#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Sikap kritis Muslim yang dulu membuat Islam berada di masa keemasan kini sangat merosot jauh ke dalam lubang kesesatan. Dalam kasus Yaqut Cholil — koruptor dana haji ini — sikap tersebut bukan hanya tidak etis, tetapi juga memperlihatkan pergeseran teologis yang amat serius terhadap makna salawat itu sendiri.
Salawat yang hakikatnya adalah permohonan rahmat, penghormatan, dan pemuliaan terhadap nilai keadilan, justru bergeser menjadi tameng dan alat mobilisasi simpatisan. Padahal jelas, ada banyak sesama Muslim yang dirugikan dalam kasus ini. Seharusnya salawat itu ditujukan kepada korban, bukan kepada pelaku.
Sayangnya, sistem sosial-politik hari ini menyuburkan budaya malas berpikir masyarakat, khususnya kaum Muslim. Jelas hal ini harus segera dihentikan, karena sangat berbahaya jika Muslim menjadi taklid buta. Muslim harus terus mempertanyakan banyak hal agar budaya literasi kembali di tengah-tengah kaum Muslim. Agar Muslim tidak mudah terjebak pada pengultusan individu problematik — yang menjual agama demi keuntungan sendiri — dan kembali kepada masa di mana Muslim tidak takut berpikir.[] Aubi Atmarini Aiza (Novelis)


0 Komentar