Oleh Ayu Winarni
(Muslimah NTB)
Vivisualiterasi.com - Sistem politik demokrasi yang dianut negeri-negeri muslim telah melahirkan kekacauan dalam segala sendi kehidupan. Sebab demokrasi ini lahir dari rahim sekularisme yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Karena dari perjalanan panjang dan latar belakangnya, sekulerisme akhirnya menemukan bentuknya pada abad ke 17 dengan berbagai definisi yang dikemukakan oleh Barat. Adapun kesimpulan dari definisi tersebut adalah bahwa sekularisme berspiritkan penolakan peran agama dalam urusan dunia.
Paham tersebut kemudian melahirkan berbagai bentuk tatanan dunia yang jauh dari nilai-nilai agama. Di bidang ekonomi telah melahirkan kapitalisme. Dimana kegiatan ekonomi digerakkan sebatas demi meraih keuntungan (materi). Dalam tatanan politik, kegiatan politik ditujukan sekedar demi jabatan dan kepentingan. Dalam tatanan budaya, terbentuk prilaku yang hedonistik, dimana budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Selain itu, sekularisme melahirkan kehidupan sosial yang egois dan individualis. Dalam hal beragama juga menyamaratakan semua agama.
Sekularisasi dalam Ruang Digitalisasi
Sekularisme ini seperti virus ganas yang mematikan. Jika virus mudah menular ketubuh yang memiliki sistem imun yang lemah, sekularisme ini pun demikian. Tidak adanya benteng keimanan yang kokoh membuat orang mudah terjebak pada prilaku yang jauh dari nilai agama. Bahkan, sekularisme ini semakin mudah untuk disebarkan di era digitalisasi yang kian pesat ini. Pemuda sebagai simbol kemajuan digitalisasi, tentu yang paling rentan terpapar virus sekularisme ini. Sekularisasi pemuda didunia digital menjadi problem serius generasi. Pasalnya, mereka tumbuh dalam era digitalisasi yang memberikan kebebasan berekspresi tanpa batas.
Sekularisasi pemuda dalam ruang digital ini tidak sedikit merenggut kehormatan dan jati diri sebagai seorang Muslim. Sangat disayangkan, ketika pemuda yang seharusnya menjadi agen perubahan dan control di tengah masyarakat justru terjebak pada arus yang diciptakan kafir penjajah. Ruang digital yang seharusnya menjadi ruang pengetahuan, namun kini telah bertransformasi menjadi ruang kendali prilaku.
Tidak hanya pemuda, kaum ibu pun terpapar virus sekularisme. Banyak para orang tua, khususnya para ibu yang mengalami degradasi peran sebagai pendidik generasi dan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Semuanya terjadi sebagai imbas dari penerapan sistem kapitalisme yang menilai semuanya dari materi. Sementara itu, perempuan yang tidak mandiri secara ekonomi akan dianggap sebagai beban bagi keluarga bahkan negara. Hal demikianlah yang menuntut para ibu turut berkarier baik di dunia nyata maupun di media sosial (sosmed) hingga mengabaikan peran strategisnya sebagai pendidikan generasi pembangun peradaban.
Digitalisasi di bawah hegemoni Barat kapitalis, tentu dirancang tidak hanya untuk kepentingan ekonomi tapi sekaligus menyebarkan ide-ide mereka ketubuh umat muslim. Melaui kebebasan dalam ruang digital, ide apapun itu bebas disebarkan hingga benar-benar diadopsi. Kita ketahui bagaimana gelombang arus budaya Barat masuk ke negeri-negeri Islam. Akibatnya, sedikit demi sedikit mempengaruhi cara berpikir dan berprilaku.
Memang, di satu sisi memberi kecepatan informasi terhadap pristiwa yang tersebar diberbagai belahan dunia tapi kecepatan informasi tersebut membuat otak tidak mampu memfilter antara informasi yang penting dan tidak. Sementara kita tahu, bahwa algoritma akan bekerja mengarahkan seseorang pada tontonan-tontonan yang serupa yang memberi dampak pada kelebihan dopamin sehingga membuat seseorang merasa candu untuk terus melakukannya. Sebuah riset dari Harvard menunjukkan bahwa dopamin yang dilepaskan otak saat seseorang menerima notifikasi media sosial hampir sama kuatnya dengan sensasi saat seseorang mendapatkan pujian di dunia nyata. Itulah sebabnya banyak orang menjadi “tergantung secara emosional” pada ponsel.
Hal inilah yang diinginkan terjadi pada pemuda dan kaum ibu sehingga mereka dijadikan sebatas objek komersial, sekaligus menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kaffah. Barat menginginkan agar peradaban Islam makin terkubur rapat dan ditakuti oleh anak-anak kaum muslim sendiri, termasuk perempuan. Dan inilah sesungguhnya yang menjadi persoalan dibalik berbagai isu yang diarahkan pada kaum perempuan muslim. Barat tidak ingin kaum muslimah dengan seluruh peran strategisnya, paham tentang tanggung jawabnya terhadap Islam.
Muslimah Wajib Mengambil Peran
Mengingat muslimah dengan berbagai peran strategis dan politisnya, maka keberadaan jamaah Islam ideologis di tengah-tengah masyarakat menjadi sangat urgen dalam mengaktifkan peran tersebut. Kebaradaan jamaah Islam Ideologis ini bertujuan dalam membina para ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian (syakhshiyyah) Islam dan siap diajak berjuang bersama-sama dalam menegakkan Islam yang kaffah. Seruan adanya sebuah kelompok dakwah di tengah-tengah masyarakat ini Allah sampaikan dalam firmanNya:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-Imran: 104)
Ayat ini menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi-misi ideologis dan tujuan perubahan sistemik. Caranya dengan meneladani cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengubah pola pikir umat yang telah dirasuki oleh pemikiran asing dengan pemikiran Islam. Kaum muslim harus membina dan menyebarkan pemikiran Islam yang yang sempurna di tengah-tengah masyarakat.
Dengan pembinaan ini, akan terbentuknya pemahaman Islam di tengah-tengah kaum muslim. Semua ini akan berpengaruh pada tingkah laku dan mendorong umat untuk siap diatur oleh hukum-hukum Islam dan senantiasa mengupayakan agar syariat Allah ditegakkan. Wallahu a'lam bish-shawab.[AR]


0 Komentar