Subscribe Us

PALESTINA MASIH TERJAJAH, UMAT BUTUH KEKUATAN GLOBAL


Oleh: Raudhatul Jannah
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Pohon zaitun di Palestina bukan sekadar pohon. Melainkan mata pencaharian dan garis keturunan, ketahanan ekonomi, serta urat nadi historis yang menghubungkan warga Palestina dengan tanahnya sendiri.

Lebih dari 90.000 keluarga Palestina menggantungkan hidupnya dari pertanian zaitun, sektor yang menyumbang sekitar 8% PDB mereka. Namun, fakta inilah yang justru menjadi sasaran.

Penyerangan terhadap pertanian zaitun sudah berlangsung lama, namun mirisnya eskalasi selalu naik saat musim panen, sekitar bulan Oktober hingga November. Sejak awal panen 2026, tercatat sekitar 200 serangan oleh pemukim ilegal Israel yang didukung IDF. Korbannya satu orang Palestina tewas, lebih dari 120 luka-luka, dan lebih dari 2.500 pohon zaitun yang sengaja dirusak (CNN Indonesia, 28 September 2026).

Bukan hanya petani saja yang jadi korban, jurnalis AS, diplomat Eropa, aktivis, bahkan politisi ikut diserang secara brutal (Al Jazeera, 16 Oktober 2026).

Marco Rubio sebagai Menteri Luar Negeri AS dan Mike Huckabee sebagai Duta Besar AS untuk Israel menyatakan kekhawatiran atas peristiwa penyerangan jurnalis AS dan diplomat Eropa dan meminta Israel menyelidikinya.

Uni Eropa mengecam keras serangan terhadap diplomatnya dan para petani zaitun. Namun, hingga hari ini kekerasan terhadap rakyat Palestina tetap berulang meskipun kecaman demi kecaman telah disampaikan.

Pengikisan akar zaitun di Palestina bukan sekadar kerusakan ekologis atau pertanian semata, melainkan strategi sistematis untuk penghapusan identitas, budaya, dan fondasi ekonomi rakyat Palestina sehingga memaksa mereka untuk pergi dari tanahnya sendiri. Kebiadaban ini juga menyasar jurnalis dan aktivis yang mendampingi petani saat musim panen ikut diserang. Tujuannya hanya satu, yaitu agar kekejaman Israel tidak terekspos dan tidak terlihat oleh dunia. Israel ingin kejahatannya tetap gelap dan tidak ada suara.

Penyerangan pohon zaitun ini bukanlah kebrutalan oknum yang berdiri sendiri. Ia adalah buah busuk dari pohon beracun:

Pertama, ideologi Zionisme dan Imperialisme, yang meyakini bahwa tanah Palestina adalah milik mereka dan warga aslinya layak diusir.

Kedua, ideologi Nasionalisme dan HAM sekuler yang menjadi paradoks matriks dunia hari ini. Dunia baru berteriak kencang tentang kemanusiaan ketika korbannya adalah warga negara mereka (diplomat Eropa, jurnalis AS), tetapi bungkam ketika korbannya adalah rakyat Palestina selama puluhan tahun. Ini membuktikan bahwa nilai kemanusiaan dan HAM sekuler tidak pernah universal, tetapi transaksional berdasarkan kewarganegaraan dan kepentingan geopolitik.

Kecaman EU belum pernah berhasil pada level tindakan apa pun. Kecaman tanpa tindakan hanya menjadi retorika kosong yang tidak pernah menghentikan kebrutalan Israel. Karenanya, kebencian warga dunia terhadap Israel sudah menumpuk. Demo ada di mana-mana, unggahan viral berjilid-jilid, namun fakta di lapangan apa yang berubah? Petani tetap diserang tiap panen. Kecaman memang meredakan hati kita, tetapi tidak sama sekali menghentikan buldoser.

PBB yang katanya penjaga perdamaian telah mengeluarkan lebih dari 200 resolusi terkait Palestina, namun semuanya seperti pistol tanpa peluru. Mengapa? Karena PBB didesain dengan hak veto Amerika, sang penjajah besar. PBB bukan solusi, tetapi alat penjajah untuk melanggengkan penjajahan.

Umat Islam yang berjumlah 2 miliar terpecah menjadi lebih dari 55 negara-bangsa dengan sekat nasionalisme. Akibatnya, ketika Palestina dibantai, Mesir, Yordania, dan Turki yang memiliki tentara besar hanya bisa mengecam, bukan mengirim tentara. Mereka tersandera oleh kepentingan nasionalisme sempit dan perjanjian dengan AS. Di belakang layar, mereka berangkulan dengan para pejabat entitas Yahudi, menggelar karpet merah, dan menandatangani kerja sama ekonomi. Ini tampak sekali dengan ditandainya bergabungnya penguasa negeri-negeri muslim ke Board of Peace (BoP), atau biasa disebut sebagai dewan perdamaian. Dewan yang dipromosikan sebagai jalan damai bagi konflik di Palestina.

Board of Peace digagas dan dipimpin oleh AS, juga memiliki jejak panjang sebagai penjajah besar. Melakukan kudeta dan penghancuran negeri-negeri muslim seperti Afganistan, Suriah, Sudan, serta negeri kaum muslim lainnya yang menjadi korban. Jika yang terzalimi adalah saudara seiman dan yang punya kekuatan diam, lalu kita mau berharap pada siapa?

Jika negara tetangga bisa tidur nyenyak, sedangkan penduduk Palestina hingga hari ini masih terus terusik keamanannya, melumpuhkan perekonomian dengan cara menyerang pertanian zaitun, maka tanggung jawab pembebasan Palestina adalah fardu kifayah dan butuh kekuatan global baru yang bisa menentang dan menghadapi kejahatan Israel, AS, dan sekutu-sekutunya untuk menghentikan penjajahan atas Palestina.

Berbeda secara diametral dengan sistem sekuler, Islam memandang persoalan Palestina bukan sekadar masalah kemanusiaan, melainkan masalah akidah dan hukum syarak. Palestina dan segala yang ada di dalamnya adalah kepunyaan kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Palestina adalah tanah kharajiyyah yang statusnya tetap seperti itu hingga hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyyah kepada pihak lain, apalagi kepada penjajah seperti AS, Israel, dan penjajah kafir harbi lainnya. Sikap kita semestinya adalah seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Hamid II yang menolak segala bentuk penyerahan tanah Palestina kepada kaum kafir meskipun hanya sejengkal, meski dibayar dengan emas sepenuh dunia.

Islam juga tidak mengenal nasionalisme. Solusi Islam bukan donasi, diplomasi, atau doa semata. Solusi Islam adalah kekuatan militer global. Allah Swt. berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Q.S. Al-Maidah: 50)

Ketika sistem sekuler menawarkan resolusi, Islam menawarkan jihad dan pembebasan. Sejarah mencatat, di bawah naungan Khilafah selama 14 abad, Palestina aman. Kekuatan Khilafah menjadi pusat peradaban, pendidikan, sains, ekonomi, politik, dan militer yang ditakuti musuh.

Kondisi Palestina saat ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak bisa menggantungkan nasibnya pada pembelaan siapa pun kecuali pada dirinya sendiri dengan hadirnya kesatuan umat dengan satu kepemimpinan global, yaitu khilafah. Solusi tuntas masalah ini tidak cukup dengan mengirimkan donasi, diplomasi, atau doa semata, akan tetapi harus dengan mewujudkan persatuan yang hakiki yang akan menghilangkan batas-batas wilayah negeri dengan negeri-negeri yang lain.

Penjajahan atas negeri-negeri muslim oleh imperialis Barat akan terus berlangsung akibat negeri-negeri muslim tercerai-berai dalam ikatan yang sempit, yaitu nasionalisme.

Kekuatan sistem khilafah tentu bukan sebagai sarana romantisme masa lalu. Ini adalah fakta sejarah. Peradaban Islam di bawah naungan khilafah pernah menjadi kekuatan global independen selama sekitar 14 abad lamanya. Kekuatan utama yang dimiliki umat Islam yang tersebar di lebih 55 negara saat ini adalah kesamaan akidah Islam yang merupakan dasar dari ideologinya. Kekuatan ideologi yang didukung oleh berbagai potensi yang dimiliki umat Islam di dunia berpeluang besar membangun negara adidaya di bawah institusi khilafah. Sejarah telah mencatat bahwa dulu khilafah mampu menjadi pusat peradaban dunia. Khilafah mampu menjadi pusat pendidikan, sains, dan teknologi, serta memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang tangguh di level global.

Satu-satunya cara untuk menghentikan kezaliman Israel, AS, dan sekutu-sekutunya adalah dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslim di bawah kepemimpinan khilafah. Bagaimana agar negeri-negeri muslim yang memiliki kekuatan militer mengarahkan tentaranya, sedangkan kita mengetahui bahwa para pemimpinnya telah tersandera dengan kepentingan politik negara adidaya? Jawabannya adalah pada metode dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu dengan menerapkan Islam secara kafah dan satu institusi negara.

Jika Ali bin Abi Thalib di level usia 8 tahun saja mampu menjadi pembela Rasulullah di medan paling berbahaya, mengapa kita yang di level usia 17, 20, 25 tahun masih beralasan hanya bisa donasi dan berdoa?

Inilah yang akan menyelamatkan umat, mengembalikan kemuliaan, menguatkan kekuatannya, dan membuat musuh-musuh kaum muslim berpikir seribu kali sebelum menyerang, dan itu hanya dengan kembalinya khilafah dan bumi bercahaya dengan kebaikan serta keadilannya. Jika tidak, maka umat Islam akan terpuruk dan terzalimi sebagaimana saat ini yang telah lama hilang. Dengan demikian, yang harus diupayakan oleh umat Islam adalah berjuang menegakkan khilafah di muka bumi. Dengan ini, Islam terjaga dan terlindungi dari musuh-musuhnya serta mengemban dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar