Oleh Atika Ma’rifatuz Zuhro
(Muslimah Peduli Generasi)
Vivisualiterasi.com - Isra' Mi'raj pada bulan Rajab adalah peringatan yang istimewa bagi umat Islam mengingat kisah perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha dan turunnya perintah sholat. Selain itu, Isra' Mi'raj bukan hanya perjalanan spiritual yang menjadi bukti mukjizat, di dalamnya menegaskan bahwa Islam merupakan ideologi yang memimpin kehidupan manusia di bawah kepemimpinan global.
Di samping itu, ada beberapa pelajaran bagi umat Islam di dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, yaitu kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah dilihat dari ketakwaan dan kepatuhannya pada Allah, perjuangan dalam berdakwah, keberanian menyampaikan kebenaran meskipun banyak penolakan, persatuan umat di bawah kepemimpinan ajaran tauhid, keistimewaan Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam, kesucian agama Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, kedudukan sholat sebagai tiang agama dan sarana komunikasi kepada Allah, serta penguatan iman dan keyakinan yang tidak tergoyahkan. (Liputan6.com, 10/01/26)
Oleh karena itu, perintah sholat merupakan salah satu pesan inti dalam Isra’ Mi'raj. Sholat merupakan satu-satunya ibadah yang diwajibkan secara langsung kepada Rasulullah saw, yang berarti kedudukan sholat sebagai pondasi utama membentuk pribadi bertaqwa yang siap memikul amanah besar kepemimpinan.
Tepat setelah peristiwa Isra’ Mi'raj diikuti peristiwa bai'at Aqobah 2 dalam perjalanan nabi hijrah ke Madinah lalu mendirikan negara Islam, dalam arti peristiwa ini bukan hanya momen spiritual melainkan gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis. Namun, setelah runtuhnya khilafah selama 105 tahun umat tidak lagi menerapkan syariat Islam secara kaffah di penjuru bumi.
Saat ini hikmah Isra' Mi’raj baru dimaknai dengan perintah ibadah sholat sebagai ibadah mahdhah saja, padahal shalat adalah kinayah yang dipakai dalam hadits larangan memerangi Imam selama masih menegakkan shalat, yang bermakna menegakkan hukum Allah.
Runtuhnya Khilafah adalah bencana besar bagi umat, setelahnya dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalis global. Terbukti, kepemimpinan ini menyebabkan kedzaliman sistematis karena tidak berdiri di atas risalah wahyu, sistem ini berasaskan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang menjadikan materi, modal, dan kekuasaan menjadi pengendali utama penguasa dari sistem ini.
Nyatanya, kapitalisme tidak hanya zalim, tetapi juga sistem yang gagal, terbukti dari sejarah kepemimpinan dunia saat ini. Negara yang menganut sistem ini melahirkan pemimpin yang arogan, dan sering membuat kebijakan ngawur tanpa memikirkan kepentingan umat. Sistem ini juga gagal menghadirkan keadilan dan stabilitas, justru memicu krisis kepercayaan umat kepada penguasa.
Umat saat ini belum menyadari bahwa diterapkannya sistem kapitalisme global merupakan penentangan terhadap hukum Allah. Sebab, ketiadaan kemimpinan Khilafah menyebabkan penyelesaian urusan umat tidak didasarkan pada syariah Islam. Negeri-negeri Islam yang kaya raya dirampok dan dijajah, seperti Sudan dan Palestina. Ketika syariat Islam tidak diterapkan, maka kekayaan alam milik umat dirampok dan dirampas oleh perusahaan-perusahaan kapitalisme global yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lokal. Ini menyebabkan bencana politik ekonomi stuktural, bencana sosial kemanusiaan, dan bencana alam. Demikian juga kemiskinan meluas di seluruh dunia.
Ketiadaan Khilafah di tengah-tengah umat menyebabkan umat kehilangan pelindungnya, karena seorang pemimpin (kholifah) berperan sebagai al-junnah.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِه
"Sesungguhnya imam/khalifah adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung." (HR. Muslim)
Ideologi Islam tentu saja bertolak belakang dengan kapitalisme. Ideologi Islam tidak membenarkan penjajahan, perampasan sumber daya alam, maupun pembunuhan massal untuk kepentingan politik dan ekonomi. Seperti saat ini, penjajahan Palestina sebagai tanah yang dipijak saat perjalanan Isra’ Mi'raj oleh Nabi saw yang telah berada dalam genggaman entitas yahudi harus segera dibebaskan. Demikian juga negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan, dan kezaliman penguasa kafir pada minoritas muslim di India, Uighur, Rohingya, harus dihentikan. Dengan cara menyerukan kepada tentara muslim dunia untuk membebaskan Palestina dan segera menegakkan Khilafah.
Rajab dan Isra’ Mi’raj adalah momen untuk membumikan hukum Allah dan mencampakkan kepemimpinan kapitalisme di dunia, dan menegakkan syariat Islam kaffah.
Allah Swt berfirman:
يَا أيُّها الذِينَ آمنُوا أُدْخُلُوا فى السِلْمِ كافَّة
"Wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam IsIam secara menyeluruh.” (TQS. Al-Baqarah: 208)
Dalam Islam, pemimpin adalah pelayan umat, dan penjaga hukum-hukum Allah. Oleh sebab itu, kepemimpinan Islam secara global melalui kepimpinan Khilafah merupakan solusi peradaban, bukan alternatif. Inilah mengapa kepemimpinan Islam secara global adalah ancaman bagi kapitalis, karena Islam memenawarkan tatanan dunia alternatif yang adil, dan menghadirkan sosok pemimpin yang amanah menjalankan hukum-hukum Allah, bukan tunduk kepada hukum buatan manusia.
Selain kewajiban sholat lima waktu, Isra’ Mi'raj mempunyai pesan kepada umat di seluruh dunia untuk senantiasa berjuang menegakkan kembali Khilafah, partai dakwah ideologis siang dan malam telah bersungguh-sungguh memimpin dan menuntun umat untuk kembali kepada kehidupan IsIam. Umat Islam sebagai umat Rasullulah, umat Khulafaur rasyidinrasyidin, cucu Almu'tashim, cucu Salahuddin Alayubi, cucu Alfatih, cucu khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, cucu khalifah pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam.
Demikianlah, hanya dalam kepemimpinan Islam, maka keadilan, keamanan, kesejahteraan umat bisa terjamin. Kemudian hanya dengan penerapan hukum-hukum Allah, kehidupan Islam bisa kembali dilanjutkan. Wallahu a'lam bisshawab.[AR]


0 Komentar