Subscribe Us

BOARD OF PEACE BUKAN SOLUSI PALESTINA


 
Oleh Raihun Anhar, S.Pd.
(Aktivis Muslimah)
 

Vivisualiterasi.com - Trump membentuk sebuah perkumpulan untuk membahas perdamaian bagi Palestina yang diberi nama Board of Peace (BoP). Perkumpulan ini mengajak negara-negara lain untuk bergabung, tetapi Palestina sendiri tidak dilibatkan. Indonesia dan beberapa negara Arab termasuk di antara anggotanya.
 
Apa tujuan Board of Peace ini didirikan? Bukankah sudah ada PBB yang juga berusaha menyelesaikan permasalahan Palestina? Walaupun kita tahu bahwa sejatinya keduanya, baik PBB maupun BoP, tidak benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan Palestina. PBB menyarankan Two-State Solution (Solusi Dua Negara). Namun, kenyataannya Israel tidak menginginkan solusi itu. Netanyahu dengan jelas menyampaikan kepada media bahwa dia tidak ingin ada Palestina di sana (Aljazeera.com, 11/11/2025).
 
Dalam BoP, salah satu anggotanya adalah Israel, tetapi tidak dengan Palestina. Apakah perdamaian yang hendak dibahas hanyalah perdamaian untuk Israel? Padahal, bom terus dikirim ke pengungsian warga Gaza pada 4 Februari 2026 lalu. Pantaskah kita menyebut BoP sebagai Dewan Perdamaian Palestina? Sangat tidak pantas, bukan?
 
Bahkan, yang lebih disayangkan adalah sikap beberapa penguasa Muslim di dunia, termasuk Indonesia, yang ikut bergabung. Meskipun menurut Seskab Teddy, keanggotaan Indonesia dalam BoP bersifat sementara, dapat menarik diri kapan pun, dan belum membayar iuran Rp6,7 triliun (Kompas.com, 5/2/2026).
 
Memberikan kedamaian untuk Palestina sejatinya tidak membutuhkan BoP. Palestina hanya butuh pengusiran penjajah dari sana sehingga mereka bisa hidup damai sebagaimana dahulu pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, mereka hidup berdampingan, baik yang beragama Kristen, Islam, maupun Yahudi dengan damai tanpa ada pertumpahan darah.
 
Sejak tidak ada lagi kekhalifahan, Palestina tidak mendapat perlindungan dan kedamaian. Tidak ada pemimpin yang menyerukan pasukan untuk menolong mereka. Mereka dibunuh dengan sadis, bahkan ketika dunia marah pun masalahnya tak kunjung usai. Aksi demi aksi telah dilakukan seperti Freedom Flotilla hingga Global Sumud to Aqsa, namun tetap tidak selesai. Amerika Serikat sebagai penguasa dunia berada di kubu Israel, yang membuat dunia tak berdaya menyingkirkan Israel. Lalu, kekuatan apa yang bisa menyingkirkan penjajahan agar Palestina bisa hidup damai?
 
Kehadiran Hamas sebagai pejuang kemerdekaan Palestina membuat Israel kewalahan hingga kini belum berhasil menguasai Gaza. Israel dibantu Amerika Serikat dengan persenjataan, tetapi tetap tidak berhasil. Apalagi jika pasukan besar untuk mengusir penjajah itu dikomandoi oleh seorang pemimpin, sebagaimana dahulu pasukan jihad yang diutus Khalifah Umar ke Syam. Lalu, bagaimana mewujudkannya? Perlu adanya persatuan kaum muslim di seluruh negeri Muslim, sebagaimana bersatunya kaum Muhajirin dan Ansar hingga Syam dapat dibebaskan dari kezaliman Romawi.
 
Dalam sejarah juga telah terbukti bahwa Palestina bisa aman karena jihad di bawah komando Islam, bukan dengan pendirian dewan perdamaian atau solusi lainnya. Berharap pada Trump melalui Board of Peace tidak akan membebaskan Palestina dari penjajahan.
 
Rasulullah membebaskan Palestina diawali dengan dakwah mengajak Romawi masuk Islam. Walaupun ajakan itu diterima oleh Heraklius, ia tidak mau masuk Islam. Rasul kemudian mengutus pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid dengan misi membebaskan Syam. Perjuangan kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar hingga Umar sampai Syam masuk ke dalam wilayah Islam. Sikap Rasul inilah yang seharusnya dijadikan petunjuk bagi pemimpin Muslim sekarang dalam melawan penjajah. Sebagai Muslim, kita dianjurkan mengikuti Rasulullah sebagai role model, bukan Trump, dalam membebaskan Palestina.
 
Ingatlah firman Allah: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS al-Baqarah [2]: 120).
 
Jadi, solusi tuntas Palestina adalah jihad yang dikomandoi oleh satu kepemimpinan. Tidak hanya membiarkan Hamas dan warga Gaza saja yang berjuang. Palestina adalah kiblat pertama kaum Muslim sehingga tugas menjaganya bukan hanya kewajiban Hamas dan warga Gaza, melainkan seluruh kaum Muslim, terlebih lagi bagi penguasa yang memiliki otoritas untuk bertindak lebih dari itu. Ingatlah hadis ini:
 
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.’” (HR. Muslim, no. 49). Wallahualam bissawab. (dft)

Posting Komentar

0 Komentar