Oleh dr. Sri Wahyuni
(Kontributor Vivisualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com- Di tengah dunia yang semakin kompleks, dua potret generasi muda muncul dengan kontras yang mencolok. Di satu sisi, kita menyaksikan generasi Gaza yang tumbuh dalam reruntuhan perang, namun tetap tangguh dan bersemangat menuntut ilmu serta mempertahankan tanah airnya. Sungguh, generasi muslim Gaza kondisinya sangat memprihatinkan dan tragis akibat perang dan genosida yang sangat keji. Upaya penjajah untuk mengosongkan wilayah Gaza dengan berbagai macam cara, seperti mengebom fasilitas publik, rumah sakit termasuk sekolah. Penjajah juga melakukan blokade terkait bantuan kemanusiaan. Zionis itu pun membuat warga Gaza Palestina kelaparan. Sungguh, ini tindakan yang brutal dan tidak berperikemanusiaan. (mazaya.post, 2/9/2025)
Walaupun begitu, generasi di Gaza tetap tenang melakukan aktivitas belajar mempersiapkan diri lebih baik, dan dalam penjagaannya terhadap Al-Aqsa, walau di bawah tekanan yang berat. Hal ini menunjukkan keimanan luar biasa yang terpatri di dalam jiwa Muslim.(kompasiana.com, 29/8/2025)
Menurut Dr. Alaa Al-Faroukh, seorang psikiater terkemuka, warga gaza memiliki tingkat ketahanan mental yang sangat tinggi, mereka mampu menghadapi tekanan psikologis yang ekstrem dan tidak mudah menyerah dan apa yang membuat mereka seperti itu adalah keyakinan dan tujuan hidup mereka terhadap Allah Swt. (Nusantaranews, 2/9/2025)
Duck Syndrome di tengah Kapitalisme
Meskipun belum ada data spesifik tentang Duck Syndrome di Indonesia, kita bisa melihat beberapa statistik terkait kesehatan mental remaja yang mungkin terkait dengan fenomena ini. Sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia (15,5 juta) memiliki masalah kesehatan mental, dan 1 dari 20 remaja (2,45 juta) memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, menurut Survei Kesehatan Mental Nasional Remaja Indonesia (I-NAMHS) tahun 2023. Gangguan mental yang paling umum dialami remaja adalah gangguan cemas (3,7%), diikuti oleh gangguan depresi mayor (1,0%), dan gangguan perilaku (0,9%). (Muslimahjakarta.com, 30/4/2025)
Fenomena duck syndrome bukan hanya masalah psikologis individu, tetapi juga gejala dari krisis multidimensi yang lahir dari sistem kapitalisme. Dalam aspek kapitalisme, terjadi persaingan bebas yang berdampak tekanan untuk selalu unggul dan tidak tertinggal dalam diri individu, Standar hidup tinggi menyebabkan individu terobsesi terhadap pencapaian dan gaya hidup mewah, Individualisme dimana individu akan memperoleh minimnya dukungan sosial sehingga muncul rasa kesepian yang meningkat, Ekspektasi sosial yang menuntut individu untuk selalu tampil sempurna di media sosial, kemudian akan tercipta biaya hidup tinggi, mengakibatkan individu akan merasakan kecemasan finansial yang menyebabkan individu tersebut kerja secara berlebihan. Akibatnya, banyak orang, terutama kaum muda dan kelas menengah mengalami stres kronis, gangguan kecemasan, dan depresi. Mereka tampak “baik-baik saja” di luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras untuk memenuhi tuntutan sistem.
Sistem sekuler dengan prinsip memisahkan agama dari kehidupan menjauhkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan sebagai pedoman dalam kehidupan. Akibatnya, individu kurang memiliki sumber daya untuk mengatasi stres dan kecemasan. Meningkatnya individualisme pada masyarakat kapitalis menghasilkan ruang perlombaan semu antar manusia, memunculkan individu yang terisolasi dan kurang memiliki dukungan sosial.
Fenomena duck syndrome menjadi alarm bahwa sistem ini tidak berkelanjutan secara psikologis. Kita membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi, yang menempatkan kesejahteraan mental sebagai prioritas, bukan sekadar pencapaian ekonomi.
Menuju Sistem yang Lebih Seimbang
Sistem-sistem yang diimplementasikan dalam kehidupan berbasis akidah dan syariat Islam dengan gemilang mampu membentuk manusia sampai derajat yang mulia. Seperti halnya dalam bidang pendidikan, Islam mampu menghasilkan manusia dengan pola pikir dan sikap yang terpuji dan berjiwa sosial. Kebermanfaatan dirinya untuk peradaban menjadi tujuan. Gulliver Costauray mengatakan dalam bukunya Hukum Sejarah, “Eropa berhutang kepada kondisi yang memberikan manfaat pada masa-masa pemikiran Arab (Islam). Telah berlalu empat abad tanpa ada peradaban selain peradaban Arab (Islam) yang para ilmuwan mereka merupakan pengibar bendera peradabannya dengan sangat kuat.” (Al-Islam wa Al-Hadharah Al-Arabiyah, Muhammad Kard Ali, hal. 544)
Dengan sistem ekonominya, Islam memberikan kesejahteraan pada manusia tanpa batas dan pilih-pilih. Distribusi kekayaan dengan bertumpu pada pembagian kepemilikan pribadi, umum (komunal), dan negara menutup rapat celah kemiskinan sistemik yang saat ini terjadi di dunia kapitalisme. Ditambah dengan sistem sosial kemasyarakatan yang menjadikan manusia berlomba-lomba dalam kebaikan dan takwa. Sistem sanksi yang menjaga keamanan dan keadilan di antara manusia, serta sistem pemerintahan yang mengedepankan takwa dan pelayanan terhadap manusia akan mewujudkan masyarakat yang sangat berbeda dengan rakyat dalam kungkungan kapitalisme liberal. Sinergi ideologis tiga pilar yaitu individu, masyarakat, dan negara, dalam pelaksanaan Islam kaffah terbukti menebar rahmat seluruh alam seperti tercantum dalam ayat Al-Qur’an surah al-Anbiya: 107.
Penerapan syariat Islam kafah juga akan membawa kemaslahatan bagi para mahasiswa. Baitulmal akan mendapatkan pemasukan yang besar dari tiga pos pemasukannya, yaitu fai dan kharaj, kepemilikan umum, dan zakat. Kepemilikan umum (termasuk tambang) akan dikelola oleh negara sehingga hasilnya akan bisa digunakan untuk membiayai pendidikan. Inilah kunci terwujudnya layanan pendidikan gratis berkualitas dalam Khilafah hingga level pendidikan tinggi (kampus).
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Muqaddimah Dustur pasal 173 dan Syaikh ‘Atha’ bin Khalil dalam Usus at-Ta’lim bab “Strategi dan Sistem Pendidikan Negara Khilafah” menjelaskan, “Negara wajib menyelenggarakan pendidikan berdasarkan apa yang dibutuhkan manusia di dalam kancah kehidupan bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan dalam dua jenjang pendidikan: jenjang pendidikan dasar (ibtidaiah) dan jenjang pendidikan menengah (tsanawiah). Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara secara cuma-cuma. Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara cuma-cuma.”
Tidak heran, dari rahim sistem Islam lahirlah banyak ulama dan ilmuwan laksana bintang-bintang yang menerangi dunia dan membebaskannya dari kegelapan. Ilmu mereka abadi hingga saat ini terus dipelajari dan menjadi rujukan oleh manusia, tidak hanya muslim, tetapi juga nonmuslim.
Generasi muda muslim hendaknya fokus pada perjuangan penegakan aturan Allah Swt (Khilafah Islamiyah), tidak terdistraksi dengan tawaran solusi pragmatis semu maupun godaan kekuasaan yang menipu. Agar tetap berada di atas rel dakwah yang benar, generasi muda muslim juga para mahasiswa hendaknya menggabungkan dirinya dalam barisan jemaah dakwah yang fokus dan ikhlas untuk menegakkan Khilafah, tidak berbelok meski satu inci.
Olehnya itu, sistem Islam adalah satu-satunya sistem yang seimbang sebagai jalan keluar dari krisis multidimensi, baik bagi mahasiswa yang terjebak duck syndrome maupun bagi rakyat Palestina yang terus digempur penjajah. Wallahua'lam.[AR]


0 Komentar