Subscribe Us

POLA ASUH ANAK DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh Umi Fahri
(Kontributor Vivisualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com- Pola asuh anak, baik usia dini ataupun remaja di era digital merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh para orang tua. Di era modern saat ini, mereka terpapar dengan berbagai teknologi canggih seperti, smartphone, komputer, dan internet.

Akibat dari teknologi tersebut, banyak dari usia anak-anak hingga remaja salah dalam menggunakan alat digital. Pasalnya, tak jarang mereka sampai melakukan kerusakan fisik bahkan hilangnya nyawa. Mengapa demikian? Dari media sosial tersebut, mereka dapat melihat bahkan bisa mempraktekkan apa saja yang terjadi di dunia maya, hingga dapat dilakukan di dunia nyata. 

Seperti halnya perundungan (bullying) yang akhir-akhir ini banyak terjadi. Kasus yang menimpa siswa SMP di Cimanggu, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, korban dipukuli setelah dirundung. Korban mengalami luka usai perundungan, disertai penganiayaan yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Saat itu korban hanya bisa pasrah, tidak melawan ketika pelaku menghujani pukulan dan tendangan berulang kali, sampai korban jatuh tersungkur. (Serayunews Cilacap, 26/9/2023)

Dilansir Liputan6, dugaan perundungan yang menimpa siswa SD Jakarta Selatan, tewas setelah melompat dari lantai empat gedung sekolahnya. Penyebab kematiannya pun dalam proses penyidik kepolisian, Polsek Pesanggrahan Jakarta Selatan (26/9/2023). Masih banyak lagi fakta-fakta yang menyebabkan anak-anak saat ini jauh dari akidah dan akhlak yang terpuji. Kemudian, adakah upaya atau cara yang harus dilakukan dalam mendidik dan mengarahkan mereka untuk menjadi generasi terbaik?

Fenomena ini terjadi akibat diterapkannya asas sekulerisme, di mana agama dipisahkan dari kehidupan, serta nilai-nilai moral telah dicabut. Asas ini melahirkan faham liberalisme yang mengagungkan kebebasan, baik berupa kebebasan akidah, berpendapat, kepemilikan dan bertingkah laku, sehingga aturan agama pun makin dipinggirkan. Padahal kekuatan ruhiyah yang lahir dari pemahaman terhadap agama, adalah satu-satunya yang mampu menerapkan nilai-nilai beragama dalam kehidupan.

Sekolah sebagai institusi pendidikan, alih-alih mampu mencetak anak-anak atau remaja yang berkualitas serta memiliki kepribadian yang kuat, akan tetapi justru melahirkan generasi yang banyak masalah. Kurikulum yang ada pun tidak mampu mengarahkan para pelajar untuk bersikap baik dan beradab.

Berikut adalah contoh bagaimana sebaiknya pola asuh yang baik, untuk merubah cara pandang generasi muda saat ini, di antaranya:

1. Batasi waktu penggunaan teknologi.

Misalnya hanya boleh menggunakan smartphone atau komputer, dalam jangka waktu tertentu setiap harinya. Serta membatasi penggunaan media sosial, agar anak tidak terpapar informasi yang kurang sesuai dengan usianya.

2. Monitor dan ikuti perkembangan teknologi.

Orang tua perlu mengikuti perkembangan teknologi baru, serta harus belajar mengevaluasi apakah aplikasi tersebut aman dan sesuai untuk anak.

3. Berkomunikasi terbuka dengan anak.

Dalam tahapan ini, para orang tua dapat mempelajari tentang manfaat dan risiko yang terjadi, serta pentingnya menjaga privasi juga keamanan saat menggunakan teknologi.

4. Jadwalkan Kegiatan yang tidak berhubungan dengan teknologi.

Melakukan kegiatan fisik atau kreatifitas, tentu dapat mengalihkan perhatian anak dari bermain gadget. Misalnya, bermain di luar rumah, membaca buku, bermain musik, atau permainan tradisional.

5. Jadikan teknologi sebagai alat pembelajaran.
Menggunakan teknologi sebagai pembelajaran yang positif, akan membantu anak untuk mendapatkan akses ke konten edukatif dan kreatif seperti, aplikasi atau situs web yang dapat membantu meningkatkan kemampuan mereka.

Semuanya itu tentu merupakan sebuah proses pengorbanan besar para orang tua, dalam mewujudkan dan menjadikan generasi penerus sesuai dengan syariat Allah Swt. Islam mengajarkan bahwa, untuk mencapai sebuah kemenangan perlu adanya perjuangan dan pengorbanan. Semakin banyak kita berkorban, maka kian dekat dengan kemenangan. Begitupun sebaliknya, sedikit berkorban berarti semakin jauh kita meraih kesuksesan. 

Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat An-Nisa ayat 9 menjelaskan tentang pola pengasuhan anak,

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

Selain adanya peran individu baik orang tua ataupun keluarga tak kalah penting adalah, peran masyarakat yang ikut membantu dalam permasalahan tumbuh kembang anak-anak. Ikut andilnya peran seluruh kalangan masyarakat, tentunya lebih efektif dalam mewujudkan impian bersama. 

Akan tetapi semua itu tidak akan terlaksana pengorbanan para orangtua dan juga masyarakat, yang ingin melahirkan serta membentuk generasi-generasi masa depan berkepribadian mulia, jika tanpa peran negara untuk mewujudkannya. Sudah seharusnya pemerintah memiliki peran penting yang mendasar, sebagai alat perubahan yang signifikan bagi generasi muda penerus bangsa. Sehingga tidak menjadi sia-sia pengorbanan dan perjuangan semua lapisan yang ada, yaitu orang tua dan masyarakat.

Sikap pengorbanan yang dilandasi dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt. inilah, yang harus ditanamkan kuat pada diri dan keluarga kita, terutama anak-anak dan generasi muda saat ini. Karena ditangan merekalah sesungguhnya tergenggam masa depan umat, sehingga lahirlah generasi penerus harapan yang siap terjun memperjuangkan tegaknya syariat Islam di muka bumi. Dan semoga Allah Swt. memberikan kemudahan bagi para orangtua untuk mendidik anak-anak mereka, walaupun penuh dengan pengorbanan sebagai wujud ketaatan terhadap Sang pencipta kehidupan. Wallahua'lam bish-shawab.[AR]


Posting Komentar

0 Komentar