Subscribe Us

SANTRI DI ERA DIGITAL: MENJAGA ADAB, MENGUASAI DIGITAL


Oleh: Alimah Ika Fikria 
(Pendidik dan Aktivis Islam)


Vivisualiterasi.com - Hari Santri Nasional 2026 sebuah momentum menguatkan nilai agama dan adab dengan membawa tema: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Bukan saja menjaga khittah dalam perjuangan Islam melawan penjajah serta pewaris ilmu Islam, momentum ini juga diwarnai bagaimana peran santri bisa menghidupkan perubahan negeri pada era digitalisasi. Seperti peringatan Hari Santri 2026 diarahkan menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam pembangunan Indonesia. Tidak hanya sebagai pewaris tradisi keilmuan Islam, santri diharapkan tampil sebagai generasi berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, dan mampu berkontribusi di berbagai bidang. Arah tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026 tentang Panduan Pelaksanaan Peringatan Hari Santri 2026. Menteri Agama Nasaruddin Umar menetapkan tema Hari Santri tahun ini, yaitu "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". (Kemenag, Rabu, 7 Oktober 2026)

Dalam peran penting santri di tengah masyarakat, masyarakat juga mempertanyakan bagaimana peran santri bisa berjuang di tengah gempuran teknologi canggih serta gempuran ideologi-ideologi Barat yang merusak. Tembok pemisah antara dunia luar dengan dunia pondok pesantren seakan menjadi pertanyaan besar yang selalu hadir dalam pikiran masyarakat. Sebagian masyarakat masih menganggap kecerdasan buatan akan mengubur peran santri buta terhadap teknologi sehingga tidak bisa bersaing untuk kehidupan ekonominya atau bahkan ketika di dunia luar ia dianggap ketinggalan zaman.

Namun, sebagian mempunyai pandangan berbeda, di mana gempuran teknologi canggih akan merusak adab dan kemurnian ilmu Islam. Penggunaan AI akan terus digunakan ketika mempermudah mencari jawaban ilmu fikih. Para santri tidak lagi banyak berdiskusi kepada para guru, padahal ilmu butuh jawaban kompleks yang bisa mengarahkan kepada guru kompeten. Belum lagi berinteraksi di dunia maya dengan bahasa yang mulai mengikuti orang-orang di media sosial. Sesuatu di luar dugaan juga bisa terjadi ketika adab seorang santri belum cukup kuat untuk menyaring konten-konten yang berseliweran sehingga ia mudah untuk mengikutinya, seperti joget di TikTok atau bahkan menyebarkan informasi ayat-ayat dari internet tanpa tabayun terlebih dahulu kepada para guru.

Penyalahgunaan teknologi inilah yang menjadi pertanyaan besar. Mereka salah mengartikan kecerdasan buatan adalah sesuatu yang baru, yang apa-apa serba boleh dilakukan dan dimanfaatkan dari AI. Mereka disibukkan dengan dunia maya yang mencari jati diri, berkonten agama, tetapi tidak sesuai syariat Islam. Selain itu, santri dianggap tidak bisa mandiri dalam pergaulan, bahkan di dunia luar para santri seakan hanya menjadi pengangguran ketika keluar dari pondok. Dianggap ilmu agama tidak bisa menghidupi kehidupan saat ini dengan persaingan dunia luar dengan menggunakan teknologi canggih.

Dalam menjawab semua itu, Kementerian Agama menegaskan bahwa kiprah dan pengabdian santri senantiasa relevan dari masa ke masa. Jika sejarah mencatat kontribusi santri dalam perjuangan kemerdekaan, perjuangan tersebut kini menemukan bentuk baru melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, serta pengamalan nilai agama dan kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Islam dalam Dunia Santri

Islam menjadikan peran santri akan selalu hidup di tengah masyarakat. Selain menjadi tombak perjuangan dalam berdakwah menyebarkan kebenaran Islam di tengah masyarakat, sistem Islam juga memberikan pendidikan akidah akhlak yang berbasis pada agama Islam. Mengedepankan adab yang lebih utama daripada ilmu karena adab akan selalu dibawa sampai akhir hayat. Inilah yang menjadi dasar negara Islam menjadikan kurikulum Islam harus ada dalam pondok pesantren bahkan sekolah-sekolah formal lainnya.

Ilmu agama akan mengajarkan adab yang baik terhadap guru dan terhadap teman dalam berinteraksi. Pendidikan pondok pesantren juga selain diajarkan agama, mereka diajarkan menguasai kecanggihan teknologi kecerdasan buatan. Bagaimana menggunakan AI dengan bijak tanpa menjadikan AI sebagai sesuatu yang agung yang apa-apa selalu bertanya ke AI.

Santri juga diajarkan lebih terampil menggunakan teknologi untuk mencari peluang bagaimana mengembangkan dakwah Islam melalui dunia maya, bukan bertujuan meraup keuntungan ekonomi. Bisa berkonten dengan baik dan menggunakan bahasa yang santun. Santri perlu dibekali dengan kemampuan digital yang positif agar mereka mampu bersaing di tengah kemajuan zaman, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak dan adab Islam, dalam firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 201,

"Dan di antara mereka ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka'."

Ada banyak cara mengenalkan ilmu agama pada dunia luar dengan kecanggihan teknologi, seperti ilmu bahasa Arab daring, tahsin, ilmu fikih daring, bahkan lainnya dengan merujuk pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Media sosial hanya sebagai sarana penyedia konten untuk disebarluaskan. Negara memberikan kontribusi kuat kepada peran santri agar bisa menjadikan teknologi menjadi sarana dakwah. Negara akan menutup celah pintu kemaksiatan dari konten-konten sampah.

Maka, peran santri sebagai agen perubahan masa depan generasi muda akan terus maju, bukan saja ilmu agama, tetapi bijak dalam kecanggihan teknologi dan membawa Indonesia menjadi maju serta berakhlak mulia.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar