Subscribe Us

KERAKUSAN MANUSIA, ALAM PUN MUAK




Oleh Mulyaningsih
(Pemerhati Masalah Anak & Keluarga) 


Vivisualiterasi.com - Berita duka kembali hadir dan menoreh luka mendalam pada negeri ini. Sebelum pergantian tahun, negeri ini dilanda banjir bandang serta tanah longsor di beberapa tempat di provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Tak sedikit korban berjatuhan, hingga sampai saat ini wilayah bencana masih belum bisa pulih.

Tak sampai di sana, banjir pun melanda beberapa wilayah di provinsi Kalimantan Selatan. Sebelumnya wilayah Cirebon juga mengalami banjir serupa. Sudah berapa banyak kerugian yang diterima oleh masyarakat, tak hanya harta benda yang hilang namun nyawa juga menjadi taruhan. 

Dikutip dari salah satu laman nasional menyebutkan bahwa banjir bandang yang paling banyak memakan korban terjadi di Sumatra. Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), perkembangan terbaru korban bencana di Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), dan Aceh jumlah korban jiwa 1.138 jiwa. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan masih ada orang hilang sekitar 163. (detikNews.com, 27/12/2025) 

Kejadian demi kejadian itu seharusnya menjadi muhasabah serta evaluasi besar-besaran. Mengapa bisa terjadi sampai separah itu? Bahkan di tempat bencana banyak ditemukan kayu gelondongan lengkap dengan nomor urutnya. 

Indonesia adalah salah satu negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi di beberapa waktu. Apalagi mendekati akhir tahun tentunya menjadi hal wajar jika curah hujan menjadi lebih tinggi. Dengan begitu, curah hujan tinggi seharusnya tak bisa menjadi kambing hitam atas banjir yang melanda di beberapa wilayah di atas. Apalagi fakta membuktikan bahwa air ternyata telah jujur mengangkat informasi di lapangan. Bahwa tanah sudah tak mampu lagi menahan aliran air yang begitu derasnya karena tak ada lagi yang menahannya (baca: pohon). Bahkan, sebagaimana yang disebutkan di atas, kayu gelondongan telah memenuhi beberapa wilayah termasuk di pantai. 

Jika kita pikirkan secara mendalam, bahwa bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar merupakan hasil ulah tangan manusia. Mengapa demikian? Karena banyak pohon yang telah ditebang sehingga hutan menjadi gundul dan tak mampu lagi menahan debit air yang banyak. Dari data citra satelit menyebutkan bahwa luas hutan yang ada terjadi penurunan signifikan di bagian hulu. Sehingga wajar saja jika debit air dari hujan akan langsung turun ke wilayah di bawahnya. Ini berarti perizinan untuk alih fungsi hutan sangat mudah. Karena dari data yang ada hutan menjadi semakin sempit. Dan alih fungsi hutan dijadikan perkebunan sawit menjadi hal yang benar adanya. Padahal semua paham bahwa hutan tak bisa digantikan dengan sawit karena dalam hutan mempunyai pohon yang beragam jenis. Dan fungsi dari pohon sendiri adalah sebagai penahan air agar tidak langsung jatuh ke wilayah bawah atau pemukiman warga. 

Semua itu tentunya akibat sistem yang sangat mudah memberikan izin kepada para pengusaha untuk mengambil alih kuasa hutan. Padahal hutan ini begitu banyak fungsinya untuk kehidupan manusia, selain penghasil oksigen pohon juga menjadi rumah bagi jenis satwa yang tinggal di sana. Jika pohonnya di tenang, maka kita bisa mengerti apa yang akan terjadi kemudian. Ya, salah satunya adalah bencana banjir serta tanah longsor yang telah melanda di wilayah Aceh, Sumut serta Sumbar. Begitu besar fungsi hutan (baca: pohon) bagi kehidupan manusia dan hewan. Kembali lagi, bahwa sistem yang ada saat ini selalu saja mengacu pada kebermanfaatan serta menumpuk cuan. Tak lagi memandang bahwa adalah kerusakan yang ditimbulkan dan membahayakan bagi manusia. Yang penting jika ada keuntungan maka pasti akan dipermudah jalannya. Ini menjadi indikasi bahwa negara tampaknya hanya berpihak pada masyarakat segelintir (baca: pemilik modal), sementara rakyat sesungguhnya tidak dipedulikan. Inilah watak yang berhasil dilahirkan oleh kapitalisme sekuler, membuat manusia haus akan kekayaan semata. Hidup hanya bertujuan untuk menumpuk harta saja. 

Tentu akan berbeda ketika Islam memandang kasus di atas. Bahwa bencana yang datang memang dari Allah Swt. namun harus dicari adalah pemicu yang menimbulkan sampai terjadinya bencana besar. Jika ada ulah manusia maka inilah yang harus dievaluasi. Karena Islam punya aturan tersendiri bagaimana ketika manusia menjalani kehidupan di dunia. Termasuk pada pengelolaan hutan, bahwa Islam mempunyai pandanga terkait dengan kepemilikan. Dan ini harus dijalankan sesuai dengan aturannya, jika tidak maka niscaya akan terjadi bencana atau musibah bagi manusia itu sendiri. 

Sebagimana hutan, maka termasuk dalam kepemilikan umum dan wajib bagi negara untuk mengelolanya dengan baik. Termasuk pula untuk menjaganya agar tetap asri dan mampu menjadi rumah bagi hewan yang ada di sana. Sehingga negara mempunyai amanah besar untuk mengoptimalkan hutan dengan baik tanpa merusaknya. Dan hasilnya akan dikembalikan kepada kemaslahatan umat. Itulah konsep jelas yang ada di dalam Islam, sehingga meminimalkan peran individu atau kelompok untuk menguasai kepemilikan umum karena kembali bahwa hukumnya haram dimiliki kecuali pengelolaan di tangan negara.

Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput, air, dan api. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Sebagaimana hadis di atas bahwa padang rumput, termasuk hutan di dalamnya menjadi bagian dari kepemilikan umum. Artinya, milik kaum muslim dan tidak boleh individu atau kelompok, baik asing atau lokal untuk mengeksploitasinya atau memanfaatkannya untuk kemaslahatan dirinya sendiri. 

Alhasil, negara harus turun tangan sendiri untuk benar-benar menjaga serta mengelolanya dengan baik. Tentunya harus merujuk pada hukum syarak, yaitu mewujudkan kemaslahatan umat. Agar keberkahan itu bisa kita dapatkan serta roda Allah akan kita terima. Semua itu bisa terjadi ketika Islam hadir dan terterapkan dalam kehidupan dunia dalam bingkai institusi Daulah Islam. Wallahu a'lam.[AR]


Posting Komentar

0 Komentar