Subscribe Us

DARI PENOLAKAN KE KEKERASAN : BUAH NORMALISASI BEBASNYA PERGAULAN



Oleh Hanum Hanindita, S.Si. 
(Penulis Artikel Islami)


Vivisualiterasi.com - Kasus pembacokan terhadap seorang mahasiswi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau saat menunggu sidang proposal mengejutkan publik. Pelaku yang merupakan sesama mahasiswa menyerang dengan senjata tajam hingga korban mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan. Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh persoalan pribadi setelah pelaku tidak terima cintanya ditolak saat keduanya mengikuti kegiatan KKN. (metrotvnews.com, 26-02-26). 

Kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam, sebab kampus yang seharusnya menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk menuntut ilmu justru diwarnai dengan tindakan kekerasan yang membahayakan keselamatan.

Pembentukan Karakter Generasi Yang Bermasalah

Peristiwa ini tidak dapat dipandang sebagai sekadar konflik individu antara dua orang mahasiswa. Dengan banyaknya kasus kekerasan yang melibatkan remaja dan pemuda dalam beberapa tahun terakhir seperti penganiayaan, perkelahian, hingga pembunuhan menunjukkan adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter generasi. Ketika persoalan emosional seperti penolakan cinta dapat memicu tindakan brutal, ini menandakan lemahnya kontrol diri dan rapuhnya fondasi moral dalam diri pelaku.

Sekularisme Melahirkan Kebebasan

Fenomena kekerasan dengan pelaku usia muda ini tidak terlepas dari pengaruh sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekularisme menjadikan agama hanya sebagai urusan pribadi yang tidak memiliki peran dalam mengatur kehidupan sosial. Dalam sistem seperti ini, nilai-nilai agama tidak lagi menjadi standar utama dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. Akibatnya, generasi tumbuh dengan standar kebebasan yang luas tanpa kontrol nilai halal dan haram.

Remaja didorong untuk mengekspresikan keinginan, perasaan, dan ambisinya secara bebas. Namun kebebasan tersebut tidak selalu diimbangi dengan pembinaan kepribadian yang kuat. Ketika emosi tidak terkendali dan keinginan tidak terpenuhi, sebagian orang dapat memilih jalan kekerasan sebagai bentuk pelampiasan. Dalam situasi seperti ini, akal sehat dan pertimbangan moral sering kali kalah oleh dorongan emosi yang meledak.

Dampak Normalisasi Pergaulan Bebas

Normalisasi pergaulan bebas ditengah masyarakat turut memperparah kondisi ini. Hubungan pacaran, kedekatan tanpa batas antara laki-laki dan perempuan, hingga relasi yang tidak jelas komitmennya sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup remaja. Media, lingkungan pergaulan, bahkan sebagian keluarga seringkali tidak memandang hal ini sebagai sesuatu yang bermasalah. Padahal hubungan semacam ini kerap memicu konflik emosional, kecemburuan, sakit hati, hingga dendam ketika hubungan tersebut berakhir.

Ketika penolakan cinta atau putusnya hubungan terjadi, sebagian orang tidak mampu menerima kenyataan dengan lapang dada. Rasa kecewa yang tidak terkelola dapat berubah menjadi kemarahan dan keinginan untuk melampiaskan dendam. Dalam kondisi mental yang tidak stabil dan tanpa kontrol moral yang kuat, konflik tersebut bisa berujung pada tindakan kekerasan bahkan pembunuhan. Inilah salah satu dampak dari normalisasi pergaulan bebas yang mengabaikan batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama.

Kapitalisme Pencetak Generasi Rapuh

Disisi lain, sistem Kapitalisme yang mendominasi kehidupan saat ini juga tidak menempatkan pembinaan generasi sebagai prioritas utama. Generasi muda lebih sering dipandang sebagai sumber daya manusia yang harus produktif secara ekonomi. Sistem pendidikan pun banyak diarahkan pada pencapaian akademik, keterampilan kerja, dan kompetisi didunia industri. Sementara pembentukan akhlak, penguatan iman, dan penanaman nilai moral seringkali tidak mendapat perhatian yang memadai.

Akibatnya lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam pengendalian diri dan ketahanan moral. Ketika menghadapi persoalan hidup, sebagian dari mereka tidak memiliki landasan nilai yang kuat untuk menentukan sikap. Dalam kondisi seperti ini, konflik kecil sekalipun dapat berkembang menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Islam Membangun Generasi Tangguh dan Ideal

Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam membangun generasi. Dalam ideologi Islam, pendidikan dibangun diatas dasar akidah Islam. Tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan individu yang pintar dan terampil, tetapi membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiah). Kepribadian ini terbentuk ketika seseorang memiliki pola pikir dan pola sikap yang selalu terikat dengan hukum syariat.

Sejak dini, generasi dididik untuk memahami bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi dihadapan Allah. Nilai halal dan haram dijadikan standar dalam bertindak, bukan sekadar mengikuti perasaan atau dorongan emosi. Dengan kesadaran ini, seseorang akan lebih mampu mengendalikan diri, menahan amarah, serta menyelesaikan masalah dengan cara yang benar.

Islam juga memiliki aturan yang jelas dalam mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Syariat melarang pergaulan bebas dan menutup segala jalan yang dapat mengarah pada zina. Interaksi antara laki-laki dan perempuan diatur agar tetap menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia. Dengan aturan ini, potensi konflik emosional yang dipicu hubungan tidak sehat dapat dicegah sejak awal.

Selain individu, keluarga memiliki peran penting sebagai tempat pertama dalam pembinaan generasi. Orang tua berkewajiban menanamkan akidah, akhlak, serta nilai tanggung jawab kepada anak-anaknya. Pendidikan dalam keluarga tidak hanya berfokus pada keberhasilan akademik, tetapi juga membangun karakter yang kuat dan kepribadian yang taat kepada Allah. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. Attahrim : 6)

Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sosial yang sehat. Dalam Islam terdapat konsep amar makruf nahi mungkar, yaitu kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ketika masyarakat memiliki kepedulian terhadap moralitas publik, perilaku menyimpang tidak akan mudah berkembang dan menular kepada generasi muda. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. Ali 'Imran: 104)

Di tingkat negara, Islam mewajibkan penguasa untuk menerapkan aturan syariat secara menyeluruh. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan…” (QS. Alma'idah:49)
Negara bertanggung jawab menyelenggarakan sistem pendidikan berbasis akidah Islam, menjaga kehidupan sosial dari nilai-nilai liberal yang merusak moral, serta menegakkan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan. Penegakan hukum Islam tidak hanya bertujuan memberikan hukuman, tetapi juga menciptakan efek jera dan menjaga keamanan masyarakat.

Dengan demikian, maraknya kekerasan di kalangan remaja menunjukkan adanya kegagalan sistem kehidupan saat ini dalam membina generasi. Islam menawarkan solusi yang komprehensif melalui pembinaan individu yang beriman, keluarga yang kuat, masyarakat yang peduli terhadap moralitas, serta negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh. Dengan penerapan nilai-nilai Islam secara utuh, diharapkan lahir generasi tangguh dan ideal, yakni generasi yang cerdas secara intelektual, berakhlak mulia, mampu mengendalikan emosi, dan menjauhi segala bentuk kekerasan. Wallahu'alam bishowab.[] ZDS

Posting Komentar

0 Komentar