kebebasan atau bahkan moderasi beragama. Keduanya juga memiliki sikap tegas dalam memandang baik  buruk atau benar salah dengan timbangan syarak. Pada akhirnya, mereka mampu menjadi umat yang dirindukan surga. Wallahu a'lam bisshawab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar