#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Krisis kehidupan dan penderitaan rakyat saat ini bukanlah sekadar bad news atau debu yang beterbangan di udara, melainkan ada kisah dan jeritan nyata manusia di baliknya. Sayangnya, banyak influencer—seperti Maudy Ayunda yang selama ini dijadikan kiblat karena kecerdasan dan prestasinya—terlihat tone deaf terhadap realitas sosial. Ketika masyarakat luas mengeluhkan sulitnya bertahan hidup serta menanggung dampak bencana alam maupun bencana struktural, para figur publik berkuasa besar justru kerap mempopulerkan narasi mindfulness ala kapitalisme. Pendekatan ini seolah mengajak orang untuk bersikap apatis dan mengabaikan akar masalah melalui teori-teori yang dikemas "keren", padahal persoalan sistemik ini seharusnya disuarakan dan menjadi bahan muhasabah kritis bagi penguasa.
Sikap menormalisasi krisis dan mengalihkan kesalahan pada "pola pikir individu" ini merupakan buah dari paham sekuler-kapitalisme. Dalam sistem ini, negara sering kali lepas tangan dari kewajiban memenuhi kebutuhan dasar rakyat, sementara penderitaan publik disederhanakan sekadar masalah persepsi pribadi yang harus diselesaikan dengan ketenangan jiwa mandiri. Kapitalisme mendidik individu untuk fokus pada kedamaian diri sendiri (mindfulness) tanpa peduli pada ketidakadilan sistemik di sekitarnya. Akibatnya, fungsi kontrol sosial dari figur publik menjadi tumpul dan penguasa makin nyaman bersembunyi dari kewajiban serta tanggung jawab atas krisis yang menimpa rakyatnya.
Hal ini amat jauh berbeda dengan pandangan Islam dalam melihat ujian dan krisis di tengah umat. Islam menempatkan musibah serta penderitaan rakyat bukan sekadar masalah internal individu, melainkan ada variabel struktural yang wajib digali dan menjadi kewajiban negara untuk menyelesaikannya. Dalam sistem khilafah, keberadaan penderitaan sekecil apa pun di mata masyarakat dipandang sebagai urgensi utama yang harus segera dituntaskan oleh penguasa. Umat memiliki hak penuh untuk melakukan muhasabah lil-hukkam (mengkritik dan menuntut penguasa), sementara penguasa menyadari betul bahwa setiap jengkal kesengsaraan rakyatnya akan dimintai pertanggungjawaban yang berat di hadapan Allah Swt. kelak.[] Aubi Atmarini Aiza


0 Komentar