Oleh: Syaharudin
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Kita hidup pada zaman ketika jawaban dapat diperoleh hanya dengan sentuhan jari. Kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), Google, dan berbagai platform digital telah memudahkan manusia mengakses informasi dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan penting: apakah semakin mudah kita memperoleh informasi, semakin dalam pula pemahaman kita terhadap ilmu?
Jangan sampai kecanggihan teknologi melahirkan generasi yang cepat memperoleh jawaban, tetapi lambat memahami kebenaran; kaya informasi, tetapi miskin pemahaman; cerdas secara intelektual, tetapi kehilangan adab dan kebijaksanaan.
Kita tidak perlu menolak kemajuan teknologi. AI dapat menjadi alat bantu untuk memperluas wawasan, memahami konsep yang sulit, dan mengembangkan gagasan. Namun, teknologi harus tetap berada pada tempatnya: sebagai sarana belajar, bukan pengganti proses berpikir, bimbingan guru, dan tanggung jawab ilmiah.
Allah Swt. berfirman:
Fas'alu ahlaz-zikri in kuntum la ta'lamun
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (Q.S. An-Nahl: 43)
Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya merujuk kepada orang yang memiliki ilmu. Guru bukan sekadar pemberi jawaban, melainkan pembimbing yang membantu kita memahami dasar-dasar pengetahuan, menimbang kebenaran, dan membangun cara berpikir yang benar.
Jawaban AI bisa terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu benar. Oleh karena itu, setiap informasi perlu diperiksa, setiap pendapat perlu diuji, dan setiap pengetahuan perlu dipahami landasannya. Jangan sampai kita mahir menyalin tulisan, tetapi tidak mampu menjelaskan isinya; pandai mengutip, tetapi tidak memahami maksudnya.
Kemudahan memperoleh jawaban tidak boleh menghilangkan kesungguhan dalam mencari kebenaran.
Belajar dari Keteguhan Para Ulama
Sejarah keilmuan Islam mengajarkan bahwa ilmu tidak dibangun melalui kemalasan dan jalan pintas. Imam Al-Bukhari menempuh perjalanan panjang untuk mengumpulkan dan meneliti hadis. Imam Asy-Syafi'i belajar kepada banyak ulama, termasuk Imam Malik. Sementara itu, Abu Hurairah r.a. dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad saw. yang banyak meriwayatkan hadis dan mengalami kesulitan hidup ketika menyertai Rasulullah saw.
Perjuangan mereka mengajarkan bahwa ilmu membutuhkan kesabaran, ketekunan, pengorbanan, dan kehati-hatian dalam menjaga kebenaran.
Rasulullah saw. bersabda:
Man salaka thariqan yaltamisu fihi 'ilman sahhalallahu lahu bihi thariqan ilal-jannah
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (H.R. Muslim)
Saat ini, akses terhadap pengetahuan jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu. Namun, kemudahan itu seharusnya membuat kita semakin bersungguh-sungguh, bukan semakin malas membaca; semakin tekun mengkaji, bukan semakin bergantung pada kebiasaan menyalin dan menempel (salin-tempel).
Jika para ulama terdahulu rela menempuh perjalanan jauh demi memperoleh ilmu, mengapa kita justru menyia-nyiakan kesempatan belajar yang tersedia dalam genggaman?
Ilmu Harus Berjalan Bersama Adab
Selain pemahaman, ada hal penting yang tidak boleh ditinggalkan dalam proses menuntut ilmu, yaitu adab. Kecerdasan tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan. Pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat menyesatkan. Kemampuan berbicara tanpa penguasaan materi yang memadai dapat menyebarkan kekeliruan.
Allah Swt. berfirman:
Wa qur rabbi zidni 'ilma
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku'." (Q.S. Taha: 114)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang penuntut ilmu harus senantiasa menyadari keterbatasan dirinya. Semakin luas pengetahuan seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya.
Adab berarti menghormati guru, menghargai perbedaan pendapat, berani mengakui kesalahan, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Dalam penggunaan AI, adab juga berarti menjaga kejujuran intelektual: memahami tulisan yang dihasilkan, memeriksa sumbernya, dan tidak mengakui karya orang lain sebagai hasil pemikiran sendiri.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang pandai menggunakan teknologi, tetapi kehilangan kejujuran; mahir menyusun kata, tetapi miskin pemahaman; lantang berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak menunjukkan keteladanan.
Jadikan AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Berpikir
AI dapat membantu proses belajar, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab kita untuk berpikir kritis. Gunakan teknologi untuk mencari referensi, memahami persoalan, dan mengembangkan gagasan. Setelah itu, periksa sumber, bandingkan informasi, diskusikan dengan guru atau ahli, dan pastikan kebenarannya.
Terutama dalam persoalan agama, AI tidak boleh dijadikan satu-satunya rujukan untuk memahami dalil atau menetapkan hukum. Al-Qur'an dan Sunah tetap menjadi pedoman, sedangkan penjelasan ulama yang kompeten dan bimbingan guru membantu kita memahami persoalan secara tepat.
Kita membutuhkan generasi yang mampu menerima kemajuan tanpa kehilangan prinsip, terbuka terhadap teknologi tanpa menjadi budaknya, serta kritis dalam berpikir tanpa merendahkan orang lain.
Sebab, kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa cepat kita memperoleh informasi, melainkan juga seberapa dalam kita memahami ilmu, seberapa jujur kita menjaga kebenaran, dan seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada sesama.
Mari hidupkan kembali tradisi membaca, menulis, berdiskusi, meneliti, dan berguru. Jadikan AI sebagai alat bantu, guru sebagai pembimbing, Al-Qur'an dan Sunah sebagai pedoman, serta adab sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan keilmuan.
Teknologi boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi marwah keilmuan harus tetap terjaga. Jangan biarkan kemudahan mengubur kesungguhan, jangan biarkan kecerdasan melahirkan kesombongan, dan jangan biarkan AI menggantikan proses belajar.
Jadilah generasi yang cerdas tanpa kesombongan, kritis tanpa kehilangan adab, teguh dalam prinsip, serta luas manfaatnya bagi umat dan kemanusiaan.
Sebab, kita tidak hanya membutuhkan generasi yang pandai mencari jawaban, tetapi juga generasi yang bersungguh-sungguh menemukan kebenaran, mengamalkan ilmu, dan menjaga kehormatan tradisi keilmuan. Wallahu a'lam bishawab.[] Dft


0 Komentar