Oleh Dewi Sartika
(Penggiat Literasi)
Vivisualiterasi.com - Setiap bangsa tentu menginginkan generasi terbaik sebagai generasi penerus. Namun, berbagai persoalan serius tengah menimpa generasi hari ini, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, LGBT, dan berbagai penyimpangan lainnya. Kondisi ini diperparah dengan munculnya klasifikasi generasi, seperti Generasi X, Y, Z, Alfa, dan Beta, atau yang dikenal dengan istilah generation gap (kesenjangan generasi) serta communication gap (kesenjangan komunikasi). Semua ini semakin diperuncing oleh sistem kapitalisme yang mendominasi kehidupan global. Akibatnya, tercipta pertentangan antara generasi muda dan generasi tua.
Asal Usul Generation Gap dan Communication Gap
Istilah generation gap menguat di Barat, khususnya pascaperang Dunia II, dan semakin populer pada dekade 1960–1970-an. Hal ini terjadi ketika muncul perbedaan tajam antara generasi tua dan generasi muda dalam pandangan politik, seperti penolakan terhadap Perang Vietnam, serta perbedaan budaya, termasuk musik, gaya berpakaian, seksualitas, dan sistem nilai terkait otoritas, keluarga, serta agama.
Menurut Mannheim (1952) dalam The Problem of Generation, perbedaan pengalaman historis membentuk kesadaran generasi. Artinya, setiap generasi memiliki “lensa” yang berbeda dalam memandang dunia. Namun, istilah ini kemudian digunakan secara masif oleh media dan industri untuk mengelompokkan masyarakat ke dalam kategori Baby Boomer, Generasi X, Milenial, Generasi Z, dan seterusnya, lengkap dengan pelabelan karakter tertentu pada masing-masing generasi.
Pengertian Generation Gap dan Communication Gap
Generation gap adalah perbedaan cara pandang, pola pikir, penilaian terhadap persoalan, sikap, dan gaya hidup antara generasi tua dan generasi muda. Perbedaan ini muncul akibat perbedaan pengalaman hidup, perkembangan teknologi, serta kondisi sosial pada masing-masing masa. Dampaknya adalah munculnya kesalahpahaman, konflik pendapat, serta kesulitan dalam membangun saling pengertian antargenerasi.
Sementara itu, communication gap adalah kesenjangan dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan. Kesenjangan ini dapat disebabkan oleh perbedaan bahasa, cara berkomunikasi, budaya, emosi, maupun media yang digunakan. Communication gap dapat terjadi dalam lingkup keluarga, organisasi, pendidikan, maupun masyarakat luas. Teknologi dan digitalisasi sering kali disebut sebagai pemicu utama.
Jika kondisi ini dibiarkan, akan muncul ketidaksinkronan komunikasi, kesalahpahaman antargenerasi, perbedaan standar moral, ketidakselarasan visi dan misi hidup, serta konflik dalam pengasuhan dan pendidikan. Nilai-nilai orang tua tidak lagi dianggap sebagai otoritas, bahkan dipandang tidak relevan.
Bahaya Generation Gap dan Communication Gap
Jika narasi generation gap dan communication gap diadopsi secara mentah oleh kaum muslim, hubungan antara generasi tua dan generasi muda seolah-olah terputus, bahkan sengaja diputus.
Dalam bidang pendidikan, kedua narasi ini berpotensi melahirkan generasi yang terputus dari tsaqafah, solusi, dan peradaban Islam dengan alasan bahwa pendidikan masa lalu dianggap tidak relevan. Padahal, pendidikan Islam menekankan kesinambungan nilai lintas generasi, bukan pemisahan. Hubungan antargenerasi merupakan amanah, bukan ajang kompetisi untuk saling melemahkan.
Narasi ini juga melemahkan otoritas moral orang tua dan guru. Nilai-nilai lama dicitrakan sebagai sesuatu yang usang, padahal dalam Islam, adab menuntut penghormatan kepada yang lebih tua serta pewarisan hikmah secara bertahap. Media modern justru menanamkan gagasan bahwa generasi tua tidak relevan di era digital, sehingga sumber otoritas bergeser dari keluarga dan ulama kepada influencer dan algoritma.
Lebih jauh, narasi ini menjadi sarana dekonstruksi nilai transgenerasional Islam. Ketika generasi muda merasa terpisah dari generasi tua, maka warisan ilmu, adab, dan tradisi keilmuan tidak lagi tersambung; sanad keilmuan pun terputus. Orientasi pendidikan bergeser dari pembentukan kepribadian Islam menjadi sekadar pelatihan keterampilan demi produktivitas ekonomi, padahal risalah Islam wajib diwariskan hingga generasi terakhir.
Potensi Generasi dan Tantangan di Era Digital
Teknologi ibarat pisau bermata dua. Ia dapat menghadirkan manfaat besar jika digunakan dengan benteng keimanan yang kuat, tetapi juga dapat menjerumuskan ke dalam kesesatan dan kehancuran jika digunakan tanpa pengawasan dan ketakwaan.
Kemajuan teknologi bersifat keniscayaan. Namun, di bawah sistem kapitalisme global, teknologi justru menjadi ancaman serius. Ruang digital dipenuhi konten destruktif, seperti pornografi, pornoaksi, perundungan siber, pinjaman daring, judi daring, penistaan agama, serta gaya hidup liberal. Semua ini secara perlahan mengikis keimanan dan merusak identitas generasi muslim. Inilah dampak teknologi yang tidak diatur oleh ideologi Islam.
Amanah Generasi Tua kepada Generasi Muda
Anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang membentuk arah keyakinannya. Oleh karena itu, orang tua memikul amanah besar untuk melahirkan generasi Islami dengan menanamkan pendidikan akidah sejak dini dan memahamkan bahwa manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt.
Allah berfirman:
> “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)
Pendidikan dalam keluarga membentuk kepribadian yang lurus sesuai fitrah. Fitrah manusia adalah mentauhidkan Allah dan beragama Islam secara benar. Namun, banyak manusia menyimpang karena pengaruh lingkungan dan sistem yang rusak. Oleh sebab itu, manusia diperintahkan untuk kembali kepada fitrahnya.
Allah berfirman:
> “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Pola asuh yang benar akan melahirkan generasi yang tangguh, kuat, dan berkualitas. Orang tua wajib mempersiapkan generasi yang kuat, baik secara fisik, psikis, maupun ekonomi.
Allah berfirman:
> “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.”
(QS. An-Nisa: 9)
Ayat ini menegaskan pentingnya ketakwaan, kejujuran, dan keadilan agar lahir generasi yang kuat dan tidak tertindas, termasuk dalam aspek pendidikan dan pengasuhan.
Amanah selanjutnya adalah menjadikan anak sebagai pejuang agama Allah, penegak amar ma’ruf nahi mungkar, kokoh dalam kebenaran, serta penghancur kebatilan di mana pun berada.
Amanah Generasi Muda
Generasi muda adalah:
Pengubah peradaban
Pemimpin kebangkitan umat
Pilar bangunan peradaban
Penegak kebenaran dan pengoreksi kemungkaran
Pengemban risalah Islam ke seluruh alam
Strategi Mengatasi Communication Gap Antargenerasi
Prinsip komunikasi yang diperintahkan dalam Islam:
1. Qaulan sadida: perkataan yang benar, tegas, dan jujur
2. Qaulan ma’rufa: perkataan yang baik dan tidak menyakiti
3. Qaulan layyinah: perkataan yang lembut dan penuh hikmah
4. Qaulan baligha: perkataan yang membekas dan menyentuh hati
5. Qaulan karima: perkataan yang hormat dan penuh kasih sayang
Prinsip komunikasi yang dilarang:
1. Berdusta dan memfitnah; diwajibkan tabayun dan klarifikasi
2. Berkata kasar, kotor, mencela, termasuk perundungan dan merendahkan
3. Ghibah dan namimah (adu domba)
Dengan demikian, untuk mewujudkan dua generasi dalam satu amanah—taat kepada Allah dan menegakkan Islam secara kaffah—diperlukan keteladanan dari orang tua serta menjadikan Rasulullah ï·º sebagai teladan utama.
> “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Menyelamatkan generasi adalah kewajiban setiap muslim agar mereka siap menjadi penolong agama Allah.
> “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)
Wallahu a’lam bish-shawab.(Dft)


0 Komentar