Subscribe Us

REFLEKSI KEMERDEKAAN: MENUJU CAHAYA KEBANGKITAN



Oleh Yeni Purnama Sari, S.T
(Muslimah Peduli Generasi)


Vivisualiterasi.com - Agustus adalah bulan yang dikenal sejarahnya sebagai perjuangan melawan penjajahan. Kemerdekaan diraih oleh para pahlawan yang meninggal dengan membawa pesan. Tak hanya bebas dari penderitaan, namun bergerak maju mewujudkan perubahan. Sebuah harapan bersatu padu menggapai keadilan. Namun sayangnya, hingga menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia diliputi dengan ironi.

Bagaimana tidak, ada banyak persoalan di berbagai bidang kehidupan. Solusi belum juga ditemukan. Terutama di bidang ekonomi. Telah terjadi gelombang PHK terhadap para pekerja berbagai sektor, seperti industri tekstil, teknologi, dan sejenisnya. Sudahlah harga-harga barang melambung tinggi, rakyat harus mengorbankan tabungan demi memenuhi kebutuhan. Ditambah lagi, rakyat harus menanggung berbagai pungutan dari negara.

Tercatat data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 939.038 pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) di 14 sektor usaha. Pada periode Agustus 2024 hingga Februari 2025 terjadi pengurangan tenaga kerja secara signifikan. Salah satu penyebabnya adalah barang-barang impor murah terus membanjiri pasar domestik, sedangkan tingkat konsumsi dalam negeri mengalami penurunan. (Metrotvnews.com, 08/08/25).

Akibatnya, banyak masyarakat memilih jalan keluar dengan memanfaatkan tabungan mereka untuk kebutuhan pokok sehari-hari, seperti makanan, listrik, air, dan transportasi. Hal ini diperlihatkan dalam riset Indonesia Economic Outlook Q3-2025, bahwa Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menyebutkan simpanan nasabah perorangan di perbankan pada triwulan I-2025 mengalami penurunan, yaitu 1,09% secara tahunan. (Cnbcindonesia.com, 08/08/25).

Kondisi ini menggambarkan negara Indonesia belum merdeka secara menyeluruh. Hanya ilusi yang didapatkan. Realitanya, penjajahan masih terus dirasakan hingga hari ini, hanya saja dengan model gaya baru. Kemiskinan dan ketidakadilan masih merata. Bahkan terdeteksi utang negara bertambah, keran investasi asing dibuka lebar, impor dibolehkan, aset negara pun banyak yang terjual tanpa sepengetahuan rakyat. Dari sisi pembuatan aturan dan kebijakan misalnya, banyak sekali UU di negeri ini yang mengikuti arahan para penjajah asing. SDM maupun SDA dieksploitasi dan dikuasai oleh mereka. Rakyat dibuat lemah tak berdaya untuk melawannya.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah pembajakan potensi bagi generasi. Pendidikan saat ini hanya bersifat formalitas, tak mampu membina generasi secara serius dengan arah yang tidak jelas. Hasilnya justru pemikiran rusak yang tertanam, seperti deradikalisasi, islam moderat, dialog antar agama, dan sebagainya. Sehingga menjadikan umat jauh dari pemikiran islam. Tak bisa berpikir shahih. Tanpa disadari, umat telah terjajah oleh budaya asing.

Adapun bidang kesehatan. Rakyat masih saja dibebani biaya. Tak ada kata gratis dalam pengobatan. Terutama bagi rakyat miskin. Mustahil untuk mendapatkan fasilitas yang sama seperti orang kaya. Kesehatan dijadikan tempat komersial bagi para kapitalis. Tak ada belas kasih untuk sesama, hanya memikirkan keuntungan semata. Dan masih banyak persoalan lain yang belum juga terselesaikan.

Padahal negara dikatakan merdeka jika terbebas dari segala bentuk penjajahan. Baik secara fisik, ekonomi, politik, budaya, dan lainnya. Negara tidak lagi ada tekanan dan mampu berdiri sendiri. Bukan lagi menjadi agen pihak asing. Selain itu, kekayaan dan potensi yang dimiliki sepenuhnya digunakan untuk kepentingan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya sendiri.

Sayangnya, penerapan sistem sekuler kapitalisme masih saja dipertahankan. Sistem ini telah berhasil memisahkan agama dari kehidupan. Wajar saja berbagai masalah bermunculan. Kesejahteraan rakyat terus diabaikan, kepentingan kapitalis diutamakan. Pemikiran rusak dilegalkan. Justru aturan Illahi dilalaikan. 

Percuma saja teriak merdeka berulang kali, tapi Rasul dan ajarannya malah dicurangi. Tak sadar bahwa diri ini seorang abdi. Wajib taat pada aturan yang dibuat Sang Illahi, tanpa tapi dan nanti. Hingga kemerdekaan hakiki menjelma dalam diri.

Kemerdekaan hakiki dapat diraih jika islam dijadikan sebagai pedoman. Tidak hanya menyangkut urusan ibadah. Darinya terpancar aturan sebagai kunci penyelesaian persoalan kehidupan. Dengan kata lain, Islam terbukti mampu membuka jalan kemerdekaan manusia dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman serta penghambaan kepada manusia lain, seperti asing dan aseng. Seperti halnya misi kemerdekaan pada masa Rasulullah SAW. Ketika itu beliau mengirim surat kepada penduduk Najran yang bertuliskan sebagai berikut:

“…Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berbeda dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)…” (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An-Nihayah, v/553).

Maka merealisasikan kemerdekaan berarti merujuk pada tuntunan Nabi dan seruan Illahi. Karena penerapan sistem islam adalah suatu kebutuhan dan solusi atas kondisi saat ini. Sistem islam akan mampu menyejahterakan rakyat dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Tentunya negara akan menjamin dan memenuhi kebutuhan pokok rakyat, berupa sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan.

Terlebih lagi, negara akan melakukan industrialisasi dalam rangka membuka lapangan kerja. Bahkan memberikan tanah bagi yang mau menghidupkan. Tak tanggung-tanggung, negara memberikan santunan dari baitul mal. Selain itu, negara akan menjaga pemikiran umat islam agar tetap selaras aturan syariat. Akidah pun terjaga dan terus terikat dalam ketaatan kepada Allah.

Dengan demikian, untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki, butuh aktivitas perubahan hakiki. Saat ini sudah nampak perubahan di tengah masyarakat, seperti fenomena One Piece. Namun, belum menyentuh akar permasalahan, yaitu keberadaan sistem kapitalisme. Untuk itu, perlu pergerakan yang dipimpin oleh kelompok dakwah Islam ideologis yang mampu melakukan perubahan hakiki dari sistem kufur menuju Islam.

Seperti yang dicontohkan Rasulullah saw dengan penuh keberanian telah berhasil menjalankan tugas mulia. Yaitu pembebasan dalam menghentikan perbudakan. Berani menolak ajaran sesat kaum Quraisy. Sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya : Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. (TQS. Al-Maidah: 3).

Sungguh, kemerdekaan yang indah dengan penerapan islam kaffah. Penjajahan akan terhapuskan. Meskipun jalan yang ditempuh penuh rintangan, tetap harus diperjuangkan. Jangan lelah dan menyerah hingga umat menemukan cahaya kebangkitan dan kembalinya kehidupan islam dalam bingkai daulah Khilafah. Seperti yang disebutkan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, “Tidak mungkin umat ini bangkit kecuali dengan ideologi Islam yang diterapkan secara total.” Wallahu a’lam bisshowab. (Dft)

Posting Komentar

0 Komentar