Oleh: Heriani
(Pena Ideologis Maros)
Vivisualiterasi.com - Indonesia yang dijuluki sebagai negara paru-paru dunia kini sedang di ambang kesulitan bernapas. Ibarat dilema yang mematikan: dihirup meracuni, tidak dihirup mati. Keadaan yang membahayakan kesehatan masyarakat ini dipicu oleh kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan kabut asap pekat serta membawa malapetaka bagi setiap makhluk hidup.
Saat ini kabut asap karhutla telah memasuki bulan keempat yang masih mengepung berbagai wilayah dengan menyisakan kualitas udara beracun. Kondisi ini tentunya sangat berbahaya bagi setiap orang yang punya penyakit bawaan, seperti asma dan gangguan saluran pernapasan. Berbagai fakta mengenai kasus kehilangan nyawa terus saja berjatuhan akibat pekatnya kabut asap yang tak kunjung usai.
Seperti yang terjadi pada seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Hardiansyah (41) yang merupakan warga Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, yang meninggal dunia pada hari Jumat, 2 Oktober 2026, setelah mengalami sesak napas akibat tebalnya kabut asap. (Kompas.com)
Petaka lain yang dilahirkan oleh kabut asap karhutla juga sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas sebab membatasi jarak pandang bagi setiap pengemudi kendaraan. Baru-baru ini terjadi tabrakan beruntun yang melibatkan sembilan kendaraan, mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan lima orang mengalami luka-luka. (metrotvnews.com)
Ini hanyalah sebagian kecil dari petaka yang ditimbulkan oleh kabut asap karhutla. Di samping itu, masih banyak bencana lain yang jauh lebih berat mengancam keselamatan masyarakat. Kejadian ini seolah menyadarkan kita akan gagalnya negara dalam memberi perlindungan bagi keselamatan masyarakat, sekaligus berlepas tangan dalam menjaga kelestarian alam.
Terungkapnya kegagalan negara dalam mengurus dan melindungi masyarakat serta melestarikan alam membuktikan bahwa sistem yang diterapkannya sangat tidak mampu memberi perlindungan hakiki. Sebaliknya, sistem tersebut justru menjadi akar dari timbulnya berbagai permasalahan, termasuk bencana karhutla yang menimbulkan asap tebal beracun.
Sistem Malapetaka
Karena itu, wajar jika berbagai petaka terus terjadi sebab semuanya bersumber dari sistem yang memang membawa malapetaka, yakni sistem kapitalisme. Sistem ini sejatinya lahir dari pemikiran manusia yang lemah dan dipenuhi keserakahan dalam meraup keuntungan tanpa memikirkan halal-haram ataupun baik-buruknya suatu tindakan.
Dengan demikian, terjawablah sudah mengapa berbagai kerusakan dan bencana ini terus berulang tanpa ujung. Sistem kapitalisme inilah akar dari seluruh karut-marut yang terjadi tanpa mampu memberikan solusi yang efektif atas segala kerusakan yang diciptakannya.
Selain terbukti menjadi sumber terjadinya kerusakan, sistem kapitalisme juga tampak abai terhadap penerapan sanksi yang tegas dan menjerakan. Oleh karena itu, wajar saja jika bencana ini terus berulang setiap tahunnya, meninggalkan penderitaan bagi masyarakat serta makhluk hidup lainnya.
Mengenai kerusakan alam ini sejatinya telah disinggung langsung oleh Sang Pencipta, yakni Allah Swt., dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Ayat ini menjadi sindiran bagi kita manusia sebagai makhluk yang diamanahi oleh Allah Swt. untuk menjaga dan memelihara kelestarian alam dengan menerapkan aturan hidup yang diturunkan-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kesimpulannya, manusia hanyalah makhluk yang lemah dan memiliki keterbatasan. Karena itu, sebagai makhluk lemah dan terbatas, sudah sepatutnya manusia hanya menerapkan aturan yang berasal dari Sang Pencipta (Allah Swt.) semata tanpa membuat aturan sendiri. Sebab, apabila meninggalkan aturan Allah Swt., kerusakan pun akan mengikutinya.
Sistem Rahmatan Lil 'Alamin
Untuk bisa merasakan atau menikmati keberkahan dari sebuah sistem kehidupan, langkah pertama yang mesti dilakukan adalah menyingkirkan sistem kapitalisme buatan manusia dan beralih pada sistem aturan Islam yang benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Mengapa sistem Islam dinyatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam? Sebab sistem Islam senantiasa mengutamakan kemaslahatan seluruh umat manusia yang mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Untuk itu, negara dalam sistem Islam berperan sebagai tameng utama untuk melindungi dan menjaga kemaslahatan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, "Seorang imam (pemimpin) adalah ra'in (pengurus/penjaga) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya."
Rasulullah saw. juga bersabda: "Sesungguhnya al-imam (khalifah/pemimpin) itu hanyalah sebuah perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim)
Maka, dalam sistem Islam, perlindungan dan penjagaan untuk mencapai kemaslahatan hidup akan terjamin oleh negara yang dipimpin oleh seorang khalifah yang dibekali dengan akidah yang kukuh dan takut kepada Allah Swt. apabila tidak menjalankan amanah dalam memimpin.
Adapun terkait kesehatan yang merupakan hak dasar bagi setiap umat, negara secara tangguh akan melindungi umat dari pencemaran udara kotor, seperti asap karhutla yang berujung pada malapetaka bagi keselamatan jiwa.
Terakhir, mengenai sanksi, sistem Islam menetapkan sanksi yang tegas dan menjerakan seberat mungkin bagi pelaku pelanggaran aturan Islam, termasuk pembakaran hutan dan lahan yang menimbulkan asap tebal beracun yang membahayakan keselamatan makhluk hidup serta merusak kelestarian lingkungan.
Sungguh hanya dengan sistem Islam di bawah naungan khilafah, seluruh makhluk hidup akan terjamin kemaslahatannya serta dinaungi dengan keberkahan rahmatan lil 'alamin. Allah Swt. berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya ayat 107)
Wallahu a'lam bish-shawab.[]


0 Komentar