Subscribe Us

MISI PEMBEBASAN PALESTINA DAN METODE YANG TERLUPAKAN


Oleh Irwansyah
(Pegiat Sosial Media)


Vivisualiterasi.com - Dunia sedang menonton tragedi kemanusiaan paling parah abad ini. Di Gaza, ribuan anak mati bukan hanya karena bom, tapi karena kelaparan yang disengaja. Dalam dua pekan pertama Agustus, lebih dari 15 ribu balita masuk program pemulihan gizi buruk, dan 7 ribu di antaranya hanya dalam dua minggu terakhir. UNICEF menyebut fenomena ini sebagai "generasi yang sedang dilenyapkan."

Kelaparan masif (famine) sudah dikonfirmasi di Gaza City. Dua kota lain Deir al-Balah dan Khan Younis diprediksi menyusul. Data resmi menunjukkan sekitar 640 ribu orang berada dalam kondisi "fase 5," yaitu tingkat paling parah ketika orang sama sekali tidak punya akses pangan, dan 1,1 juta lainnya di ambang darurat.
Korban jiwa pun terus bertambah.

Hingga awal September 2025, total kematian sejak agresi Israel 2023 mencapai 61–64 ribu orang, mayoritas perempuan dan anak-anak. Dalam sepekan saja, 27 Agustus–3 September, tercatat 571 tewas dan 2.318 terluka. Hampir 200 ribu bangunan hancur: rumah sakit, sekolah, masjid, pasar, semuanya jadi target serangan.

Seorang dokter di Gaza bahkan berkata: “Kami tidak lagi menghitung pasien hidup, kami hanya menghitung siapa yang bisa kami kuburkan hari ini."

Dengan fakta ini, jelas Gaza hari ini bukan lagi konflik biasa. Ia adalah genosida yang disiarkan langsung ke seluruh dunia. Amnesty International menegaskan, “Israel tengah menjalankan kampanye kelaparan yang disengaja, menghancurkan kesehatan dan tatanan sosial masyarakat Palestina." Human Rights Watch menambahkan bahwa blokade total Israel adalah bentuk “hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional.”

Mengapa Palestina Masih Terjajah?

Pertanyaannya, mengapa Palestina sampai hari ini masih terjajah?

Pertama, para penguasa Muslim takut bayangan Barat. Mereka sadar, menyerang Israel berarti berhadapan dengan Amerika dan sekutunya. Karena itu yang muncul hanya pidato lantang, deklarasi solidaritas, atau bantuan simbolis tanpa aksi nyata di medan perang.

Kedua, diplomasi jadi topeng. Resolusi PBB, konferensi darurat, dan kecaman internasional tidak pernah menghentikan bom, tidak pernah membuka blokade, tidak pernah mengakhiri penderitaan rakyat. Diplomasi tanpa kekuatan hanyalah ilusi.

Ketiga, umat terpecah dan terkurung dalam kerangka nation-state. Negara-negara Muslim sibuk dengan konflik internal dan rivalitas regional. Akibatnya, Palestina menghadapi penjajah dengan kekuatan yang tercerai-berai.

Keempat, Israel mendapat dukungan penuh Barat. Teknologi militer canggih, intelijen modern, hingga pasokan senjata tanpa henti membuat Israel selalu unggul. Sementara itu, militer negeri-negeri Muslim yang jumlahnya jutaan justru mandek, dipakai untuk menjaga kursi rezim, bukan untuk jihad membela rakyat Palestina.

Kelima, umat Islam melupakan jihad sebagai metode pembebasan. Inilah titik paling kritis yang jarang dibicarakan secara serius.

Jihad: Sejarah yang Hilang

Padahal sejarah Islam pernah mencatat pemimpin yang berani. Al-Mu’tasim Billah menggerakkan pasukan hanya karena satu Muslimah dilecehkan oleh Yahudi. Bagi beliau, kehormatan umat tidak bisa ditawar dengan alasan apa pun.

Salahuddin Al-Ayyubi juga menjadi simbol. Ia membebaskan Baitul Maqdis dari tentara salib bukan dengan resolusi atau sekadar kecaman, tapi dengan jihad bersenjata yang terorganisir, berstrategi, dan berpijak pada iman.

Kontrasnya mencolok. Dulu, satu teriakan perempuan bisa menggerakkan pasukan. Hari ini, ribuan jeritan anak Gaza tak mampu menggerakkan elite Muslim untuk turun tangan. Yang ada hanyalah rezim yang nyaman di kursi empuk, sibuk berdagang dengan penjajah, lalu berpidato seolah peduli.

Solidaritas Palsu dan Militer Mandul

Inilah kenyataan pahit. Dunia Islam tampak ramai dengan doa bersama dan aksi massa, tapi sepi di medan nyata. Bom tidak berhenti dengan kecaman, tank tidak mundur dengan pidato.
Di jalanan Gaza, anak-anak menulis doa di dinding puing, berharap ada tentara Muslim yang datang. Tapi yang sampai hanya paket mie instan dan selimut tipis.

Jihad pun direduksi jadi slogan. Padahal dalam ajaran Islam, jihad adalah metode sah untuk membela jiwa dan tanah yang diinjak. Ia bukan agresi, melainkan pertahanan.

Sementara itu, ratusan ribu pasukan di negeri-negeri Muslim hanya dijadikan alat penjaga rezim. Untuk Palestina? Tidak ada yang berani bergerak sejengkal pun.

Akibatnya, setiap anak Gaza yang mati kelaparan menjadi saksi bisu bahwa umat Islam gagal menunaikan amanah sejarahnya. Kita ibarat lautan manusia, tapi tanpa kekuatan. Banyak jumlah, sedikit daya.

Jalan yang Terlupakan

Islam pernah melahirkan sosok seperti Mu’tasim Billah dan Salahuddin Al-Ayyubi pemimpin yang tidak menunggu simpati dunia, tapi bergerak dengan kekuatan jihad. Kontras dengan hari ini, di mana mayoritas penguasa Muslim tunduk pada tekanan Barat, nyaman dalam status quo, dan membiarkan darah umat mengalir setiap hari.

Doa bersama, aksi massa, atau resolusi internasional tidak cukup. Sejarah telah membuktikan, kehormatan umat hanya bisa dipulihkan dengan kekuatan (jihad).

Karena itu, metode (jalan) jihad bukan sekadar pilihan yang boleh diambil atau ditinggalkan. Ia adalah jalan yang ditetapkan Islam untuk membebaskan negeri-negeri yang dijajah. Dan jihad hanya bisa dilakukan di bawah sistem kepemimpinan Islam, bukan yang lain. Wallahualam.[Irw]

Posting Komentar

0 Komentar