Subscribe Us

NASIB PALESTINA, KAPANKAH BERAKHIR?


Oleh Syamsiar, S.S
(Pena Ideologis Maros)


Vivisualiterasi.com - Perilaku agresif Isr4el masih terus berlanjut sejak 7 Oktober 2023 hingga saat ini di tanah Palestina. Bentuk penindasan yang dilakukan yaitu serangan, pembunuhan, dan pencaplokan wilayah.

Baru-baru ini, Isr4el kembali menunjukkan watak anarkisnya dengan melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi di Palestina di tengah kecaman dunia internasional. Langkah ini secara nyata akan memperparah krisis kemanusiaan di Gaza dan wilayah pendudukan lainnya. Rencana tersebut bukan agenda di luar tindakan refresif mereka, melainkan bagian dari pola panjang penindasan sistematis terhadap rakyat Palestina.

Data korban terus bertambah, situasi kemanusiaan memburuk, dan akses bantuan semakin dipersempit. Namun respons global tetap berkutat pada pernyataan keprihatinan, kecaman normatif, dan desakan diplomatik yang berulang tanpa daya paksa. Selaras yang diwartakan oleh antaranews.com, bahwa Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina mengutuk keputusan sewenang-wenang Isr4el untuk membatalkan izin kerja 37 organisasi kemanusiaan internasional yang beroperasi di wilayah Palestina yang diduduki, khususnya di Jalur Gaza. Pasalnya, organisasi-organisasi tersebut memberikan dukungan kemanusiaan, layanan kesehatan, pendidikan, sanitasi, dan bantuan bagi warga Palestina.

Berbagai fakta yang terjadi memperlihatkan satu realitas pahit bahwa penderitaan Palestina tidak pernah benar-benar menjadi prioritas dunia internasional. Penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Isr4el tetap eksis sebagai entitas penjajah. Karena itu, membiarkan penjajah tetap eksis sama saja dengan membiarkan Palestina menderita selamanya. Setiap rencana penyelesaian yang tidak menyentuh akar masalah hanya akan menjadi jeda sementara bagi Isr4el untuk mengatur ulang kekuatan dan melanjutkan agresinya.

Ilusi Gencatan Senjata dan Solusi Ala Amerika

Berbagai tawaran penyelesaian yang dipimpin Amerika Serikat, yaitu mulai dari gencatan senjata, solusi dua negara, hingga berbagai paket diplomasi secara nyata justru memosisikan Palestina ke dalam jurang penderitaan yang lebih dalam. Gencatan senjata kerap berubah menjadi ilusi karena serangan tetap terjadi, blokade tetap diberlakukan, dan ekspansi permukiman terus berjalan.

Larangan terhadap organisasi kemanusiaan membuktikan bahwa ruang paling dasar yakni bantuan kemanusiaan pun, Isr4el tidakmenghormatinya. Maka, mengutuk dan mengecam Isr4el atau memohon agar mereka “berbaik hati” membuka akses bantuan jelas tidak cukup. Masalah Palestina bukan soal kurangnya empati Isr4el, melainkan karakter ideologis negara penjajah itu sendiri sehingga penjajahan tidak pernah punya hati, yang ada hanya kepentingan. Lantas, Bagaimana Islam memandang konflik di Palestina?

Palestina Bukan Sekadar Isu Kemanusiaan

Dalam perspektif Islam, persoalan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan atau konflik geopolitik, melainkan persoalan penjajahan atas tanah umat Islam. Palestina adalah tanah yang diberkahi, tempat suci umat Islam, dan bagian tak terpisahkan dari wilayah kaum Muslimin.

Di dalam Al-Qur’an, telah dikabarkan bahwa kerusakan dan kezaliman di muka bumi akan terus terjadi ketika manusia mengikuti hawa nafsu kekuasaan dan menjauh dari hukum Allah. Sebagaimana firman-Nya,

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)

Berbagai tindakan yang dilakukan Isr4el hari ini merupakan rangkaian perilaku yang dipandang sebagai manifestasi nyata dari konteks peringatan Al-Qur'an.

Islam juga memberikan panduan politik yang jelas bahwa umat Islam tidak boleh menyerahkan nasibnya pada kekuatan zalim atau sistem global yang terbukti gagal menghadirkan keadilan. Ketergantungan pada solusi yang dirancang oleh kekuatan global yang sejak awal menjadi pendukung politik dan militer penjajahan terutama Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina.

Khilafah sebagai Junnah

Islam memandang bahwa penderitaan Palestina baru akan berakhir ketika umat Islam memiliki kekuatan politik yang bersatu dan berdaulat, serta berfungsi sebagai junnah (pelindung) umat dan Rasulullah ï·º menyebutkan bahwa pemimpin sebagai perisai yang melindungi rakyatnya, bukan sekadar pengelola administrasi.

Sejarah Islam mencatat bahwa selama Khilafah berdiri, tanah Palestina berada dalam perlindungan umat Islam, dan tidak menjadi ajang penjajahan kekuatan asing. Hilangnya institusi politik pemersatu umat inilah yang membuka jalan bagi kolonialisme, termasuk berdirinya Isr4el.

Karena itu, seruan untuk membangkitkan kesadaran umat agar bersatu di bawah kepemimpinan Islam bukanlah seruan emosional, melainkan analisis ideologis atas sebab dan akibat sejarah. Selama umat Islam terpecah dalam negara-negara lemah yang tunduk pada kepentingan global, Palestina akan terus menjadi korban. Wallahu a'lam bisshowab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar