(Aktivis Dakwah Nisa Morowali)
Melansir dari Detik Edu (22/5/2025), Sekolah Rakyat di Indonesia terdapat di 63 titik lokasi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke yakni dari Aceh hingga Papua. Adapun tujuan dari program sekolah gratis tersebut adalah menyasar anak-anak yang berasal dari keluarga miskin hingga miskin ekstrem yang kemudian diberikan fasilitas pendidikan seperti asrama, seragam, buku hingga makanan bergizi untuk menunjang pendidikannya. Menurut pernyataan Saifullah Yusuf selaku Menteri Sosial, Pemerintah menargetkan sekitar 240 titik lokasi yang tersebar di wilayah Indonesia. Namun saat ini, program tersebut baru dimulai pada 63 titik rintisan lokasi sekolah rakyat.
Realita pendidikan dinegara ini memang sangat memprihatinkan, terlebih ketika banyak anak-anak yang harus mengalami putus sekolah sebab berada dalam jeratan kemiskinan, hingga tidak mampu memulai dan melanjutkan sekolah karena terkendala biaya pendidikan yang cukup mahal. Sehingga, tak dimungkiri hal ini menjadi salah satu penyebab kualitas SDM yang rendah akibat kurangnya pemerataan dalam pendidikan. Adapun program sekolah rakyat menjadi langkah strategis yang diambil oleh pemerintah untuk memudahkan anak-anak yang berasal dari keluarga miskin hingga miskin ekstrem agar dapat mengakses pendidikan yang berkualitas hingga nantinya diharapkan dapat menekan angka kemiskinan. Lantas, apakah program sekolah rakyat adalah solusi yang tepat untuk mengentas kemiskinan?
Pendidikan dalam Sistem Kapitalisme
Mengentas kemiskinan melalui sekolah rakyat, sepintas nampak baik terindera. Namun, hal tersebut justru kian menampakkan adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Padahal pendidikan adalah hak dasar atas setiap individu.
Pendidikan dalam sistem kapitalisme, sangat memungkinkan adanya sekolah berkasta. Sebab disistem ini, pendidikan kerap menjadi permainan bisnis bagi para oligarki yang menjadikan sektor pendidikan sebagai ladang cuan. Maka, wajar saja jika pendidikan diera kapitalis berbayar dan terkesan mahal.
Melansir dari CNBC Indonesia (2/6/2025), Daerah paling timur Indonesia yakni Papua adalah daerah yang paling banyak menyurutkan mimpi anak Indonesia untuk mengenyam pendidikan. Sebab, mahalnya biaya pendidikan disana. Bahkan, berdasarkan survei Sosial Budaya dan Pendidikan (Susenas MSBP) 2024, secara nasional rata-rata biaya pendidikan tertinggi adalah Rp. 16,83 juta per peserta didik didaerah Papua Barat.
Maka tak heran jika kasus putus sekolah tertinggi berada pada wilayah Papua. Sebab keterbatasan ekonomi yang menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya.
Solusi Tambal Sulam
Pada dasarnya, langkah yang diambil oleh pemerintah bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi problematika kemiskinan yang kian menjamur dinegara ini. Sebab, tidak menyentuh langsung pada akar permasalahannya. Solusi yang diberikan pun hanya berupa solusi tambal sulam, alih-alih untuk menyelesaikan, justru sobekan dari kain kemiskinan kian meluas.
Ironisnya, diperparah dengan terbentuknya sekat-sekat sosial yang menggerayangi kehidupan masyarakat. Sehingga pendidikan berkasta tak terelakkan bahkan dalam setiap lini, golongan atau kasta pun menjadi pembeda yang nyata antara si kaya dan si miskin. Begitupun dengan label "Sekolah Rakyat", yang diperuntukkan hanya kepada rakyat miskin dan miskin ekstrem sehingga kian menguatkan bahwa kata "Rakyat" lekat maknanya dengan kaum papa.
Padahal jika ditelisik lebih jauh, kemiskinan yang terjadi dinegara ini merupakan kemiskinan struktural. Akibat kurangnya ketersediaan lapangan pekerjaan hingga PHK massal yang marak terjadi dalam sektor industri. Ironis, negara yang semestinya mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat justru kian menyengsarakan rakyatnya. Sebab sekolah gratis untuk rakyat bak pemanis sementara bagi rakyat yang kemudian tersadarkan oleh pahitnya kenyataan dengan tingginya angka pengangguran. Upaya untuk menurunkan angka kemiskinan pun bak jauh panggang dari api.
Islam Solusi Tuntas
Bibit unggul generasi terlahir dari pendidikan yang memadai. Bahkan dalam Islam, pendidikan adalah hak dasar bagi tiap individu. Setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Dimana, orientasi pendidikan Islam tidak terlepas dari paradigma Islam. Oleh karenanya, negara wajib untuk memenuhi hak dasar pendidikan kepada setiap individu dan memberikan pelayanan yang maksimal.
Dengan menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan yang mendasar, maka negara juga berperan wajib untuk memenuhinya. Bahkan dalam Islam, telah ditekankan bahwa menuntut Ilmu merupakan sebuah kewajiban. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah).
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap ilmu, negara berperan besar dalam memberikan pelayanan secara maksimal dengan memberikan pendidikan gratis agar memudahkan untuk mendapatkan akses pendidikan yang merata tanpa adanya tebang pilih.
Dalam pemberian pelayanan pendidikan, negara Islam (Khilafah) memiliki landasan prinsip sebagai berikut :
Pertama, Pembentukan kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah), dan pembekalan tentang ilmu pengetahuan terkait masalah kehidupan. Pendidikan Islam sendiri bertujuan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Sehingga, karakter individu dapat terbentuk menjadi pribadi yang cerdas serta beriman dan bertakwa sebab kurikulum pendidikannya berasaskan akidah Islam.
Kedua, Biaya pendidikan ditanggung oleh negara yang berasal dari baitul mal. Pendidikan gratis akan dijamin oleh negara melalui alokasi dana yang diambil dari pos kepemilikan negara yakni fai dan kharaj serta pos kepemilikan umum. Ketika anggaran dalam baitul mal habis atau tidak mencukupi untuk membiayai pendidikan umat, barulah negara mengambil sumbangan dari kaum muslimin yang diberikan secara sukarela.
Ketiga, Pemberlakuan pendidikan gratis terhadap semua jenjang pendidikan mulai dari dasar hingga perguruan tinggi serta menyediakan fasilitas pendidikan seperti laboratorium hingga perpustakaan. Selama belasan abad silam, khilafah berada pada puncak kejayaan karena didalamnya terbentuk generasi cerdas yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran yang berdampak pada kemajuan peradaban, seperti banyaknya ilmuwan dan cendekiawan yang terlahir dimasa itu sebab besarnya dukungan negara terhadap pendidikan rakyatnya. Seperti Imam Syafi'i sebagai ahli usul fikih dan juga mahir terhadap ilmu astronomi. Tak hanya itu ada juga Ibnu Khaldun sebagai bapak sosiologi, historiografi dan ekonomi hingga Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak kedokteran, astronomer hingga penulis pada masa itu. Selain menguasai sains para ilmuwan dan cendekiawan tersebut juga cakap terhadap ilmu agama hingga berperan sebagai ulama besar. Sehingga dengan keilmuannya mampu memberikan maslahat terhadap kehidupan umat manusia.
Besarnya peran dan tanggung jawab yang telah dijalankan oleh negara Islam (Khilafah) hingga berhasil menduduki puncak kejayaan dan bergelar negara adidaya telah memberikan gambaran pasti bahwa dengan berada dalam naungannya, kesejahteraan bagi seluruh rakyat akan terwujud. Wallahu A'lam Bisshowab.[PUT]
0 Komentar