Al-Qur’an menegaskan:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini jelas. Meneladani Nabi tidak cukup dengan meniru ibadah dan akhlaknya, tapi juga meneladani kepemimpinan dan sistem hidup yang beliau bangun.
Rasulullah sebagai Pemimpin Negara
Di Madinah, Rasulullah Saw. bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi kepala negara. Beliau menyusun Piagam Madinah, konstitusi pertama yang mengatur hak dan kewajiban warga, Muslim maupun non-Muslim. Beliau memimpin perang, mengatur ekonomi berbasis zakat, menolak riba, menegakkan hukum dengan adil tanpa pandang bulu.
Sejarawan Barat, Michael H. Hart, menempatkan Nabi Muhammad Saw. sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah. Alasannya jelas, beliau sukses sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin negara, prestasi yang tak dimiliki siapapun.
Pertanyaannya, mengapa ketika memperingati Maulid, kita hanya sibuk dengan pujian dan ritual, tapi melupakan teladan beliau sebagai politikus dan negarawan?
Melanjutkan Warisan Nabi
Sepeninggal Rasulullah, estafet kepemimpinan Islam diteruskan Khulafaur Rasyidin. Mereka bukan hanya menjaga agama, tapi menata pemerintahan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan tegas memerangi kabilah murtad demi menjaga persatuan umat.
Umar bin Khattab, memperluas wilayah Islam hingga Persia dan Romawi Timur, sekaligus membangun administrasi modern, baitul mal, dan peradilan. Ia pernah berkata: “Seandainya seekor keledai terjatuh di Irak, aku khawatir Allah akan menuntutku.” Inilah standar kepemimpinan yang peduli rakyat.
Utsman bin Affan, menyatukan bacaan Al-Qur’an dengan membukukan mushaf, menjaga keaslian wahyu hingga kini.
Ali bin Abi Thalib, teguh memimpin di tengah fitnah besar, tetap berpihak pada kebenaran meski politik bergejolak.
Mereka semua adalah bukti bahwa warisan Nabi bukan hanya ibadah ritual, tapi sistem kepemimpinan yang nyata.
Beberapa dekade kemudian lahirlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang dijuluki Rasyidin kelima. Meski berkuasa hanya kurang lebuh dua sampai tiga tahun, ia berhasil menorehkan teladan agung. Ia menolak hidup mewah, menghapus pajak zalim, menata harta negara, dan mendistribusikan zakat sampai hampir tak ada lagi fakir miskin yang mau menerima.
Sejarawan Ibnu Katsir menulis, masa Umar bin Abdul Aziz adalah “kilauan emas yang mengingatkan pada zaman Khulafaur Rasyidin.” Kepemimpinannya bukti bahwa teladan Rasulullah Saw. bisa dihidupkan kapan saja jika ada pemimpin berani, jujur, dan menjadikan syariat Allah sebagai pedoman.
Islam Sebagai Peradaban
Warisan Nabi dan para khalifah melahirkan peradaban besar. Umayyah memperluas wilayah dari Spanyol hingga India. Abbasiyah menjadikan Baghdad mercusuar ilmu, melahirkan Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Farabi. Utsmaniyah bertahan enam abad sebagai kekuatan global, menaklukkan Konstantinopel dan menguasai tiga benua.
Semua ini bukan dongeng sejarah. Semua lahir dari kepemimpinan yang meneladani Rasulullah Saw.
Kondisi Umat Hari Ini
Sayangnya, umat Islam hari ini lebih sibuk dengan seremoni daripada substansi. Banyak negara Muslim dilanda korupsi, kesenjangan ekonomi, hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Umat terpecah karena politik sempit, sementara sumber daya alam dikeruk asing.
Di negeri kita, Maulid Nabi sering hanya diisi ceramah normatif, tanpa refleksi bagaimana Nabi membangun masyarakat yang adil. Padahal, keteladanan beliau justru paling relevan untuk menjawab krisis kepemimpinan, keadilan, dan moral hari ini.
Sayyid Qutb pernah menulis: “Islam datang untuk menata kehidupan manusia, bukan sekadar menata ibadah.”
Apakah kita masih mau memperingati Maulid hanya dengan nostalgia, sementara umat terus terpuruk?
Makna Sejati Maulid Nabi
Nabi bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini bukan hanya soal pribadi saleh, tapi juga masyarakat yang adil, bermartabat, dan berperadaban.
Karena itu, Maulid harus jadi momentum kebangkitan, bukan sekadar seremoni. Kita harus berani meneladani Nabi secara utuh: ibadahnya, akhlaknya, kepemimpinannya, dan visinya membangun umat.
Maulid Nabi adalah panggilan. Dari seremoni menuju kebangkitan hakiki. Dari sekadar ritual peringatan menuju spirit membangun peradaban. Wallahuaalam.


0 Komentar