Oleh: Ayu Hamzah
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Oktober 2026 menandai tepat tiga tahun sudah peristiwa Thufan Al-Aqsha. Memoar yang panjang dan tidak pernah sunyi dari ancaman terus terbayang dalam ingatan kaum muslim. Detik ini pun senapan dengan peluru panas masih bersuara di setiap jengkal tanah yang mereka pijaki. Dentuman bom dan asap yang menyeruak di tengah kota masih dirasakan anak-anak tidak bersalah di Palestina. Tiga tahun sejak peristiwa Thufan Al-Aqsha, sampai kapankah penderitaan ini berakhir?
Data statistik yang dikumpulkan dari beberapa media berdasarkan laporan Kementerian Pendidikan Palestina tercatat sebanyak 20.748 pelajar Palestina dan 1.058 tenaga pendidikan menjadi korban konflik. Pasukan Israel disebutkan juga telah menahan 416 pelajar sekolah dan 481 mahasiswa di wilayah tersebut (metrotvnews.com, 07-10-2026).
Menurut informasi yang dikutip dari (stg.ntvnews.id, 08-10-2026), Tepi Barat Palestina yang diduduki penjajah Israel meningkat dalam periode yang sama. Terhitung sebanyak 1.210 warga Palestina tewas, 13.350 mengalami luka-luka, dan 24.600 orang ditahan tentara penjajah Israel. Informasi yang diambil dari media luar Al Jazeera menyatakan jika ditotal, korban jiwa selama tiga tahun berlangsungnya konflik sejak Thufan Al-Aqsha Oktober 2023 lalu mencapai 74.000 nyawa. Data tersebut bahkan dipastikan belum konkret karena diperkirakan lebih banyak dari jumlah yang disebut mengingat kematian di luar identifikasi rumah sakit juga tidak sedikit.
Kesepakatan "gencatan senjata" mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, serangan dan pembunuhan terhadap warga Palestina terus berlanjut. Sedikitnya, 1.460 nyawa warga Palestina gugur di saat masa gencatan senjata diumumkan tengah hari waktu itu. Kebenaran pahit memang menerima fakta bahwa pernyataan gencatan senjata masih menjadi tameng untuk bisa membungkam dunia sesaat agar Palestina dilupakan.
Nasib Pendidikan di Palestina
Terhitung sebanyak 700.000 anak berusia 4 hingga 17 tahun menjadi korban dampak konflik perang yang sampai sekarang terus menyasar kalangan anak-anak dan pemuda. Penyasaran target perang kepada anak-anak dan pemuda menandakan sinyal permusuhan yang amat nyata meskipun yang dihadapi hanyalah anak-anak kecil dan pemuda tanpa perlengkapan militer.
Pemuda dan anak-anak tidak lagi bisa merasakan berangkat ke sekolah dengan semangat untuk mencari ilmu. Dikisahkan sebanyak 420.000 anak-anak Palestina kehilangan layanan pendidikan formal selama tiga tahun konflik terjadi. Hal tersebut diperparah dengan rusaknya fasilitas penunjang pendidikan yang diperkirakan menghancurkan 98% fasilitas yang sudah ada.
Pengecaman nasib pendidikan anak-anak Palestina belum membuahkan hasil, melainkan hanya dukungan moral dan materi oleh orang-orang peduli kemanusiaan. Namun, itu semua belumlah cukup menjamin keselamatan anak-anak dan pelajar Palestina yang berjuang di tanah mereka. Butuh perlindungan nyata dan kekuatan besar yang bisa mengontrol itu semua lalu satu per satu mewujudkan kedamaian hakiki yang dicita-citakan generasi Al-Aqsha.
Serangan bertubi-tubi dari segala sisi yang dilakukan penjajah zionis Israel bukan tanpa alasan. Pengaruh pertarungan ideologi kuat kaitannya dalam memetakan persoalan Palestina berdasarkan sejarah peradaban dunia. Bagaimana tidak, peran Amerika dan Inggris dulu dan sekarang konsisten berjalan sesuai alur sejarah global.
Serangan yang semakin brutal dan bengis bahkan sudah melewati batas akal sehat manusia karena menodongkan senjata pada anak-anak atau pelajar patut dipertanyakan dan dikritisi dunia. Penguasaan sedikit demi sedikit wilayah Palestina adalah implementasi paradigma peperangan ala sistem dunia saat ini, yaitu model penjajahan, sehingga tidak heran semua kalangan dari wilayah yang diduduki dianggap sebagai musuh dan wajib dimusnahkan.
Pelajar dan pendidik harusnya menjadi salah satu kelompok yang juga dilindungi dalam peperangan. Jaminan itu tidak bisa terpenuhi jika solusi yang dipakai untuk konflik Palestina dengan zionis adalah solusi semu buatan kafir penjajah. Bagaimana kita mau mengharapkan datangnya solusi dari pencetus lahirnya negara biang kerok penjajahan?
Kekuatan Negara Islam
Ketiadaan junnah atau perisai umat Islam yang hilang 100 tahun yang lalu pada masa kekhilafahan terakhir di Turki menjadi tamparan keras untuk kembali menyadarkan umat bahwa ada posisi yang dihilangkan dunia saat ini.
Penjajahan yang dilakukan zionis Israel terbukti tidak bisa dihentikan dengan solusi yang dihadirkan sistem dunia saat ini. Butuh kekuatan global yang mengakar dan menjaring seluruh umat Islam di dunia untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Kekuatan itu juga bisa dipergunakan untuk menerapkan seluruh syariat Islam dalam kehidupan bernegara. Hal yang sama pernah dicontohkan Rasulullah saw. sebagai seorang rasul sekaligus kepala negara yang tegas menerapkan seluruh aturan Islam di Madinah.
Islam pada masa Rasulullah saw. tidak hanya dibaca sebagai Al-Qur'an dan bukan hanya ditemui lalu diterapkan di masjid atau bulan Ramadan saja. Islam diterapkan sampai ke pengaturan politik negara sehingga yang dijalankan sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan sunah. Alhasil, jika ditarik pada konflik Al-Aqsha saat ini, juga tentunya akan menjadikan syariat Islam sebagai metode mengambil kebijakan.
Kebijakan itu adalah jihad yang dipimpin pemimpin negara Islam atau khalifah sebagaimana dicontohkan Rasulullah dalam peperangan melawan Yahudi. Hal demikian selaras dengan paradigma perang (jihad) dalam sistem Islam, yaitu membebaskan manusia dari kekufuran, bukan untuk melakukan penjajahan atau genosida sama yang dilakukan oleh zionis Israel saat ini.
Jihad dalam Islam juga dipergunakan untuk membela kehormatan kaum muslim dan menjamin kehidupan yang layak bagi setiap individu yang mau hidup di bawah naungan negara Islam. Islam sangat menjaga adab berperang seperti menjaga warga di pihak lawan untuk terhindar dari dampak perang, misal anak-anak, perempuan, lansia, bahkan fasilitas masyarakat tidak akan tersentuh senjata apa pun.
Menjaga nyawa dan harta masyarakat tidak bersalah adalah prioritas yang Islam pakai sebagai prinsip berperang. Seharusnya umat Islam sadar dengan potensi yang dimiliki umat ini apabila bersatu menghentikan genosida yang terjadi di Gaza, Palestina. Kaum Yahudi waktu masa Islam berjaya dulu bisa diatasi dengan solusi yang sama, maka harusnya umat bisa belajar memahami itu semua dari bagaimana Rasulullah saw. meramu strategi berperang yang efektif. Dasar-dasar kepemimpinan ala Rasulullah tidak berhenti sampai Rasulullah wafat saja, melainkan selalu ada saat pemimpin mau mempelajari, karena Al-Qur'an dan Sunah masih ada hingga kehidupan ini. Persoalan Palestina layaknya butuh solusi dari hadirnya kepemimpinan Islam, selain sebagai bentuk rasa persaudaraan sesama muslim, juga wujud dari penerapan meninggikan syariat Allah Swt. dengan membumikan Al-Qur'an dan sunah yang sudah diwariskan Rasulullah saw.
Termasuk dalam menjaga nasib pendidikan anak-anak korban perang adalah kewajiban yang akan diprioritaskan negara agar pemuda atau pelajar tetap bisa bersekolah dan menuntut ilmu kembali secara normal pascapereperangan. Islam memandang pendidikan sebagai suatu urgensi yang patut dioptimalkan dalam setiap kondisi negara.
Sudah waktunya umat sadar dan buktikan dengan mendalami syariat Islam dalam model yang sama seperti yang diajarkan Rasulullah saw. untuk jaminan hidup tentram dan damai di dunia yang sementara ini, mari gunakan waktu dan tenaga kita memperjuangkan agama Allah sehingga bisa membawa kita pada kebahagiaan abadi, yaitu surga-Nya.
Rasulullah saw. bersabda:
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الْØ¥ِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ
"Sesungguhnya al-imam (pemimpin) itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakangnya (mendukungnya) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya." (H.R. Muslim No. 3428).[]


0 Komentar