Oleh: Maimunah Asmu'i
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan peringatan soal potensi ledakan konflik menyusul aksi brutal tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat belakangan. Serangan-serangan itu terang-terangan dilakukan di wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai wilayah Palestina.
Dalam pidatonya pada Selasa waktu setempat di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov menyatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak di bawah umur.
Derita Gaza Belum Sirna
Nyaris menghilangnya pemberitaan mengenai Gaza bukan disebabkan berhentinya tragedi kemanusiaan atas penduduknya. Teror dan genosida terhadap penduduk sipil Gaza belum usai. Bahkan, lebih dari 1.500 anak di bawah umur mengalami luka akibat peluru tajam dan trauma berkepanjangan. Tak hanya penghilangan nyawa, Zionis Israel juga melakukan berbagai tindakan keji dan menjijikkan kepada 3.355 anak-anak yang menjadi tahanan militer.
Serangan Zionis di Tepi Barat yang diakui dunia sebagai wilayah Palestina semakin menunjukkan bahwa belum ada satu pun langkah yang ditempuh oleh pemimpin muslim, baik kecaman atau boikot, yang mampu menghentikan atau mengurangi tindak keji Zionis. Negeri-negeri muslim dan sikap bisu mereka justru membuat Zionis Israel semakin leluasa melakukan genosida, termasuk berbagai aksi teror disertai serangan, perampasan, dan pengusiran terhadap warga Gaza. Terjadi secara terus-menerus dan kian meningkat. Dilakukan secara terbuka di depan mata dunia yang terdiam bak pengecut yang bersembunyi di bawah meja penjajah.
Bius Nasionalisme Akut
Sementara rakyat Gaza meregang nyawa dalam sunyi, pada saat yang bersamaan konflik antara Iran dan AS yang kian memanas turut memalingkan fokus umat muslim dunia. Pengkhianatan demi pengkhianatan dilakukan oleh negeri-negeri muslim Arab dan sekitarnya tanpa sungkan. Sebagaimana kabar terbaru, apa yang dilakukan oleh Turki, Pakistan, dan Arab Saudi yang menandatangani Pakta Pertahanan Makkah adalah bentuk pengkhianatan, pembiaran, serta pengkerdilan makna ukhuwah yang hakiki. Mereka yang dicekam ketakutan akan kehilangan kekuasaan mengabaikan sejarah bahwa mereka bersama Palestina pernah menjadi bagian dari umat dan bangsa yang satu dalam naungan daulah Islam.
Sejak semula tujuan Barat memecah wilayah daulah dan mengangkat antek-anteknya menjadi pemimpin agar mereka menjadi pribadi yang abai pada sekitar. Membangkitkan kembali nilai ikatan yang rendah dengan cinta tanah air yang dibalut erat dalam nasionalisme akut dan membius, rasa kesukuan maupun fanatisme golongan. Sehingga menjadikan kaum muslim memberi sekat khusus di sekeliling mereka yang menutup ikatan akidah dalam ukhuwah islamiyah. Tsaqafah asing yang masuk sedemikian deras melalui budaya dan pendidikan semakin meninggikan individualisme dan membiarkan pemahaman Islam yang sebenar-benarnya. Karenanya, kaum muslim gagal mengenali musuh sejati.
Haram Membiarkan Kejahatan Terjadi
Serangan Zionis di Tepi Barat yang diakui dunia sebagai wilayah Palestina semakin membuktikan bahwa mayoritas negeri Arab dalam genggaman penjajah. Sebuah realitas yang menyedihkan, sebagai negeri yang memiliki banyak penganut Islam justru membiarkan kejahatan terhadap anak-anak terjadi di depan mata mereka. Sedangkan teramat jelas bahwa Islam mengharamkan untuk membiarkan kejahatan terjadi, terlebih terhadap jiwa anak-anak yang membutuhkan perlindungan penuh.
Pembiaran yang terjadi jelas bertentangan dengan prinsip mabda atau ideologi Islam yang sangat menjaga akal, harta, dan jiwa kaum muslim. Telah jelas pula bahwa Islam memberi ruang utuh persaudaraan dalam akidah. Islam juga memberikan rambu-rambu hubungan dengan negara asing hanya sebatas hubungan politik yang berasaskan Islam dan tidak memberi ruang bagi hubungan dengan institusi yang jelas-jelas memusuhi Islam, sebagaimana penjajah AS dan Zionis Israel, atau meminta perlindungan dari mereka dengan alasan apa pun.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَدَعْ اَذٰىهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا
"Dan janganlah engkau (Muhammad) menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah engkau hiraukan gangguan mereka dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung."
(QS. Al-Ahzab : 48)[33]
Dengan demikian, sungguh dalam Islam sebuah institusi milik kaum muslim harus berlandaskan Kitabullah dan Sunah serta dituntut sebuah kemandirian militer dengan keamanan Islam dan kedudukannya yang bertujuan pada penyebaran Islam serta penerapan aturannya. Kemandirian militer mutlak diperlukan sebab intervensi dari asing sekecil apa pun dapat merusak atau merongrong kekuatan dan kedaulatan suatu bangsa. Dalam ayat di atas juga jelas, Islam memerintahkan ketundukan dan perlindungan seorang hamba hanya kepada Rabb-nya.
Peran Militer dalam Islam
Ketika kaum muslim telah memiliki sebuah institusi Islam yang dipimpin Rasulullah di Madinah, yang dilakukan Rasulullah Muhammad saw. pertama kali adalah membuat rambu-rambu hubungan antarsesama muslim juga antar kaum muslim dan selainnya. Tujuannya agar tercipta kestabilan hubungan dalam negeri dalam berbagai aspek. Setelahnya, Rasul mengirim delegasi kepada negeri sekitar sebagai metode bagi penyebaran Islam. Menawarkan Islam secara damai, menyeru penerapan aturan di dalamnya, serta melaksanakan jihad apabila nyata didapati perlawanan yang menghalangi penyebaran Islam. Dalam penyebaran Islam dan pelaksanaan jihad inilah fungsi militer dalam Islam benar-benar diperlukan.
Militer dalam Islam tidak hanya menaklukkan suatu wilayah, tetapi juga berfungsi sebagai pelaksana riayah atau membantu mengurusi negara yang telah masuk ke dalam Islam. Membimbing dan melindungi mereka hingga bangsa tersebut melebur dalam kesamaan pemikiran, pemahaman, dan aturan Islam. Futuhat dalam Islam bukanlah untuk menguasai atau mengeruk sumber daya alam. Futuhat atau penaklukan dalam Islam dalam rangka menuntun manusia kepada tujuan hidup yang hakiki, yakni rida Allah Swt.
Solusi bagi Palestina
Kebiadaban yang terjadi di Palestina adalah tamparan keras bagi realitas kaum muslim. Patut disadari bahwa derita Gaza tak akan selesai hanya dengan boikot dan pengiriman bantuan logistik. Yang wajib dilakukan adalah harus ada upaya kontinu dalam menyuarakan tragedi Gaza. Namun, seruan tersebut tentu tak akan berdampak dan cepat menguap jika hanya dilakukan oleh individu saja. Maka, di sinilah penting adanya suatu jamaah yang memahami benar bahwa Islam adalah ideologi sempurna, berisi aturan dan tata cara penerapannya sebagai sebuah sistem yang akan melindungi kaum muslim. Sebuah jamaah kolektif atau partai politik nonparlemen berideologi Islam yang konsisten dalam menyuarakan kebangkitan sejati. Menggerakkan kaum muslim untuk keluar dari cengkeraman asing. Dengan demikian, seruan tersebut akan lebih terstruktur, aktif, dan masif.
Membuka kesadaran umat akan pentingnya mewujudkan berdirinya kembali institusi Islam demi terwujudnya kemerdekaan yang sebenarnya bagi Gaza dan memuliakan kembali kedudukan kaum muslim di hadapan dunia. Kemerdekaan dan kemuliaan yang hanya bisa dicapai dengan perlawanan militer yang dimiliki sebuah institusi yang berlandaskan Islam kafah.
Wallahu a'lam bishawab.[]


0 Komentar