Oleh: Raudhatul Jannah
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin pesat dan mulai digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, di balik teknologi yang canggih ini, sejumlah pihak mulai menyuarakan kekhawatiran tentang AI.
Baru-baru ini sejumlah peneliti kecerdasan buatan, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dijuluki "bapak AI modern", menerbitkan riset yang mewanti-wanti pemerintah di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi apa yang disebut ledakan kecerdasan AI.
Artinya apa? Sederhananya, AI berkembang begitu cepat hingga suatu saat bisa jauh melampaui manusia, bahkan mampu memperbaiki dan mengembangkan dirinya sendiri.
Teknologi ini mulai digunakan untuk merangkum dokumen, menyusun strategi bisnis, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu pengambilan keputusan berbasis data. Bagi dunia usaha, teknologi ini menjadi lompatan besar dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Di bidang medis misalnya, AI dapat membantu mendeteksi penyakit lebih cepat dan menemukan obat. Namun, siapa sangka di balik kecanggihan dan manfaat yang besar tersebut sejumlah peneliti kecerdasan buatan juga menyebut tiga risiko besar. Pertama, ancaman biologis dan siber, misalnya dipakai untuk merancang senjata biologis atau meretas sistem penting suatu negara. Kedua, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, artinya AI mengambil keputusan sendiri tanpa dapat dikontrol manusia. Ketiga, ancaman perang antarnegara karena negara-negara bisa berlomba-lomba memakai AI sebagai senjata.
Penggunaan AI bisa untuk kebaikan, tetapi sangat mungkin juga dipakai untuk kejahatan. Misalnya peniruan identitas. Mungkin kita berpikir bahwa deepfake hanya menjadi perhatian bagi figur publik yang wajah dan suaranya ditempatkan pada posisi fiktif yang membahayakan, tetapi ancaman bagi semua orang itu nyata. Dengan teknologi AI, seseorang dapat ditiru melalui video, suara, atau kombinasi keduanya. Hal ini rentan digunakan untuk mendapatkan akses informasi sensitif atau bahkan rekening bank dengan mengelabui prosedur keamanan dan verifikasi.
Ledakan kecerdasan buatan atau AI tanpa kendali akidah dan syariat Islam berisiko menghancurkan kehidupan manusia. Betapa pun, sistem yang digunakan hari ini adalah sistem kapitalisme sekuler. Keuntungan materi menjadi salah satu pendorong utama dalam pengembangan teknologi. Perusahaan berlomba-lomba menciptakan AI yang semakin canggih demi memenangkan persaingan dan memperbesar keuntungan. Sementara itu, negara berlomba-lomba menguasai teknologi untuk kekuatan militernya.
Akibatnya, ketika keuntungan dan persaingan menjadi prioritas, keselamatan manusia dan dampak lingkungan berisiko dikesampingkan. Teknologi terus dikembangkan, bahkan ketika penggunaannya menyimpan bahaya. Persoalannya bukan semata-mata pada kecanggihan AI, melainkan pada sistem nilai dan kepentingan yang mengarahkan pemanfaatannya.
Dalam pandangan Islam, kemampuan berpikir dan berinovasi merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia. Persoalan teknologi tidak berhenti pada kecanggihan alat. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah dengan akal dan diberi amanah untuk mengelola bumi.
Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat di atas menegaskan bahwa manusia diberi akal untuk mengelola kehidupan dan membangun peradaban. Teknologi pada hakikatnya adalah hasil ikhtiar manusia.
Dalam perspektif Islam, hasil pemikiran dan perkembangan teknologi perlu dilihat berdasarkan sifat, nilai, serta tujuan penggunaannya.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam membedakan dua hal yang kerap dicampuradukkan, antara hadarah dan madaniyah. Hadarah merupakan kumpulan pemahaman tentang kehidupan dan sangat dipengaruhi oleh akidah, sedangkan madaniyah adalah bentuk fisik hasil karya manusia, seperti peralatan, mesin, dan teknologi yang bersifat umum dan netral. Perbedaan ini menjadi petunjuk untuk membedakan persoalan teknologi AI.
Sebagai produk teknologi, AI tergolong madaniyah. Namun, AI bukan sekadar mesin biasa. AI dilatih dari lautan informasi, pemikiran, dan pandangan hidup, lalu memprosesnya menjadi keputusan. Apa yang dimasukkan akan membentuk apa yang keluar. Jika data dan nilai yang membentuknya bernapaskan satu ideologi, keputusan yang dihasilkan akan membawa warna ideologi itu, tetapi sering kali tidak disadari oleh penggunanya. Maka, AI tergolong unik. Wujudnya madaniyah, tetapi isi yang mengalir di dalamnya dapat membawa hadarah.
Hadrah Islam didasarkan pada keimanan kepada Allah Swt. Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam, manusia, dan kehidupan. Aktivitas manusia dalam kehidupannya mengintegrasikan materi dengan ruh. Kebahagiaan dalam hadarah Islam adalah memperoleh rida Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Karena itu, AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kukuh dan tunduk pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Sebaliknya, AI di tangan yang mengeliminasi aturan syariat sebagai dasar perbuatannya dapat menyebabkan kerusakan.
Oleh karena itu, teknologi AI dalam penggunaannya memerlukan aturan yang mengikat dan standar yang tidak berubah menurut kemauan individu yang menggunakannya. Syariat Islam bukan sekadar seperangkat ritual, melainkan sistem yang mengatur seluruh kehidupan. Kemajuan yang sesungguhnya bukan sekadar kemampuan menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan kemampuan menempatkan teknologi berdasarkan aturan syariat yang telah ditetapkan Allah Swt.
Peradaban Barat dengan sistem kapitalismenya telah membawa banyak penderitaan dan bencana kemanusiaan. Kapitalisme global terbukti gagal dalam menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Lahirlah berbagai kerusakan, seperti kerusakan ekonomi, sosial, budaya, moral, politik, dan sebagainya.
Hal yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslim, khususnya di negeri ini yang mayoritas penduduknya muslim, adalah sudah saatnya kaum muslim berani berhijrah, yakni meninggalkan sistem kehidupan sekuler kapitalisme menuju sistem kehidupan yang sahih, yakni sistem Islam.
Sayangnya, kesadaran kolektif tentang pentingnya kaum muslim berhijrah dari sistem dan peradaban sekuler jahiliah saat ini menuju sistem dan peradaban Islam masih sangat rendah. Padahal, di hadapan kita tampak nyata kerusakan sistem dan peradaban sekuler. Kita sendiri sesungguhnya korban langsung dari kerusakan sistem dan peradaban sekuler tersebut, seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi dan sosial, ketidakadilan hukum, kerusakan moral, dan lain sebagainya.
Secara global pun, peradaban kapitalisme sebetulnya sedang sakit parah. Yang paling kentara misalnya aspek moral. Bagaimana seks bebas, bahkan LGBT misalnya, yang jelas-jelas menjijikkan, seolah menjadi budaya baru yang tidak boleh ditolak. Puluhan negara Barat bahkan sudah melegalkan perkawinan sejenis. Belum lagi tingginya kesenjangan ekonomi dan melonjaknya angka kriminalitas.
Semua ini sejatinya menjadikan kaum muslim sadar bahwa mereka wajib meninggalkan sistem dan peradaban sekuler kapitalisme yang rusak dan merusak, kemudian berusaha menegakkan sistem dan peradaban Islam yang pasti penuh rahmat dan diridai Allah Swt.
Dengan ini, individu, masyarakat, dan negara diharapkan berperan aktif dalam mengarahkan perkembangan teknologi agar sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah memimpin dunia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi bukan hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengintegrasikan pemikiran ilmu dengan prinsip-prinsip etika yang dilandasi iman. Hal ini hanya dapat terwujud dalam naungan Khilafah Islamiah. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan syariat secara kafah dalam naungan khilafah harus dipahami sebagai perjuangan mewujudkan perubahan demi menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.
Wallahu a'lam bish-shawab.[]


0 Komentar