Oleh: Alimah Ika Fikria
(Pendidik dan Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Tahukah kalian tentang kelezatan rasa cumi dengan berbagai bumbu rempah yang ada? Hmm, rasanya memang nikmat. Namun, kita juga mengetahui harga cumi yang sangat fantastis bila sudah berada di piring kita. Di balik kelezatan cumi yang kita rasakan, ada harga nyawa yang harus dibayar oleh para Anak Buah Kapal (ABK) dalam menangkap cumi-cumi. Bukan saja mereka harus bertarung melawan ganasnya laut di malam hari, terlebih saat badai tiba, kerap kali para ABK juga mendapatkan penganiayaan fisik dari kru kapal.
Kasus penganiayaan terhadap Anak Buah Kapal (ABK) kembali terjadi di sektor maritim. Telah dialami oleh empat orang Anak Buah Kapal (ABK) yang mendapatkan penganiayaan karena tidak memenuhi target tangkapan cumi sebanyak 3 kilogram per hari. Empat ABK kapal penangkap cumi KM Maulana 23 diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh kru dan pengelola kapal saat berlayar di perairan timur Indonesia. Kasus ini terbongkar setelah video dan foto kondisi korban yang memprihatinkan viral di media sosial. Patroli siber Polres Pelabuhan Tanjung Priok yang menemukan konten tersebut langsung menindaklanjuti laporan. Keempat korban diidentifikasi bernama Ilhas Sya'labudin, Oktavian Maghriza, Johan Saputra, dan Syawal Suswono. Mereka direkrut pada akhir Juli 2026 dengan rute pelayaran dari Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, menuju Merauke, Papua Selatan (Wamanews.id, 3 Oktober 2026).
Miris memang nasib para pekerja ABK ini. Mereka biasanya mencari pekerjaan dengan informasi minim dari web-web yang ada tentang pekerjaan melaut. Terkadang pekerjaan melaut untuk yang belum berpengalaman akan dijanjikan dengan upah yang besar serta jam kerja yang pendek. Melaut dengan mencari ikan, cumi, atau yang lainnya adalah tangkapan yang harus didapat oleh para ABK tersebut. Biasanya tangkapan tersebut juga bisa menjadi makanan ABK selama berada di laut. Namun, yang dialami empat ABK pada kapal KM Maulana 23 lain ceritanya, mereka tidak berhasil mencapai target tangkapan sebanyak 3 kilogram dalam sehari. Maka, konsekuensi yang didapat adalah penganiayaan oleh kru kapal. Artinya, dari perusahaan kapal tersebut, para ABK tidak mendapat jaminan keselamatan kerja serta tidak adanya pengaduan yang bisa dilakukan oleh para ABK.
Karena sulitnya mendapat pengaduan untuk para ABK, maka akses korban terhadap bantuan hukum untuk mendapat kompensasi menjadi sulit. Yang seharusnya perusahaan bertanggung jawab kepada para pekerja tentang keselamatan kerja atau memberi sanksi tegas terhadap kru kapal yang melakukan kekerasan kepada ABK. Hal ini seperti pembiaran yang sengaja terjadi karena perusahaan sudah mengeluarkan sejumlah upah, maka target yang harus didapat kru dan ABK harus sesuai standar yang diinginkan. Beberapa perusahaan perikanan memenuhi pasokan pasar yang ada, baik nasional maupun internasional. Artinya, ketika satu kapal tidak mencapai target tangkapan, maka yang menanggung risiko adalah ABK.
Sistem ekonomi kapitalisme akan menjadikan perusahaan selalu menginginkan target tercapai agar tujuan akhirnya, yaitu mendapat keuntungan yang banyak. Perusahaan perikanan tidak akan melihat jauh risiko bisnis yang dijalankan ada pada pekerja terhadap keselamatan ABK atau kondisi para pekerja. Mereka hanya membayar upah sesuai ketentuan undang-undang saja, bahkan kerap kali mengupah minim. Namun, perusahaan selalu mendorong para pekerja untuk mendapatkan target besar demi keuntungan besar. Sistem kapitalisme ini tidak hanya merusak, tetapi juga menghancurkan perekonomian yang ada serta menghancurkan keluarga para korban ABK.
Tata kelola ekonomi kapitalistis oleh negara menjadikan sumber daya alam dikuasai segelintir kapitalis saja, sedangkan rakyat hanya dijadikan pekerja saja yang tidak merasakan hasil SDA tersebut. Biasanya rakyat juga mendapat dampak bencana dari ini, nelayan kecil tidak mendapat tangkapan, kerusakan laut akibat memakai ranjau atau pukat harimau yang ilegal. Jika pemerintah serius kepada para ABK, setidaknya pemerintah serius menangani kasus penganiayaan yang kerap terjadi pada ABK. Memberi kemudahan pengaduan dan menanggapi dengan cepat. Pola pikir kapitalistis ini menjadikan negara gagal melindungi ABK.
ISLAM MELINDUNGI ABK
Islam akan selalu melindungi para pekerja, baik di darat maupun di laut, karena negara berkewajiban mengurusi rakyat sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (H.R. Bukhari).
Penguasa juga adalah pelindung rakyat. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya." (H.R. Muttafaqun 'Alaih).
Dalam penerapan ekonomi Islam akan selalu melihat dan menjamin ketersediaan kebutuhan dasar orang per orang seperti sandang, pangan, dan papan, sehingga para ABK yang melaut jauh dari rumah dan keluarganya akan merasa aman dan terlindungi, keluarga yang ditinggalkannya juga mendapat perlindungan dari negara. Karena negara juga akan selalu mengontrol berbagai perusahaan atau tempat para ABK bekerja. Negara akan memberi sanksi tegas kepada perusahaan perikanan jika ada ABK merasa dirinya terancam, baik harta maupun nyawa sekalipun.
Wallahu a'lam bish-shawab.[]


0 Komentar