#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Peringatan Hari Santri sering kali hanya sebatas tradisi keilmuan Islam, tanpa makna yang mendalam bagi kehidupan bangsa. Diharapkan santri dapat berkontribusi di berbagai bidang dengan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemandirian ekonomi. Namun, kondisi saat ini seolah urusan negeri bukan tanggung jawab santri.
Dengan lebih dari 4,6 juta santri tercatat di seluruh Indonesia, pesantren semestinya menjadi kekuatan besar yang menjaga tradisi keilmuan Islam sekaligus membangun karakter bangsa. Namun, saat perhatian lebih banyak diarahkan pada keindahan penampilan atau kemenangan dalam perlombaan, pesan utama tentang pengabdian, ketekunan, dan peran strategis santri menjadi kurang terasa. Dampaknya, pengamalan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan berisiko menyempit menjadi sebatas simbolisme belaka.
Santri bukan hanya dipersiapkan menjadi kader ulama, melainkan calon pemimpin yang siap berjuang membangun kembali kejayaan peradaban Islam. Misi besar ini menjadi arah utama pendidikan dan pembentukan karakter santri agar kelak mereka menjadi generasi yang mampu membawa umat menuju kemajuan, keilmuan, dan keadilan di bawah naungan syariat Islam.
Oleh karena itu, sudah semestinya peran santri tidak lepas dari perjuangan dalam mewujudkan berdirinya daulah Islam. Hanya dengan ditegakkannya syariat Islam yang lurus, umat dapat bersatu melampaui batas nasionalisme tanpa sekat, di bawah payung kepemimpinan khalifah dan satu institusi, yaitu khilafah.[] Putri Dwijayanti (Aktivis Peduli Islam)


0 Komentar