Subscribe Us

NASIONALISME PENGHALANG PEMBEBASAN BAITUL MAQDIS

Oleh Raihun Anhar
(Aktivis Muslimah)

Vivisualiterasi.com-Baitul Maqdis atau Palestina adalah wilayah Islam. Negeri ini dibebaskan oleh pasukan Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarah. Kemudian diberikan oleh Sopranius (tokoh kunci) kepada Khalifah Umar bin Khattab. Mereka hidup damai berdampingan antara umat Islam, Nasrani, dan Yahudi sejak tahun 637 hingga 1098. Namun, pasukan salib merebut Syam pada 1099, berhasil kembali pada kaum muslim dibawah komando pasukan Salahuddin Al Ayyubi pada tahun 1187. Setelah wafatnya Salahuddin, Eropa berusaha merebut wilayah ini dengan serangan misionaris hingga berhasil mendirikan Israel di sana. 

Palestina sejak kehadiran Israel, mereka terus mengalami penderitaan. Mereka terus digenosida hingga kini. Tetangga mereka yang merupakan negeri-negeri muslim pun tidak dapat membantu. Mengapa bisa negara tetangga, seperti Mesir, Yordania, Libanon tidak dapat membantu? Jawabannya karena mereka yang dulu satu negara kini berubah menjadi negara bangsa yang kecil dengan sekat nasionalisme. 

Eropa dan Amerika Menggunakan Nasionalisme di Negeri-Negeri Muslim

Nasionalisme adalah paham yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara sendiri diatas kepentingan lain. Paham ini muncul pertama kali di Eropa pada abad 18 dan 19 yang ditandai dengan revolusi Prancis dan revolusi industri. Prancis sebagai negara adidaya kala itu melihat Khilafah Utsmani sebagai musuh, secara Khilafah adalah negara besar yang menguasai wilayah Arab hingga sebagian Eropa. Maka, bersama Inggris, mereka melancarkan serangan misionaris ke wilayah Khilafah Utsmani melalui wilayah Syam. Syam dipilih karena mayoritas penduduk beragama Nasrani dan Yahudi. 

Dalam kitab Ad-Daulah Islamiyah, Syekh Taqiyuddin mengatakan bahwa Eropa memerangi dunia Islam dengan serangan misionaris atas nama ilmu pengetahuan. Para misionaris dikirim dari Malta ke Syam dan membangun Sekolah Kristen, Yesuit. Tujuan gerakan misionarisme ini ada dua, yaitu (1) memisahkan Arab dari Khilafah Utsmani, dan (2) menjauhkan kaum muslim dari ikatan yang hakiki, yakni ikatan islam. Inilah awal mula nasionalisme muncul di negeri-negeri kaum muslim.

Selain itu, Prancis pun memiliki upaya lain, yakni menjadikan Wali/Gubernur Syam dan Mesir (Muhammad Ali Pasha dan Ibrahim Pasha) sebagai anteknya. Ibrahim Pasha bahkan menerapkan pendidikan Prancis di Syam dan Mesir. Hal ini makin memperkuat serangan misionaris. Pada tahun 1834, delegasi misionaris dari Amerika, Willie Smith bersama istrinya, ikut serta dalam proyek ini. Mereka membuka sekolah wanita di Beirut. 

Selanjutnya, Prancis dan Inggris juga membuat konflik di Libanon pada 1840 saat Ibrahim Pasha meninggalkan Syam. Hal itu dilakukan untuk memisahkan Libanon dari Syam. Sebagai Langkah awal memecah wilayah Khilafah. Bahkan, lebih kejam lagi, mereka membagi-bagi wilayah Islam dalam perjanjian Sykes-Picot (1916) setelah kekalahan Khilafah Islam.

Benar terjadi, setelah runtuhnya Khilafah Utsmani pada 3 Maret 1924, berdiri lah negara-negara bangsa sesuai dengan yang mereka atur, yakni: Arab Saudi, Mesir, Palestina, Libanon, Yordania, Suriyah, Iran. Dulunya wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah dalam satu negara, yakni Khilafah Islam, kemudian berubah menjadi negara-negara bangsa di bawah kendali Prancis, Inggris, dan Amerika. Walaupun secara dejure mereka telah menjadi negara mandiri. Abdul Qadim Zallum dalam buku “Malapetaka Runtuhnya Khilafah” menjelaskan bahwa Arab Saudi dibantu oleh Inggris untuk menjadi sebuah negara. 

Penjelasan di atas menunjukkan kebencian kafir Barat terhadap Islam dan kaum muslim sehingga mereka ingin memisahkan muslim dari Islam. Mengingatkan pada firman Allah: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al Baqarah: 120)

Nasionalisme Penghalang Persatuan Kaum Muslim untuk Bebaskan Baitul Maqdis

Genosida yang terjadi di Baitul Maqdis telah membuat dunia marah hingga muncul aksi Global March to Gaza. Akan tetapi, tidak dengan negara-negara muslim tetangga. Mereka masih menjadikan nasionalisme sebagai ikatan yang melemahkan mereka untuk menolong saudaranya seperti Mesir. Mesir yang diancam Israel agar tidak membuka blokade Rafah dan mendeportasi para peserta aksi. Pemimpin negara muslim tidak mengikuti petunjuk Allah, tetapi mereka justru tunduk kepada kafir dan menjadikannya sebagai penolong mereka.

Barat paham betul bahwa kaum muslim akan kuat dan dapat menguasai dunia apabila berada dalam satu kesatuan, yakni Khilafah. Oleh karena itu, mereka memecah belah persatuan umat Islam dengan nasionalisme. Muslim pun menerimanya dengan sukarela karena tidak memahami agamanya.

Oleh karena itu, mustahil kaum muslim akan akan bersatu dengan nasionalisme. Kaum muslim harus membuang ikatan tersebut dalam kehidupan mereka dan menggantinya dengan ikatan ideologi Islam untuk kebangkitan umat. Sebagaimana Rasulullah Saw dulu membawa negeri Arab bangkit, keluar dari kejahiliyaan menuju sebuah peradaban gemilang. 

Selayaknya, Mesir dan negeri-negeri muslim lain menjadikan aqidah Islam sebagai ikatan mereka. Dengan begitu, perbatasan Rafah sebagai simbol nasionalisme tidak lagi menghalangi Mesir dan Palestina. Begitu juga Yordania dan negara tetangga lainnya. Hanya saja, perwujudan dari ikatan ini membutuhkan institusi Negara, yakni Khilafah Islam.

Oleh karena itu, kaum muslim harus bersatu dengan ikatan aqidah Islam melalui Khilafah Islam. Persatuan seperti ini yang akan mampu menghentikan genoside Israel atas Palestina dan membebaskan Baitul Maqdis. Wallahualambishowab. (Dft)


Posting Komentar

0 Komentar