Oleh May Hanum Asmu’i
(Kontributor Vivisualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Kebutuhan manusia terhadap kemajuan teknologi merupakan hal penting yang tak dapat dipungkiri. Namun, bak pisau bermata dua, kebutuhan dan fungsi teknologi digital bisa menjadi bumerang bagi penggunanya. Menurut riset yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health (I-NAMHS), remaja dengan rentang usia 10-17 tahun dengan jumlah 15,5 juta jiwa selama 12 bulan terakhir mengalami masalah mental. Artinya, 1 dari 3 remaja di Indonesia, yakni 26% dari mereka mengalami gangguan kecemasan, ADDH (10,6%), Depresi (5,3%), gangguan prilaku (2,4%), PTSD 1,8%. Serta cyberbullying yang berujung pada hilangnya nyawa pengguna medsos.
Generasi dan Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi digital saat ini telah menjadi tolok ukur modernitas suatu bangsa. Berbagai negara berlomba dalam meningkatkan, memanfaatkan, serta menggali berbagai peluang yang merujuk kepada optimalisasi penggunaan platform digital. Sayangnya di tengah perkembangan teknologi digital, selain sisi positif dalam pemanfaatannya, turut berkembang pula sisi negatif yang berujung kepada penyalahgunaan medsos di tengah masyarakat. Berbagai tindak kriminal berbasis online seperti judol, scammer, pornografi, jerat pinjol di kalangan pelajar atau mahasiswa serta tren bunuh diri yang dipicu interaksi berlebihan melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI turut mewarnai problematika penggunaan teknologi informasi digital. Akibatnya, muncul fenomena Brainrot, yakni pembusukan otak yang ditandai penurunan kualitas berpikir yang parah pada generasi muda.
Sebagai pasar potensial, generasi muda merupakan sasaran empuk bagi kapitalisasi digital. Kehidupan sekuler semakin deras menghanyutkan kaidah berfikir islami secara masif, menyusup halus dalam berbagai konten dengan unsur pemahaman barat yang merusak. Hasilnya, kaum remaja merasa dituntut untuk memiliki gaya hidup, berperilaku, juga perbuatan serba bebas tanpa aturan. Algoritma dalam dunia digital menuntun mereka sedemikian rupa, menjeratnya dalam pusaran screen time berlebih. Hingga tanpa disadari kondisi yang rusak membentuk kepribadian mereka, setiap tahap kerusakan berjalan mulus tanpa penolakan. Bahkan kaum muda tanpa keraguan turut mengemban serta memperjuangkan nilai nilai batil ideologi kapitalisme barat. Jebakan pola algoritma yang mengacu pada ketertarikan pengguna. menjadikannya pribadi berangan tinggi tanpa tujuan pasti namun enggan berpikir mendalam tentang bermacam dampak bagi diri atau sekitarnya.
Di titik inilah pentingnya sinergi berbagai elemen umat dalam mewujudkan generasi betakwa dan tangguh dalam standar baku aturan Islam. Menciptakan kondisi yang sesuai bagi tujuan mulia hadirnya kembali kehidupan islami. Bersama individu, masyarakat serta negara yang berfungsi sebagai pilar penerapan aturan bersinergi, menanamkan sedini mungkin dalam diri kaum muda tentang kesadaran akan hubungan mereka sebagai makhluk bagi pencipta-Nya. Sehingga, generasi yang telah terbentuk pola pikir kritis dan mendalam maka baginya kecanggihan teknologi bukan lagi sebagai racun, melainkan sebagai wasilah dakwah penyebaran pemikiran islam di dunia digital.
Generasi yang Sadar
Melalui metode yang tepat, dunia digital dapat memberi kontribusi positif dan ruang bagi siapapun yang memiliki pola berfikir kritis. Publik tentu belum lupa bahwa media digital mampu membuka mata dunia tentang penderitaan Gaza. Lewat lisan jurnalis muda dengan gadgetnya yang mewartakan peristiwa secara langsung, hingga terbentuk opini kuat secara sporadis. Gerakan masif ini mampu memanaskan telinga siapa saja yang enggan beranjak dari kezaliman serta semena mena dalam menjalankan amanah. Pola berpikir kritis inilah yang akan menjadi tunas kebangkitan. Meski pada fase awal tunas rentan ini sangat memerlukan arahan serta pembinaan dengan kerangka pasti pada tujuan yang menyeluruh. Membuka pandangan generasi muda terhadap fakta berbagai permasalahan hidup masyarakat secara keseluruhan. Sembari tak lupa menekankan bahwa merekalah generasi harapan bagi masa depan Islam. Dengan pembinaan secara intensif akan muncul pada diri mereka, kesadaran dan keinginan untuk bergerak, berjuang bersama elemen umat mewujudkan suasana imani di sekitarnya.
Penting untuk digaris bawahi, pembinaan ini hanya dapat dilakukan oleh kelompok kolektif yang ikhlas. Membimbing dan membina generasi muda dengan landasan ideologi Islam yang sesuai dengan fitrah manusia. Kelompok atau jamaah tersebut mampu melebur di tengah masyarakat sebagai partai politik non parlemen yang shahih. Memiliki tujuan jelas dan terstruktur bagi kembalinya cahaya Islam sebagai rahmatan lil aalamin serta tujuan melanjutkan kehidupan Islam, yakni terealisasinya kabar gembira dari Rasulullah Muhammad saw.
Menyambut Bisyarah Rasulullah
Secara fitrah, manusia adalah makhluk lemah atau seorang hamba yang membutuhkan sesuatu tempatnya bergantung, meminta pertolongan serta pengagungan terhadap sesuatu yang lebih besar. Inilah yang kemudian disebut naluri beragama. Naluri ini secara alami tumbuh dalam diri manusia. Dengan pengarahan yang tepat naluri ini akan membentuk pribadi yang mampu bertanggung jawab dan sadar akan hubungan dirinya dengan pencipta, dengan dirinya sendiri juga hubungan dirinya dengan manusia lain. Pada lingkup ini manusia butuh penghubung antara dirinya dengan pencipta dialah Allah Swt. Karenanya Allah mengutus seorang Rasul sebagai penyampai aturan yang paling benar. Aturan yang akan menuntun manusia menjalani kehidupan sesuai perintahNya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad saw membimbing bukan saja para orang tua namun juga memberi porsi lebih kepada generasi muda, membina mereka menjadi pribadi takwa, tangguh memiliki kreativitas tinggi dalam balutan kuatnya aqidah Islam.
Pada masanya, dalam bimbingan Rasulullah di Daarul Arqam, lahir pemuda cerdas seperti Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin Umair, Zaid bin Haritsah, Anas bin Malik. Melalui generasi awal yang unggul inilah di kemudian hari lahir sosok pemuda penakluk Konstantinopel bernama Muhammad Al Fatih. Dengan kecerdasan dan ketaatannya mewujudkan bisyarah Rasul menguasai Byzantium Romawi timur. Sementara, bagi generasi saat ini masih tersisa harapan akan tugasnya menegakkan kembali kepemimpinan dalam sistem Islam yang berlandaskan Kitabullah dan Sunnah. Sistem kepemimpinan yang menerapkan Islam secara menyeluruh, menyelesaikan segala persoalan secara komprehensif dan sistemis.
Pengingat
Sistem kepemimpinan Islam atau Khilafah memiliki mekanisme jitu dalam memecahkan permasalahan umat, seperti halnya permasalahan konten konten negatif dari berbagai platform digital. Departemen penyiaran daulah Islam memiliki aturan dengan berlandaskan aturan islam yang bertujuan demi kemaslahatan umat. Daulah akan mengawasi secara ketat muatan yang terkandung dalam berbagai informasi yang ditujukan bagi masyarakat. Daulah juga berfungsi sebagai filter, mencegah apa yang akan merusak akidah dan membersihkan pengetahuan yang justru akan merusak aqidah atau meracuni pemikiran Islam. Daulah akan memberi ruang seluas luasnya bagi pengetahuan yang akan menambah ketaatan kepada Allah Swt. Dengan metode pendidikan Islam yang mengacu pada kemaslahatan umat maka khazanah keilmuan islam mampu berkembang bersama kemajuan teknologi. Memberi wadah bagi generasi muda untuk terus maju, berkembang sesuai zaman dalam koridor aturan islam sebagai umat terbaik.
Sebagai pengingat, Allah telah menurunkan Islam melalui wahyu yang diberikan kepada Rasulullah dengan begitu sempurna. Mengatur alam semesta, manusia dan kehidupan beserta segala solusi problematika yang melingkupi ketiganya. Permasalahan yang terjadi pada generasi muda tak lepas kesalahan manusia dalam menerapkan aturan. Politik demokrasi dalam kapitalisme yang dianut, memungkinkan manusia mengesampingkan aturan Allah dan menciptakan aturan baru demi kesepakatan politik. Melenggangnya berbagai platform digital dengan konten yang merusak adalah bukti lalainya negara dalam menjaga keamanan fisik maupun psikis
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110)
Maka jelaslah, dari ayat tersebut bahwa, sebagai umat terbaik semestinya memahami tujuan tertinggi manusia. Tiap individu hendaknya berperan aktif dalam posisinya. Berpegang teguh pada aturan Islam sebagai pribadi yang penuh ketakwaan berhati-hati dalam memilih dan memilah hal mubah sebagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi yang membawa pemahaman hasil peradaban Barat. Peran serta masyarakat sebagai kontrol yang memiliki standar baku aturan Islam sebagai batasan. Serta peran aktif negara sebagai perisai senantiasa melindungi akidah umat dari kerusakan sistem kufur diluar lingkup Islam dan turut berjibaku menyiapkan generasi terbaik. Generasi yang memperjuangkan islam hingga tersebar ke penjuru dunia, menjadikan Islam sebagai ruh perjuangan dan ideologi. Generasi yang benar-benar sadar bahwa keberadaanya menjadi harapan penghuni langit.
Wallahua'lam bisshawab.[AR]


0 Komentar