Oleh: Sundari Allawiyah, S.E.
(Guru dan Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memilih mundur dari pekerjaannya karena takut AI tidak bisa lagi dikendalikan manusia. Kekhawatiran itu nyata, ketika di Indonesia sendiri investasi pusat data AI raksasa terus digenjot dengan harga jutaan liter air bersih setiap harinya untuk mendinginkan server (CNNIndonesia, 30/09/2026).
Pada tahun 2024, Eropa mengesahkan undang-undang komprehensif pertama di dunia yang mengatur Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Amerika dan Tiongkok adalah negara yang membuat teknologi terkemuka (AI) di dunia. Mereka menekankan pentingnya regulasi untuk mengendalikan perkembangan AI agar tidak lepas kendali (metrotvnews.com, 28/09/2026).
Sejumlah penelitian menilai bahwa rule model AI yang semakin banyak berkembang menunjukkan bahwa Anthropic dan OpenAI akan menciptakan model AI yang mencapai tingkat Artificial Superintelligence (ASI), merupakan sistem kecerdasan buatan hipotetis yang memiliki kemampuan kognitif, penalaran, kreativitas, pemecahan masalah, bahkan jauh melampaui kecerdasan manusia paling cerdas sekalipun.
Lantas, apa dampaknya bagi kita?
Di satu sisi, perkembangan AI dapat memberikan kemudahan kerja di sektor kesehatan dan keuangan. Namun, di sisi lain, ia juga menyimpan bahaya besar bagi manusia. Ketika AI mulai berkembang tanpa ada setir, maka akan menimbulkan kejahatan, penipuan, pornografi, dan bahkan merusak nasab kehormatan seseorang (Kompas, 05/10/2026).
Fenomena ini sudah kita saksikan di media sosial, ada hewan bisa berbicara layaknya manusia, atau orang yang sudah meninggal disulap jadi hidup kembali. Bahkan, yang belakangan viral adalah sosok ustazah berhijab ceramah dengan gaya natural, ternyata adalah AI yang menyamar untuk meraup pundi-pundi rupiah. Sehingga, AI memang bisa digunakan untuk kebaikan, akan tetapi juga sangat berpotensi untuk kejahatan.
Bahaya AI tidak hanya di dunia maya. Justru, bahaya yang pertama kali terasa di dunia nyata karena AI adalah teknologi yang sangat haus terhadap sumber daya alam, yaitu air. Satu pusat data AI membutuhkan jutaan liter air bersih setiap hari fungsinya untuk mendinginkan suhu servernya.
Sementara itu, di Indonesia sendiri investasi pembangunan pusat data AI raksasa terus digenjot. Jika dibiarkan dalam sistem kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan, maka masyarakat sekitar pusat pembangunannya akan terdampak krisis air bersih. Air yang seharusnya jadi kebutuhan rakyat, dialihfungsikan untuk mendinginkan mesinnya.
Yang jadi pertanyaannya, jika investasi raksasa ini terus digenjot, apakah kita rela anak cucu kita berebut air bersih hanya demi server asing?
Ledakan teknologi AI tanpa dikendalikan akidah yang benar dan syariat Islam akan berisiko pada kehancuran hidup manusia, baik secara moral maupun lingkungan. Padahal, manusia diberikan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali Imran ayat 190—191:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'."
Selain itu, manusia diberikan amanah sebagai khalifah fil ardhi (lihat QS. Al-Baqarah: 30). Amanah sebagai khalifah artinya manusia bertugas mengelola bumi sesuai aturan Allah, bukan mengeksploitasinya secara serakah.
Oleh karena itu, Islam menetapkan hukum yang tegas terhadap hasil pemikiran manusia, seperti di dalam kitab Nizhamul Islam karangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, beliau mengatakan, perbedaan antara hadharah dengan madaniyah harus selalu diperhatikan. Madaniyah merupakan produk sains dan teknologi/industri yang tidak terpapar dengan ideologi kufur, boleh digunakan. Yang tidak boleh diambil adalah hadharah, yakni pemikiran yang dipengaruhi oleh ideologi sekuler kapitalisme.
Pada dasarnya, AI merupakan madaniyah. Akan tetapi, ia dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Jika AI dilatih oleh ideologi liberal, maka hasilnya pun liberal. Maka, yang menjadi pertanyaan, mungkinkah AI bisa membawa kemaslahatan jika sistem yang mengatur masih sistem sekuler kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan?
Berbeda dengan itu, penggunaan AI di tangan manusia yang berakidah kukuh dan tunduk pada syariat akan memberikan kemaslahatan. Manusia bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan dalam penggunaan AI.
Berbeda dengan hari ini, pada abad ke-10 ada astrolab yang dibuat oleh Maryam Al-Ijliya atau yang kita kenal sebagai Maryam Al-Astrolabiya yang kegunaannya untuk menentukan arah kiblat. Teknologinya jelas untuk kemaslahatan umat.
Dengan demikian, dalam sistem Islam, teknologi AI tidak dikembangkan tanpa arah, melainkan menjadi sarana untuk menjalankan amanah manusia di muka bumi sebagai khalifah fil ardhi. Maka dari itu, sistem kehidupan manusia dalam penggunaan AI harus diatur dengan sistem Islam agar selamat dan AI dapat dikendalikan dengan aturan syariat Islam. Wallahu a'lam[]


0 Komentar