Subscribe Us

PAKAI ATRIBUT NATAL, AQIDAH KOK DIOPLOS?

Oleh: Aubi Atmarini Aiza 
(Novelis)


Vivisualiterasi.com-Men-temen, ini kan udah masuk Desember, kalau di negara 4 musim, sekarang udah masuk musim dingin/salju. Nah, selain itu, bulan ini adalah bulan perayaan natal. Atribut natal tentu udah bertebaran di mana-mana, sebagai bentuk euphoria perayaan. Kali ini pun negara yang katanya memiliki penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, gak ketinggalan buat meramaikan semarak lebarannya kafir, eh... Non muslim. Natal menjadi hari besar bagi umat Nasrani di seluruh dunia.

Dari kasus ini, bahasa gamblangnya sih, krisis aqidah. Nah, krisis aqidah ini sudah menjangkit ke seluruh negara muslim di seluruh dunia. Em, trus salahnya di mana? Masalahnya adalah banyak dari temen-temen muslim yang belum paham atau nggak ingin tahu tentang syariat Islam. Termasuk dalam menggunakan atribut natal, seperti pakaian santa beserta topinya, hiasan pohon natal beserta lampunya, kartu-kartu ucapan natal dan lain-lain.

Dalam syariat Islam, atribut natal ini masuk ke dalam Madaniyah khas, artinya benda yang sudah menjadi khasnya agama lain. Tentu umat muslim gak boleh memakainya, artinya secara tidak langsung kita mengakui kebenaran agama mereka (murtad). Kasus ini memang sering kali membuat pro-kontra di tengah masyarakat, apalagi di tengah krisis aqidah seperti sekarang ini, banyak sekali yang bahkan termasuk ke dalam bentuk paksaan. Misalnya,  seorang Bos mengharuskan karyawannya untuk memakai atribut natal, kalau tidak mau akan dikeluarkan dari perusahaan.

Oh, mungkin banyak yang berasumsi kalau... "Hal itu hak dari si pemilik/bos, aturan itu terserah bos, kita hanya karyawan tidak bisa apa-apa. Dari pada dikeluarkan, lebih baik pakai saja, toh Allah tidak mungkin memberi kesulitan bagi hambanya, pasti mengerti." Nah, nah! Ini yang luput dari perhatian temen-temen. Kita selalu menyepelekan syariat dan menyandingkannya dengan kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Membolehkan sesuatu yang haram dan mengharamkan sesuatu yang halal. Padahal ini sudah masuk pada persoalan mendasar yang bisa saja menggerus aqidah.

Seperti halnya sabda Rasulullah: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk (manusia) lain dalam kemaksiaatan kepada Al Khaliq (Allah SWT)”. (HR. Ahmad)

Jadi, kita tidak boleh mentaati pimpinan dalam hal maksiat, pun kita tidak boleh menyekutukan Allah hanya untuk mentaati makhluk Allah.

Persoalan inti dari krisis aqidah ini adalah cara kita beriman. Banyak sekali yang lebih cenderung pada keimanan dalam hati, yang penting yakin. Kita tidak tau cobaan apa yang akan memutarbalikkan iman dalam perasaan kita terhadap keyakinan pada sang Khaliq. Maka iman itu harus bulat. Selain harus bulat kita harus beriman dengan melibatkan akal, mengapa kita harus percaya pada Allah dan Islam adalah agama yang benar.

Di dunia ini sudah dipasangkan segala sesuatunya, seperti halnya 'benar dan salah'. Artinya, kalau tidak benar, ya salah. Lah kalo benar semua? Agama semuanya benar? Pluralisme contohnya... Loh, kalo benar semua, memang anda mau pindah agama? Gak masalah dong pindah agama karena bagi anda agama itu semuanya sama--Agama itu jelas beda, konsep ketuhanannya saja sudah beda. Akan sangat lucu sekali ketika kita mengaku Islam, tapi menganggap bahwa agama lain juga benar. Krisis aqidah and mental pemahaman ini namanya.

Dilansir oleh cnnindonesia.com, Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi mengatakan jelang perayaan Natal selalu ada pihak yang melarang penggunaan atribut tertentu. Menurutnya, masalah tersebut sebenarnya kecil, tapi sering menghebohkan publik.

Sebab itu, Fachrul meminta masyarakat untuk melapor ke pihak berwajib jika menemukan pelarangan berlebihan jelang Natal, seperti larangan atribut Natal di mal-mal. Fachrul menyebut biar aparat yang punya kewenangan turun tangan mengenai hal tersebut.

Menteri agama saat ini, dari awal telah mendeklarasikan bahwa beliau adalah mentrinya semua agama yang ada di Indonesia. Lebih lucunya lagi, baru-baru ini beliau menampakkan ketidak balance-nya pemahaman beliau terhadap aqidah Islam. Seperti ketidakpahamannya terhadap syariat Islam, begitu juga beliau terang-terangan mengkritisi pemuka agama beserta kemampuan beliau yang hanya hafal Juz 'Amma. Krisis aqidah, sungguh miris dan bahkan secara sistem mulai menggerogoti seluruh aspek kehidupan. Termasuk pemerintahan. Dilihat dari bagaimana beliau mengeluarkan stetmen-stetmen kontroversi, beliau seperti mengalami miskomunikasi dengan para ulama, sehingga sulit memahami atau hanya sekedar diajak tabayun.

Maka jangan heran, orang-orang yang taat agama dibully dan dikata intoleran, sementara mereka yang menyalahi syariat bahkan menghina nabi, dikata kebebasan dan Hak Asasi. Saya jadi ingat tentang oplosan, kalau pluralisme adalam membenarkan semua agama, ini bisa diartikan seperti oplos aqidah. Oplos keyakinan, sebenarnya oplosan aqidah ini menyangkut habluminallah (hubungan kita dengan Allah). Ini sangat bahaya, dari mulai kata-kata "kan saya 'hanya' memakai atribut natal saja, tidak sampai ikut merayakan" sampai kepada kata-kata "kan saya 'hanya' mengucapkan selamat natal saja, tidak ikut merayakan" dan masih banyak lagi. Tapi teman-teman hal ini bukan hal yang sepela, dikatakan hanya, hanya dan hanya, tapi ini masalah kepercayaan kita, aqidah kita sebagai seorang muslim. Larangan pemakaian atribut natal menggambarkan ke-khas-an orang agama lain, yaitu meyakini Tuhan yang lain selain Allah. Mengucapkan selamat natal dan memakai atribut natal adalah bagian dari meyakini keyakinan agama lain benar, dan menunjukan pencampuradukkan aqidah.

Maka saya ingatkan kembali, Rasulullah bersabda :
"Barangsiapa yang berniat menyerupai suatu kaum (non-muslim), maka dia adalah termasuk dalam golongan mereka”. (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al-Musnad, Tirmidzi)

Dikutip dari dalamislam.com, yang dimaksud dengan menyerupai kaum kafir (Tasyabbuh bil Kuffar) adalah ketika kaum muslim menyerupai apa yang dilakukan oleh kaum kafir. Baik itu dalam hal ibadah, aqidah, adat istiadat, hingga gaya hidup yang mereka lakukan termasuk dalam menggunakan atribut natal seperti yang telah dijelaskan di atas. Hal ini menunjukan ciri-ciri kekafiran yang telah mereka lakukan. (Imam Shan’ani, Ali Ibrahin Mas’ud)

Sudah ada gambaran 'kan men-temen, tentang bagaimana larangan memakai atribut khas agama lain? Sebagai umat Islam dimana Allah telah menjabarkan seluruh aturan dalam aspek kehidupan, haruslah dengan nyata kita wujudkan. Salah satunya dengan berpatok pada syariat, hukum Islam dimana sebagai umat Islam kita wajib melakukan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Sebab akibat itu bagian dari hikmah, sementara melaksanakan atau tidaknya, itu adalah wujud dari iman kita, aqidah kita.

Sebagai penutup, kita menilik makna toleransi dalam Islam. Satu ayat dari surat pendek yang in syaa Allah kita hafal dan melekat kuat dalam akal dan hati kita. Allah berfirman:
Ù„َـكُÙ…ْ دِÙŠْÙ†ُÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙ„ِÙŠَ دِÙŠْÙ†ِ
"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6)

Jangan lagi main oplos-oplos yah men-temen, sebab dalam Islam sudah sangat indah dimaknai, toleransi itu menghargai keyakinan umat agama lain, tanpa mengikuti keyakinan agama lain. Save your aqidah, guys, sis! Happy December!!![AR]

Posting Komentar

0 Komentar