Oleh: Enggar Rahmadani
(Kontributor Visualiterasi Media)
Vivisualiterasi.com - Pengangguran sarjana menembus 1 juta orang. Hal ini ditengarai oleh pertumbuhan lapangan kerja formal yang membutuhkan keterampilan tinggi tidak sebanding dengan jumlah lulusan.
Gelar sarjana tidak dapat menjamin seseorang bebas dari ancaman pengangguran. Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional, per Mei 2026, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang.
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menyebutkan, total penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,22 juta orang. Sekitar 14,31 persen atau 1.033.182 orang di antaranya merupakan pengangguran yang berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3. [kompas.id, 13/08/2026]
Berdasarkan analisis Menteri Ketenagakerjaan, salah satu penyebab banyaknya pengangguran saat ini adalah ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan industri. Faktor lain yang menyebabkan tingginya angka pengangguran adalah berkurangnya lapangan pekerjaan di sektor formal. Mirisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah kurangnya kesiapan mental Gen Z untuk terjun ke dunia kerja dan kebiasaan Gen Z untuk mencari kesenangan hidup.
Melihat fenomena ini, solusi dari pemerintah yaitu mendorong pendidikan dan pelatihan kerja agar terus berorientasi dan melakukan penyesuaian dengan pasar kerja. Pemerintah berharap terjadi sinergi antara pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan dunia kerja sehingga terjadi link and match antara pendidikan dan pasar kerja.
Namun demikian, solusi untuk menekan pengangguran dengan pelatihan vokasi dianggap klise dan tidak akan mampu menyelesaikan masalah pengangguran. Sebab pendidikan vokasi ataupun link and match dunia industri dengan pendidikan hanya akan menghasilkan SDM berkualitas rendah karena terus mengikuti kepentingan industri. Pelatihan ini sejatinya tidak dapat mengubah nasib pekerja menjadi lebih baik ataupun sejahtera, karena hanya akan menghasilkan orang-orang yang nantinya tetap menjadi buruh korporasi.
Model pendidikan seperti ini seolah memenjarakan anak bangsa agar terus menjadi buruh murah tanpa mendapat kesempatan untuk mandiri menciptakan industri sendiri dan berinovasi. Akhirnya, dengan keterbatasan industri yang ada berbanding terbalik dengan banyaknya lulusan baru setiap tahun, sehingga lulusan tersebut tidak mampu terserap dan akhirnya menambah jumlah pengangguran.
Hal ini merupakan akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Negara seolah hanya menjadi perantara antara dunia industri dan angkatan kerja, namun tidak menciptakan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan masyarakat. Negara sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyatnya seharusnya menuntaskan persoalan ini agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar. Nyatanya negara abai terhadap persoalan ini. Negara hanya fokus meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) serta peningkatan investasi dan ekspor. Pemerintah tidak peduli dengan pengembangan industri padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja. Negara berlepas tangan dari tanggung jawab dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya.
Berbeda halnya jika menggunakan sistem Islam. Islam menjadikan negara sebagai pengurus rakyat, termasuk dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Negara akan mempersiapkan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan negara dan rakyat, bukan hanya untuk kepentingan oligarki. Hal ini berdasarkan keumuman hadis Rasulullah SAW: “Seorang imam (kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya.” [HR Bukhari, 844]
Dalam program pendidikan, Islam tidak akan tunduk pada kepentingan industri. Pendidikan dalam Islam fokus mencetak SDM berkualitas, yaitu yang mampu berkontribusi untuk kemaslahatan umat. SDM yang memiliki kepribadian Islam serta bersifat inovatif, kreatif, dan produktif. Dengan begitu mereka akan memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Maka jumlah pengangguran pun akan turun, karena jumlah lapangan pekerjaan akan berbanding lurus dengan jumlah pencari kerja.
Melalui pendidikan Islam, generasi akan dicetak memiliki kepribadian Islam yang bermental kuat dan siap mengarungi kehidupan dengan bersandar pada syariat Islam. Selain itu, dalam Islam negara berkewajiban memahamkan rakyatnya, termasuk generasi, terkait kewajiban laki-laki balig untuk bekerja. Negara akan memastikan para laki-laki bekerja dan mampu memenuhi kewajibannya. Dengan begitu terciptalah kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Dalam negara Islam, negara juga memberikan bantuan modal bagi rakyat yang ingin berwirausaha berupa uang, lahan, sarana dan prasarana produksi, dan lain sebagainya. Di sisi lain, orang-orang yang lemah atau tidak mampu bekerja juga akan diberikan santunan.
Selama 13 abad masa kejayaan Islam telah terbukti bahwa sistem ekonomi Islam mampu menyejahterakan seluruh warganya. Sebagai contoh, mari kita tengok kisah di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang rakyatnya tidak ada yang berhak menerima zakat. Begitu pula kisah kegemilangan Khalifah Harun ar-Rasyid yang mengosongkan baitulmal hingga tidak ada satu pun rakyatnya yang kelaparan. Oleh karena itu, persoalan pengangguran hari ini hanya akan terurai dalam negara yang menerapkan Islam kafah, Khilafah Islamiah.
Wallahu a’lam.[]


0 Komentar