Oleh Yeni Purnama Sari, S.T
(Muslimah Peduli Generasi)
Vivisualiterasi.com - Salah satu peristiwa penting di bulan Rabiul Awal adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok mulia akhir zaman. Beliau lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan peristiwa ketika pasukan gajah yang dipimpin Raja Abrahah menyerang Ka’bah. Momentum ini senantiasa diperingati setiap tahun oleh umat Islam melalui acara reuni spiritual, dalam rangka meneladani kepribadiannya.
Beberapa waktu lalu, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) melaksanakan acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H, yang diisi dengan tausiyah serta bantuan sosial bagi anak yatim piatu. Ahmad Haikal Hasan, selaku Kepala BPJPH, menyampaikan bahwa inti dari peringatan Maulid Nabi adalah membangun semangat persatuan dan kepedulian terhadap sesama, untuk saling membantu dan berbagi. Tujuannya adalah meneladani sosok Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari (Detiknews.com, 11/09/2025).
Selama ini, peringatan Maulid Nabi sering kali hanya dipandang sebagai tradisi seremonial belaka, tanpa memberi pengaruh pada aspek politik dan sosial. Padahal, Nabi Muhammad adalah suri teladan dalam segala hal, mulai dari ibadah hingga kepemimpinan. Kelahiran beliau menjadi pertanda bahwa Islam datang membawa cahaya di tengah kejahiliahan yang gelap gulita, serta menghapus segala bentuk kezaliman.
Di balik itu semua, terdapat perjuangan besar untuk mendakwahkan Islam dengan segenap jiwa dan harta. Beliau memulai dengan mengajak manusia menyembah Allah dan meninggalkan segala bentuk penyembahan selain-Nya. Hingga akhirnya, beliau juga memimpin peperangan untuk menyebarluaskan Islam ke wilayah-wilayah yang belum tersentuh. Puncaknya, beliau diangkat menjadi kepala negara di Madinah yang menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh.
Sayangnya, setelah wafatnya Rasulullah SAW hingga runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah pada 1924, umat Islam perlahan menjauh dari ajaran Islam. Bahasa Arab diabaikan, sementara undang-undang Barat diadopsi. Pemikiran umat terkontaminasi peradaban asing hingga melahirkan paham nasionalisme dan kebangsaan. Akibatnya, Islam dianggap sebatas agama ritual, bukan sebagai landasan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya propaganda yang memecah belah umat, sehingga timbul permusuhan sesama muslim. Keberhasilan Barat menyebarkan opini Islamofobia telah melemahkan semangat umat untuk bangkit. Tak heran jika penderitaan terus dirasakan, karena umat tak lagi memiliki pelindung sejati.
Hal ini nyata terlihat pada penderitaan rakyat Palestina. Mereka berjuang mempertahankan tanah airnya sendiri tanpa perlindungan dari penguasa negeri-negeri muslim. Padahal jumlah kaum muslimin sangat banyak di dunia, namun mereka memilih diam, tidak mampu mengerahkan kekuatan militer untuk mengusir penjajah Zionis yang terus melakukan genosida. Inilah akibat dari belenggu nasionalisme dan sekularisme dalam sistem kapitalisme-demokrasi, yang membuat umat Islam tidak berdaya tanpa perlawanan.
Di sisi lain, investasi asing telah menjerat negeri. Sumber daya alam dieksploitasi besar-besaran oleh pihak asing dan swasta, bukan untuk kesejahteraan rakyat. Akibatnya, umat terjerat dalam ketidakadilan dan kemiskinan. Belum lagi kasus korupsi yang merajalela, remaja terjerat narkoba dan kekerasan, pendidikan serta kesehatan yang tidak dijamin negara, dan berbagai problematika umat yang terus lahir dari sistem kapitalisme-demokrasi.
Ironisnya, meski umat Islam sering melantunkan salawat, namun keteladanan Rasulullah SAW belum benar-benar diresapi dan diaplikasikan dalam kehidupan. Aktivitas beliau dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, pergaulan, hingga pemerintahan justru dilupakan. Agama dipisahkan dari kehidupan publik, seolah identitas Islam tidak boleh ditampilkan dalam ranah politik. Aturan agama hanya dibatasi pada ranah individu, seperti ibadah ritual semata.
Padahal, peringatan Maulid Nabi seharusnya bukan sekadar mengenang masa lalu. Lebih dari itu, ia menjadi wujud rasa cinta dan kerinduan umat kepada beliau, kepada syariat Islam, akhlak, serta perjuangannya. Artinya, cinta tanpa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya hanyalah dusta. Karena hakikat cinta adalah membuktikan dengan menjadikan syariat sebagai cahaya penerang dalam kegelapan dunia.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri, orang tuanya, dan anak-anaknya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah juga berfirman:
"Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali Imran: 31)
Dengan demikian, kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah tanda awal perubahan besar dalam peradaban manusia. Keteladanan beliau merupakan panduan sempurna dalam menjalani kehidupan, sekaligus inspirasi perjuangan untuk menegakkan keadilan dan menghapus kezaliman. Allah berfirman: "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."(QS. Al-Anbiya: 107).
Maka sudah sepatutnya umat Islam menyadari dan termotivasi untuk mengembalikan kehidupan Islam. Caranya adalah dengan berdakwah, menerapkan Islam secara kaffah, serta membangun kembali sistem pemerintahan Islam. Dengan demikian, Islam akan mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam yang mulia, sehingga Allah menurunkan rahmat dan keadilan dalam naungan Daulah Khilafah. Wallahu a’lam bish-shawab.(Dft)


0 Komentar