Subscribe Us

PARADIGMA ISLAM TENTANG AI: BAIK ATAU BURUK?



Oleh: Ummu Ridha
(Aktivis Muslimah)


Vivisualiterasi.com - Teknologi komunikasi adalah penggunaan teknologi modern meliputi perangkat, peralatan, dan perangkat lunak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Baik melalui telepon kabel maupun telepon seluler, serta media visual dan audio. Sepanjang sejarah, manusia telah mengembangkan berbagai sarana komunikasi, mulai dari tulisan, gambar, dan ukiran hingga penggunaan televisi, radio, komputer, dan perangkat pintar. Lalu, saat ini muncullah AI.

AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan adalah teknologi dalam bidang komputer yang dirancang agar sistem mesin atau komputer mampu meniru kemampuan kognitif manusia, sifat, belajar, mengenai pola, hingga memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk "Bapak AI" dunia, menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan" AI.

Dikutip dari Detiknet, Kamis (1 Oktober 2026) di Jakarta. Dalam pidatonya, matematikawan tenar Inggris Alan Turing berteori bahwa mesin cerdas suatu saat berpotensi mengambil alih kendali masyarakat.

"Akan ada banyak hal harus dilakukan dalam upaya, misalnya menjaga kecerdasan kita agar tetap setara dengan yang ditetapkan mesin. Sebab sangat mungkin bahwa begitu metode berpikir ini dimulai, tak butuh lama bagi mereka untuk mencapai kemampuan kita yang lemah," ujar Turing yang dikenal karena perannya memecahkan kode Enigma Nazi pada Perang Dunia II.

Di saat mesin berpotensi berada di ambang super, CEO Anthropic, Dario Amodei, baru-baru ini menghidupkan kembali ketakutan masa lalu tersebut ke konteks saat ini dengan memperingatkan kawanan AI mungkin akan mengambil alih kendali internet. Namun, kenyataannya tak semudah itu.

Alasan utama ilmuwan komputer menepis kekhawatiran bahwa AI dapat merebut kendali web dari manusia adalah karena internet tidak bersifat monolitik, melainkan terdiri dari sistem jaringan luas yang saling terhubung.

"Internet adalah jaringan dari berbagai jaringan tempat miliaran perangkat terhubung melalui router, switch, dan titik aktif, Wi-Fi," kata Vishal Misra, pakar komputerisasi dan IA di Columbia University.

"Keberagaman tersebut adalah sebuah pertahanan. Tidak ada sekelas pusat yang bisa bila dimatikan, dan ada satu sistem operasi tunggal yang bisa disusupi," jelasnya yang dikutip dari Detiknet dari CBS.

Sisi lain yang perlu diperhatikan dari penggunaan AI di antaranya:

1. Risiko ketergantungan, penggunaan yang terlalu instan dapat mengurangi daya kritis dan kreativitas, terutama di kalangan pelajar.
2. Akurasi verifikasi, jawaban data dari AI tidak selalu benar 100%, sehingga tetap memerlukan pengecekan ulang dari sumber terpercaya.

Bahaya Utama Teknologi AI

1. Ancaman privasi dan keamanan data. Data pribadi yang dimasukkan ke dalam layanan AI sering kali disimpan dan digunakan untuk melatih ulang sistem, sehingga rentan terhadap kebocoran atau penyalahgunaan.
2. Risiko pengangguran massal. Otomatisasi berbasis AI dapat menggantikan peran manusia di berbagai sektor seperti manufaktur, layanan pelanggan, administrasi, hingga logistik.
3. Bias dan diskriminasi algoritma. Sistem AI dilatih menggunakan data masa lalu yang kerap mewarisi prasangka sosial, sehingga dapat menghasilkan keputusan diskriminatif.
4. Dampak buruk pada lingkungan. Pusat data (data center) raksasa yang menjalankan AI sangat "haus energi" dan membutuhkan jutaan galon air untuk pendinginan yang mempercepat krisis iklim serta pemborosan sumber daya air.
5. Ketidakpastian tanggung jawab. Sulit menentukan siapa yang harus bertanggung jawab ketika sistem AI melakukan kesalahan fatal di bidang hukum, medis, atau militer.
6. Erosi interaksi sosial. Ketergantungan pada layar dan virtual assistant dapat mengurangi komunikasi langsung antarmanusia.

Demikian ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa berisiko pada kehancuran kehidupan manusia. Lantas, bagaimana Islam mengatur teknologi informasi dan komunikasi, termasuk di dalamnya tentang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)?

Manusia diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah fil ardhi. Islam juga menetapkan hukum yang tegas, segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadarah (dipengaruhi ideologi) dan madaniyah (netral).

AI adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia, namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Kemajuan luar biasa dalam sistem informasi, komputerisasi, sistem komunikasi, dan jaringan yang disaksikan dunia saat ini telah merambah hingga ke detail-detail terkecil dalam kehidupan manusia.

Sebagai umat Islam, kita tidak boleh bersikap antisains, namun juga tidak memuja teknologi secara berlebihan, karena AI hanya alat bantu revolusi industri yang pintar karena data. Tetapi AI tidak memiliki kesadaran, kreativitas sejati, serta kemampuan berpikir kritis seperti manusia. Manusia tidak perlu khawatir tersisih jika tetap mengoptimalkan keimanan.

Penerapan yang benar dalam pandangan Islam, teknologi (termasuk AI) dikategorikan sebagai sains terapan bersifat madaniyah umum yang bebas nilai selama digunakan untuk kemaslahatan, mempermudah urusan publik, dan pelayanan kesehatan umat.

Mengenai Artificial Intelligence (AI), menempatkan teknologi ini sebagai alat atau sarana yang hukum asalnya mubah (boleh), namun pemanfaatannya wajib diikat dan distandarisasi oleh akidah Islam.

Akidah Islam sebagai tolok ukur, penekanannya bahwa asas kehidupan dan landasan berpikir bagi setiap muslim. Dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi seperti AI, akidah berfungsi sebagai standar penilaian (tolok ukur pemikiran dan perbuatan).

Secara akidah, Islam tidak pernah menolak kemajuan teknologi, termasuk (AI). Agar pikiran dan hati seorang muslim tidak dibiarkan kosong atau didominasi oleh pemikiran sekuler yang dibawa oleh algoritma teknologi modern, AI harus diletakkan murni sebagai alat bantu belajar yang positif. Sementara kendali berpikir dan keyakinan mutlak harus tetap bersumber pada akidah Islam yang kafah.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar