Subscribe Us

SOLUSI HAKIKI ATAS DERITA GAZA YANG MAKIN MENINGKAT



Oleh Ummu Saibah 
(Kontributor Vivisualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Sudah hampir dua tahun saudara-saudara kita di Gaza menderita akibat peperangan, pendudukan ilegal penjajah Isr4el terus menyerang dengan senjata-senjata modern, meluluh lantahkan kota. Tidak hanya itu, Isr4el bersama sekutunya memblokade bantuan yang dikirim dari penjuru dunia, sehingga rakyat Gaza mengalami kelaparan akut. Sungguh kekejaman yang seolah dinormalisasi oleh para pemimpin jazirah Arab di sekitar Gaza.

Bahkan baru-baru ini, serangan pasukan Isr4el kembali dilancarkan selama berminggu-minggu di pinggiran kota Gaza bagian Utara, serangan tersebut dilakukan setelah perdana Menteri Isr4el, Benjamin Netanyahu laknatullah memerintahkan militer merebut kota tersebut. (Republika.co.id, 6/9/2025)

Diamnya para pemimpin dunia terutama di sekitar Gaza terhadap bencana kemanusiaan yang terjadi di sana membuat penduduk dunia geram, setelah mereka sadar tidak bisa mengandalkan para pemimpin, maka tercetuslah ide untuk bersama-sama melakukan aksi kemanusiaan, kali ini dilakukan melalui laut. Inisiatif ini dinamakan Global Sumud Flotilla (GSF).

Walaupun gerakan ini sudah sering dilakukan sejak tahun 2010, namun Flotilla kali ini disebut terbesar dalam sejarah. GSF memiliki 50 kapal dari 44 negara. Para aktivis, jurnalis, tenaga medis hingga politisi dan public figure berangkat tanpa takut bahaya mengancam. Tujuan pergerakan ini adalah menembus blokade Gaza, membawa misi kemanusiaan dan pesan politik. (rri.co.id, 02/09/2025)


Penjajah makin Brutal, Gaza makin menderita

Kejahatan zionis semakin meningkat, menurut data kumulatif otoritas kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023, korban jiwa sudah mencapai 63.459, sedangkan 160.256 orang luka-luka. Dan sampai sekarang serangan otoritas Isr4el masih terus terjadi. Mereka meledakkan alat peledak di lingkungan sipil bahkan di zona pengungsian, menimbulkan korban jiwa dan luka-luka juga meratakan bangunan menjadi puing-puing. Lebih miris lagi serangan mereka juga menargetkan para jurnalis. Sejauh ini sudah 247 jurnalis gugur. Sungguh kebrutalan yang luar biasa. (Buletin kaffah, 03/09/2025)

Kekejaman Isr4el lainnya adalah blokade terhadap bantuan kemanusiaan yang menyebabkan terjadinya kelaparan akut warga Gaza. Tercatat 900.000 anak di Gaza saat ini mengalami kelaparan, 70.000 orang mengalami malnutrisi klinis dan mengakibatkan 387 orang meninggal, termasuk 138 di antaranya anak-anak. (Antaranews.com, 08/09/2025)

Sepertinya penderitaan warga Gaza akan terus berlangsung. Pasalnya, dukungan yang diberikan Amerika Serikat terhadap Isr4el semakin besar, seperti pernyataan presiden AS Donald Trump bahwa ia tidak menghalangi rencana Isr4el untuk mengambil alih Gaza. Washington memberi Isr4el miliaran dolar setiap tahun dan meningkat secara signifikan sejak 7 Oktober 2023. Dukungan negara adidaya tersebut membuat Isr4el semakin brutal, mengubah 86% wilayah Gaza menjadi zona militer. (Republika.id, 07/08/2025)

Dukungan Masyarakat Dunia terhadap Gaza

Media sosial sangat berperan penting dalam menghadirkan fakta yang terjadi di Gaza, membuka mata dunia bahwa penjajah sesungguhnya adalah Isr4el. Sontak masyarakat dunia tidak tinggal diam melihat bencana kemanusiaan terjadi di Gaza, bantuan kemanusiaan mulai dikirim dari seluruh penjuru dunia baik berupa pangan, obat-obatan maupun perlengkapan lainnya. Namun sayang, kontainer-kontainer bantuan tersebut tertahan dan menumpuk di depan pintu perbatasan Rafah menunggu otoritas Mesir-Isr4el membuka perbatasan.

Bantuan diblokade oleh otoritas Isr4el, masyarakat dunia tidak tinggal diam, boikot produk yang terafiliasi dengan Isr4el dilakukan secara serentak bahkan membuat beberapa perusahaan merugi. Boikot ini berbarengan dengan maraknya aksi unjuk rasa menuntut dihentikannya Genosida di Gaza yang digelar di seluruh negara di dunia, namun tuntutan itu hanya sampai pada sidang PBB dan gagal setelah di-veto oleh Amerika Serikat dan sekutunya. 

Masyarakat dunia yang gerah karena tuntutan mereka kandas di meja PBB akhirnya melakukan long March menuju perbatasan Rafah, pergerakan yang menyatukan para relawan dan aktivis di seluruh dunia ini disebut _Global March to Gaza_ dan puncaknya terjadi pada 15 Juni 2025. Tujuannya untuk menembus blokade di perbatasan Rafah dan menyalurkan bantuan ke Gaza. Namun aksi ini pun tidak mampu menembus blokade. Dan baru-baru ini pergerakan solidaritas untuk Gaza kembali dilakukan melalui laut, pergerakan yang diberi nama _Gaza Sumud Flotilla_ (GSF) ini memiliki tujuan untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza dan meneruskan bantuan kepada rakyat Gaza, namun berita terakhir mengabarkan bahwa salah satu kapal GSF diserang oleh drone Isr4el pada Selasa (8/9) dini hari, di pelabuhan Tunis, Tunisia. (Republika.id, 10/09/2025)

Gaza Butuh Jihad fi Sabilillah

Diamnya para pemimpin jazirah Arab di sekitar Palestina terhadap genosida yang terjadi di Gaza merupakan pengkhianatan. Padahal Allah Swt telah memberikan amanah di atas pundak-pundak para pemimpin berupa kekuasaan yang membawahi tentara dan pastinya mampu mengusir penjajah dari bumi Palestina. Namun sungguh mengecewakan yang mampu mereka lakukan hanya mengecam dengan berapi-api, sementara tangan mereka berjabat mesra dengan penjajah. Ketundukan para pemimpin negeri-negeri muslim ini justru membawa angin segar bagi penjajah, mereka semakin keras dan bertindak semena-mena terhadap rakyat Gaza.

Hal ini berbanding terbalik dengan rakyat pada umumnya, Jelas bahwa penduduk dunia menginginkan berakhirnya Genosida di Gaza. Rasa kemanusiaan mendasari setiap pergerakan dan aksi mereka untuk menunjukkan keberpihakan mereka kepada rakyat Gaza. Namun perjuangan mulia mereka selalu kandas di tengah jalan. Hal ini karena tidak adanya dukungan para pemimpin mereka yang memiliki kekuatan militer.

Sekian banyak usaha yang telah dilakukan, baik itu demonstrasi turun ke jalan bahkan dalam skala besar, boikot maupun perundingan PBB, semua menemui jalan buntu. Sementara kekejaman penjajah semakin meningkat berkat dukungan negara adidaya yang terus memberi sokongan berupa dana maupun pasokan senjata, sedangkan di belakang palestina adalah rakyat yang bahkan tidak bersenjata. Hal ini seharusnya disadari oleh umat Islam khususnya dan juga masyarakat dunia umumnya, bahwa Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan berupa makanan dan obat-obatan tetapi juga pasukan dengan senjata modern yang siap mengusir penjajah dari bumi Palestina. 

Umat Islam harus menyadari bahwa mereka berpotensi memiliki kekuatan yang sangat besar bila berada dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Islam. Model kepemimpinan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin juga kekhalifahan selanjutnya. Sejarah mencatat, pembebasan Palestina bisa dicapai pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra dan juga Shalahudin Al Ayyubi, yaitu dengan jihad fi sabilillah, memerangi penjajah hingga mereka hengkang dari bumi Al Aqsha.

Oleh sebab itu, tuntutan Masyarakat dunia harus ditingkatkan, tidak sekedar mengirim bantuan kemanusiaan tetapi juga mengirimkan pasukan untuk memerangi, mengusir penjajah dan mengakhiri derita saudara-saudara kita di Gaza Palestina. Wallahua'lam bishawab.[AR]

Posting Komentar

0 Komentar