Subscribe Us

ISLAM MENJAWAB FENOMENA DOWNGRADE


Oleh: Venni Hartiyah 
(Pegiat Literasi)

Vivisualiterasi.com - Kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi
"Setiap kalian adalah pemimpin (ra'in) dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (H.R. Bukhari & Muslim)

Di dalam rumah tangga, seorang ayah adalah pemimpin bagi anggota keluarganya. Begitu juga dengan seorang ibu, pemimpin bagi anak-anaknya. Semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Baru-baru ini sedang marak fenomena downgrade, di mana banyak orang menurunkan standar hidup yang sudah biasa mereka jalani. Dari standar gaya makan, belanja, rekreasi, nonton konser, membeli pakaian model baru, gawai baru, bahkan sampai memangkas berbagai macam keinginan yang biasa mereka lakukan.

Dilansir dari Republika.co.id (19-07-2026), media sosial membagikan unggahan warganet tentang gaya hidupnya yang terpaksa harus di-downgrade. Misalnya, ada yang harus beralih naik motor setelah mobilnya dijual, ada juga yang harus menurunkan anggaran makan dan nongkrong. Ringkasnya, mereka beralih ke pilihan barang dan layanan yang lebih murah.

Pakar ekonomi dan bisnis sekaligus dosen di UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi dan bukan pilihan gaya hidup semata. Menurut dia, rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan, dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian.

Kondisi tersebut dalam teori ekonomi lebih dikenal sebagai consumption smoothing, yaitu upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengorbankan konsumsi yang sifatnya sekunder. Dengan demikian, masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sedang ingin berhemat, tetapi karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas. Jika fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi terbesar terhadap konsumsi nasional, ini seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah.

Ketika membaca fakta yang terjadi dengan fenomenalnya downgrade, terutama di kalangan masyarakat ekonomi menengah yang menyumbang paling banyak kasus ini, bisa kita pahami berbagai macam alasan yang melatarbelakanginya. Sebagian besar jelas karena faktor ekonomi, dari suami yang terkena dampak PHK, gaji yang nominalnya tetap tetapi kebutuhan setiap hari selalu bertambah, kenaikan berbagai macam biaya pendidikan dan kesehatan, dan lain sebagainya.

Fenomena viral ini menggelitik para pakar psikolog untuk angkat bicara. Salah satunya mengungkapkan bahwa fenomena ini sudah ada sebelum terviralkan. Bisa disebabkan karena memang untuk lebih memanajemen dan mengontrol keuangan secara sehat. Ketika fenomena ini menjadikan sebagian masyarakat ramai-ramai melakukan, maka ada yang salah dengan keadaan ekonomi Indonesia.

Tidak dimungkiri, sistem kapitalisme membuat gaya hidup hedonisme merebak. Ketika gaji banyak, maka gaya hidup juga semakin bermacam-macam ragamnya. Ketika kesenangan hanya diukur dengan banyaknya materi dan kepuasan jasadiyah, maka kebahagiaan sejati tidak akan pernah diperoleh. Ketika mereka mengukur kebahagiaan hanya dengan banyaknya harta, mobil mewah, pakaian bermerek, atau dengan mengonsumsi makanan enak, maka semua itu tidak akan bisa memuaskan jiwa, bahkan semakin hampa.

Sistem kapitalisme juga meniscayakan aturan Allah dalam kehidupan. Asasnya yang liberal meniscayakan segala macam cara untuk memperoleh keuntungan. Ketika pondasi agama tidak kuat, maka kemungkinan akan banyak pegawai yang korupsi demi mempertahankan gaya hidup ataupun banyak yang melakukan bisnis tipu-menipu.

Bagaimana Islam Memandang Kehidupan Manusia?

Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Az-Zariyat ayat 56 yang artinya: "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

Dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa kita diciptakan di dunia untuk beribadah kepada Allah. Sebagai individu yang beriman dan bertakwa, maka kita harus yakin bahwa rezeki kita sudah dijamin oleh Allah, hanya saja kita yang wajib berusaha, bekerja, dan berdoa.

Sebagai teladan adalah Nabi kita, Muhammad saw. yang selalu menerapkan hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Maka, kita sebagai umatnya juga bisa mencontoh kehidupan sederhana beliau lewat sirah nabi. Ketika mengetahui kehidupan beliau yang sederhana, maka masalah downgrade tidak hanya menjadi tren saat ini, tetapi memang mencontoh Rasulullah.

Selain itu, memang sudah menjadi kewajiban negara dalam mencukupi kebutuhan dasar setiap warganya, seperti sandang, pangan, dan papan secara tidak langsung, dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk para bapak, maka semua kebutuhan dasar itu akan terpenuhi.

Negara sebagai ra'in juga mempunyai tugas untuk menjamin kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keamanan warganya. Negara menyediakan pendidikan yang murah bahkan gratis untuk setiap warga yang masih dalam rentang usia sekolah, menyediakan pengobatan murah dan juga gratis bagi setiap warga negaranya, serta menjamin keamanan bagi setiap warga negaranya.

Ketika semua kebutuhan dasar terpenuhi, maka kehidupan akan stabil. Ketika para bapak bekerja, nafkah yang mereka hasilkan bisa untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan keluarganya, tanpa terbebani biaya-biaya pendidikan dan kesehatan yang menguras kantong seperti saat ini.

Sungguh indah jika Islam kafah ditegakkan.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar