Subscribe Us

ZAITUN, SIMBOL IDENTITAS PALESTINA YANG TERKOYAK


Oleh: Finis
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Jelang panen buah zaitun Oktober mendatang, buldoser militer Israel secara tiba-tiba meratakan sekitar 31 dunam (31 ribu meter persegi) lahan milik petani Palestina di Kota Beit Rima, barat laut Ramallah, pekan lalu. Akibatnya, lebih dari 400 pohon zaitun hancur hanya beberapa hari sebelum dimulainya panen tahunan (cnnindonesia.com, 28/9/2026).

Pohon zaitun merupakan simbol identitas lokal Palestina yang telah dibudidayakan di seluruh Palestina selama ribuan tahun dan telah menjadi simbol ketahanan Palestina terhadap pendudukan Israel. Dari perkebunan zaitun ini, lebih dari 90.000 keluarga Palestina bergantung secara ekonomi. Bahkan mampu menyumbangkan 8 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), sedangkan lebih dari 15 persen pekerjanya adalah perempuan.

Kejadian penyerangan terhadap pertanian zaitun sudah berlangsung lama. Eskalasinya makin meningkat pada musim panen, yaitu sekitar bulan Oktober—November. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2012 oleh The Applied Research Institute Jerusalem (ARIJ) memperkirakan bahwa sejak tahun 1967 pihak berwenang Israel telah mencabut 800.000 pohon zaitun Palestina di Tepi Barat. Bahkan menurut Komite Palang Merah Internasional (ICRC), tahun lalu lebih dari 9.300 pohon zaitun dihancurkan. Selain penghancuran fisik pohon zaitun, banyak petani Palestina di Tepi Barat memerlukan izin Israel untuk mengakses tanah mereka di dekat permukiman ilegal Israel.

Sejak awal musim panen zaitun pada 2026 ini, sudah terjadi sekitar 200 serangan oleh Israel dan didukung IDF (militer nasional Israel) yang menimbulkan satu orang Palestina tewas, lebih dari 120 orang Palestina luka, dan lebih dari 2.500 pohon zaitun dirusak. Di saat yang sama, puluhan pemukim Israel bertopeng menyerbu petani yang sedang memanen zaitun. Di tengah serangan itu, Heidi Levine (jurnalis The Washington Post) berusia 64 tahun jatuh lalu dikeroyok, ditendang berkali-kali, sementara kamera dan ponsel dirampas oleh pemukim Israel.

Adanya peristiwa ini, Marco Rubio, Sekretaris Luar Negeri AS, mendesak pihak berwenang Israel untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku kekerasan guna mencegah krisis atau ketegangan baru di Tepi Barat. Sementara Mike Huckabee, Dubes AS untuk Israel, juga mengecam keras atas insiden tersebut dan menyebut serangan terhadap jurnalis tanpa bersenjata merupakan tindakan pengecut yang harus dijatuhi hukuman penjara.

Uni Eropa juga mengecam serangan keras yang diduga dilakukan pemukim Israel terhadap utusan diplomat Prancis, Belgia, dan Polandia di Desa Taybeh dekat Ramallah. Kunjungan ini sebagai bentuk dukungan kepada warga Palestina yang sedang memanen zaitun. Namun, kecaman yang terus berulang tanpa diikuti dengan tindakan nyata, tak akan mampu menghentikan kebiadaban Israel sebagai negara ilegal di Palestina.

Sesungguhnya tujuan pemukim Israel merusak pohon zaitun dan menyerang para petaninya adalah untuk melemahkan perekonomian warga Palestina. Zaitun bukan sekadar ketahanan ekonomi Palestina, melainkan simbol sejarah ketahanan dan ikatan turun-temurun warga Palestina dengan tanah mereka. Pemukim Israel mengacaukan seluruh tatanan kehidupan warga Palestina agar warga Palestina pergi dari tanah mereka sendiri. Sedangkan penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis adalah supaya mereka berhenti membersamai petani Palestina saat panen zaitun dan untuk menutupi kekejaman dan kejahatan mereka agar tidak terekspos kepada dunia.

Kepedulian AS terhadap Palestina semata-mata dikarenakan adanya penyerangan terhadap jurnalis warga negara AS dan para diplomat Uni Eropa. Kecaman dari Uni Eropa selama ini belum pernah berhasil pada level tindakan apa pun. Dunia tidak melihat akar permasalahan yang sesungguhnya yang terjadi di Palestina sehingga kecaman sekeras apa pun terhadap Israel tidak akan pernah mengubah kondisi Palestina.

Pendudukan di Palestina oleh Israel selama berpuluh-puluh tahun memang banyak mengundang kebencian warga dunia. Kecaman dan hujatan sebagai wujud simpati pada Palestina terus mengalir dari berbagai negara di dunia. Namun sayang, semua itu tidak ada perubahan yang berarti terhadap kondisi Palestina. Bahkan Israel makin brutal. Bukan sekadar genosida yang dilakukan, tetapi melumpuhkan segala aspek kehidupan di Palestina, termasuk ketahanan ekonomi.

Sementara itu, para penguasa muslim, terutama negara-negara Arab, hanya diam melihat saudara mereka dibantai bertahun-tahun lamanya, hingga mereka hampir terusir dari wilayah mereka sendiri akibat keserakahan bangsa Israel. Penguasa negeri-negeri muslim di sekitar Palestina hanya berdiam diri, bahkan bergandengan erat dengan musuh-musuh Islam, yaitu Israel dan AS.

Menurut syariat Islam, tanah Palestina adalah tanah milik kaum muslimin. Status tanah Palestina adalah tanah kharajiyah, tanah yang diperoleh melalui jihad dan penaklukan pada masa kekhalifahan yang dipimpin oleh Amirulmukminin Umar bin Khattab ra. Oleh karena itu, Palestina memiliki porsi istimewa bagi kaum muslimin yang harus tetap dipertahankan hingga hari kiamat. Namun sayangnya, kondisi Palestina saat ini makin memprihatinkan. Mereka berjuang sendiri demi mempertahankan tanah yang diberkati. Ribuan nyawa mereka korbankan, tanpa kenal menyerah.

Berharap pada lembaga internasional seperti PBB atau ICJ (Mahkamah Internasional) tidak mengubah kondisi Palestina. Israel tetap melakukan pelanggaran-pelanggaran yang makin memberatkan kondisi Palestina. Berharap pada penguasa-penguasa negeri kaum muslimin, hasilnya juga nihil. Mereka lebih memilih mengamankan eksistensi mereka di wilayahnya masing-masing. Mereka lebih memilih bergandengan tangan dengan musuh Islam daripada menolong saudara mereka yang terzalimi.

Untuk itu, penting membangun kesadaran umat bahwa kaum muslimin adalah umat yang satu. Nasionalisme adalah cara musuh Islam mencerai-beraikan kaum muslimin agar sulit untuk bersatu. Umat Islam adalah umat yang besar dan tangguh yang tak butuh bergantung pada musuh-musuhnya. Membangun kesadaran politik di tengah umat sangatlah penting dilakukan saat ini. Umat Islam butuh institusi pemerintahan yang mampu menyatukan seluruh negeri-negeri kaum muslimin di dunia hingga menjadi kekuatan besar yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Institusi ini adalah negara khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Khalifah adalah seorang pemimpin yang dengan keimanannya kepada Allah Swt. siap menerapkan Al-Qur'an dan As-Sunnah secara kafah di tengah-tengah kehidupan kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin telah bersatu di bawah naungan khilafah, satu-satunya langkah yang diambil oleh seorang khalifah untuk menghentikan kerakusan Israel, AS, dan sekutu-sekutunya adalah dengan mengirimkan tentara kaum muslimin di bawah kepemimpinannya. Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Ajhizah menyebutkan, "Setiap muslim wajib berjihad dan wajib berlatih dalam rangka jihad. Karena itu, kaum muslimin seluruhnya merupakan pasukan cadangan karena jihad wajib atas mereka, di samping pasukan tetap (reguler) demi menjaga kecemerlangan Islam dan melindungi kaum muslimin dari kehancuran akibat dari serangan kaum kafir."

Sesungguhnya, jihad dan khilafah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan menjadi kekuatan besar umat Islam. Hanya dengan inilah umat Islam akan kembali berjaya dan memimpin dunia.
Wallahu a'lam.[]

Posting Komentar

0 Komentar