Subscribe Us

MENJADI IBU GENERASI IDEOLOGIS


Oleh Ima Husnul Hotimah
(Kontributor Vivisualiterasi Media) 


Vivisualiterasi.com - Hampir semua negeri muslim di dunia saat ini memang mengusung gagasan sistem demokrasi. Di mana sekularisme, liberalisme, dan pluralisme sebagai pemikiran yang diaminkan di negeri yang di dalamnya mengusung HAM. Sistem sekularisme berusaha menghalangi orang untuk mempertimbangkan akhirat dengan hanya berfokus pada kebebasan. Sebagaimana menurut Peter Berger, definisi sekularisasi adalah sebagai pemisahan antara agama dan kehidupan publik.

Sekularisasi merupakan proses kompleks yang mengubah peran agama dalam kehidupan masyarakat. Ini melibatkan pemisahan antara agama dan kehidupan publik, negara, serta lembaga-lembaga sosial. Sekularisasi mengakibatkan pengurangan peran agama dalam pengambilan keputusan dan kehidupan sehari-hari. Sekularisasi membuat sebagian masyarakat Muslim kehilangan nilai agama dan identitas diri, karena budaya Barat dan pengaruh negatif era modern semakin kuat. Akibatnya, moralitas dan pendidikan juga ikut melemah ketika nilai agama tidak dipadukan dengan ilmu pengetahuan. Dan berimbas pada kualitas generasi muda muslim, yang seharusnya memiliki peran penting dalam membuat gemilang kembali peradaban Islam.

Kepribadian Islam generasi muda muslim mulai terkikis. Tak ada lagi pola pikir dan pola sikap yang islami. Banyak dari generasi muda kita mengalami kesulitan dalam memahami jati diri mereka dan gagal menemukan solusi yang tepat untuk berbagai masalah kehidupan. Hal ini diperparah dengan datangnya fase baru society 5.0 yang ditandai dengan adanya teknologi yang canggih di setiap aspek kehidupan. Mulai dari kecerdasan AI, dan lain lain. Generasi Z - generasi yang lahir antara 1997-2011- kehidupannya tidak terpisahkan dari gawai, internet dan media sosial. Satu sisi , hal ini memberikan akses cepat dalam mendapatkan informasi. Namun satu sisi lainnya yang tak kalah menantang adalah adanya paparan hoax, cyberbullying, budaya instan dan krisis identitas. Cepat bosan, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, menyantap konten tanpa memilih yang dampaknya negatif. Yang mana pada akhirnya , meningkat pula kasus penyakit mental di kalangan remaja. 

Sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan negara telah menciptakan generasi muda yang kehilangan arah. Pendidikan yang tidak berlandaskan nilai-nilai agama dan moralitas ini, telah menghasilkan generasi yang individualistis dan materialistis. Mereka tidak memiliki landasan yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan. Sehingga rentan terhadap stres, depresi, dan gangguan mental lainnya. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa, karena generasi muda adalah penerus dan pemimpin masa depan, agent of change dan perubah kemajuannya suatu peradaban. Namun pengaruh buruk sistem sekulerisme ini tidak hanya menimpa generasi muda, melainkan orang tua (dewasa) juga. Karena tidak bisa dipungkiri, adanya generasi muda yang kehilangan arah ini, tidak terlepas dari pola asuh orang tua yang juga menjadi korban dari rusaknya sistem sekuler ini. Tidak sedikit kesehatan mental orang tua terganggu. Sementara berawal dari rumahlah, generasi muda kita bangkit dan berkarya. Kesehatan mental orangtua adalah fondasi penting dalam membangun keluarga bahagia dan melahirkan generasi muslim yang beriman, kuat dan tangguh.

Dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, tercatat 9,8 persen kelompok usia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional. Survei kesehatan Indonesia tahun 2023 juga menunjukkan 1 dari 5 orang dewasa pernah mengalami stres atau kecemasan signifikan. Angka ini menunjukkan tingginya risiko kesehatan mental, termasuk pada orangtua yang bertanggung jawab penuh pada pengasuhan anak-anak, terutama ibu. Kesehatan fisik dan mental ibu harus selalu terjaga. Mengapa ibu? Karena ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Peran ibu sangantlah fundamental dan tidak bisa diabaikan. 

Peran Ibu

Perlu kita ketahui bersama, bahwa menjadi Ibu itu tidak hanya sebagai pengasuh saja. Tapi juga harus menjadi sosok ibu yang ideologis. Dimana peran Ideal Ibu ideologis, selain mencetak generasi pemimpin dan penakluk yang tidak takut oleh apapun dan siapapun kecuali kepada Allah Swt., juga menjadikan generasi nya menjadi visioner, di mana visi mereka mampu menembus ke langit dan menuju surga. Menjadi ibu generasi ideologis pun, harus pandai dalam memadukan peran dirinya sebagai ibu dan melakukan kewajiban berdakwah yang didasari oleh kesadaran politik yang tinggi dalam menyiapkan generasi ideologis. Di mana, dengan kesadaran politik yang tinggilah, seorang ibu mampu memberi nyawa dan menghiasi perannya sebagai ibu dengan cita-cita besar memimpin umat.

Beberapa contoh ibu ideologis di masa para Nabi, Sahabat dan masa kekhilafahan Islam, antara lain :
1. Siti Hajar (Ibu Nabi Ismail) : Mendidik dengan sabar dan penuh kasih sayang, serta menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Allah. 
2. Fatimah binti Asad (Ibunda Ali bin Abi Thalib) : Mendidik Ali dengan nilai-nilai keimanan, kesabaran dan keberanian. 
3. Ummu Darda : Mendidik Bilal bin Abdullah menjadi seorang ulama dan ahli ibadah yang terkenal. 
4. Fatimah binti Abdul Malik : Ibu Imam Syafi’I, mengantarkan anaknya menjadi ulama dan ahli fikih. 
5. Shalahuddin Al Ayyubi : Mendapatkan peran dari kedua orangtuanya dan gurunya sehingga bisa mengantarkan nya untuk membebaskan Al-Aqsa. 
6. Muhammad Al Fatih : Mendapatkan peran besar dari orangtua dan gurunya, sehingga bisyarah Rasul tentang penaklukkan Konstantinopel tercapai di tangannya.

Ibu-ibu sahabat ini tidak hanya menjadi teladan dalam pendidikan, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik dan sosial, yang menunjukkan betapa pentingnya peran ibu dalam menciptakan generasi yang berkontribusi bagi peradaban Islam.

Tantangan Peran Ibu di Sistem Sekuler

Serangan pemikiran dan budaya barat, seperti : kesetaraan gender, HAM, Moderasi beragama, telah menciptakan lingkungan yang rusak untuk generasi muda kita. Belumlah lagi serangan dunia digital yang bisa meracuni pemikiran generasi muda kita, jika kedua orang tua khususnya ibu yang merupakan madrasatul uula tidak membentengi dengan keimanan. Ditambah dengan adanya penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang membuat peran perempuan semakin berat. Banyak di antara wanita dalam hal ini ibu, yang harus bekerja memenuhi kebutuhan asasi keluarga dikarenakan sistem ekonomi kapitalisme yang menghimpit. Yang mengakibatkan tidak dijalankannya peran ibu dengan maksimal.

Namun, dengan adanya tantangan yang ada saat ini, bukan berarti seorang ibu menyerah dengan keadaan dan tidak berupaya untuk mencetak generasi berkualitas. Harus ada sinergi untuk melakukan perubahan besar dalam merealisasikan tugas ini. Dengan cara :
1. Menetapkan visi pendidikan bagi anak-anaknya sebagai abdullah (hamba Allah), untuk menjadi khalifah fil ardh dan khairu ummah.
2. Ibu juga harus bisa menjadi teladan bagi putra putrinya. 
3. Harus dibarengi upaya mengubah sistem kapitalisme sekuler yang rusak dan merusak dengan sistem yang benar dan mensejahterakan, yakni sistem Islam. Karena apalah artinya sistem dan manajemen keluarga yang baik ,jika sistem kapitalis sekulerisme masih bercokol di negri ini. Di mana sistem itu mengabaikan nilai nilai Islam dan menjadikan manusia menjadi budak dunia. Tanamkan pada diri generasi muda kita visi dan misi akhirat. Di mana semua aktivitas di muka bumi ini hanya washilah dan jembatan untuk meraih ridho Allah dan menggapai syurgaNya.

Wallahua'lam bishowab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar