Oleh: Wahyuni Musa
(Aktivis Muslimah)
Vivisualiterasi.com - Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kembali diselenggarakan oleh jutaan umat Islam di berbagai penjuru negeri dengan penuh suka cita dan rasa khidmat. Kementerian Agama bahkan mengajak 1.781.945 umat Islam untuk bershalawat bersama sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi keselamatan bangsa [sindonews.com, 15/9/2024]. Pada saat yang sama, berbagai pemangku kepentingan menyerukan agar momen Maulid dijadikan sebagai ajang menumbuhkan kecintaan serta meneladani akhlak mulia Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari [rri.co.id, 16/9/2024]. Setiap tahunnya, perayaan Maulid senantiasa dipenuhi pembacaan shalawat, tabligh akbar, hingga pawai megah yang menyedot perhatian publik. Namun, apabila dicermati secara mendalam, rangkaian peringatan tersebut kerap kali berhenti pada tataran ritual, seremonial, dan luapan emosional belaka.
Pembahasan mengenai ittiba’ atau meneladani Nabi Muhammad ﷺ di tengah masyarakat masih sangat terbatas pada aspek akhlak individu dan ibadah ritual semata. Diskusi yang berkembang belum menyentuh tingkat kesadaran politik-ideologis untuk mengubah sistem jahiliah modern yang meniscayakan penghambaan kepada selain Allah, menuju sistem Islam yang menegakkan syariat-Nya secara menyeluruh. Padahal, di tengah keterpurukan sosial, ekonomi, dan moral yang melanda, tuntutan perubahan fundamental sebenarnya telah menggema di tengah umat Islam, hanya saja arah dan metode perubahan yang diambil masih sangat jauh dari garis perjuangan yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Maulid sering kali diposisikan sebatas ekspresi kecintaan sentimental tanpa melahirkan konsekuensi ideologis yang nyata dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Padahal, dalam pandangan Islam, rasa cinta yang hakiki kepada Rasulullah ﷺ tidak mungkin dipisahkan dari keterikatan penuh terhadap risalah politik dan perjuangan hukum yang beliau bawa. Reduksi ini mengakibatkan umat Islam kehilangan kesadaran kritis bahwa mereka saat ini sedang hidup di bawah cengkeraman penghambaan kepada selain Allah yang berlangsung secara sistemik.
Kehidupan bermasyarakat dan bernegara saat ini diatur oleh ideologi kapitalisme-sekuler beserta turunannya seperti sistem demokrasi dan liberalisme. Sistem ini secara sadar menempatkan hukum buatan manusia dan hawa nafsu di atas hukum Allah Swt., serta menjadikan materi dan dunia sebagai orientasi utama kehidupan. Sistem kapitalisme global beserta para penyokongnya akan selalu berusaha keras memelihara status quo dan menghalangi setiap suara kebangkitan umat yang menuntut perubahan hakiki. Mereka mengarahkan potensi kebangkitan umat agar terjebak dalam reformasi parsial atau kompromi politik yang tidak mengubah akar masalah, sehingga Islam tidak pernah benar-benar diterapkan sebagai sebuah sistem kehidupan.
Oleh karena itu, momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ harus dikembalikan pada hakikatnya yang mendasar, yaitu sebagai sarana mengembalikan makna ittiba’ secara utuh dan totalitas. Meneladani Nabi ﷺ bukan sekadar mengambil sebagian ajaran beliau yang bersifat individu lalu mencampakkan ajaran beliau yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat dan negara. Allah Swt. secara tegas berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Ayat ini memberikan petunjuk yang sangat jelas bahwa bukti kebenaran cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ittiba’, yakni tunduk dan terikat secara mutlak pada seluruh syariat Islam serta metode perjuangan [thariqah] yang dibawa oleh Nabi ﷺ tanpa memilah dan memilih.
Penerapan sistem kapitalisme-sekuler di negeri-negeri Muslim saat ini telah menimbulkan kerusakan multidimensional yang nyata. Kondisi ini mewajibkan seluruh umat Islam untuk berjuang mencabut sistem jahiliah tersebut dan menggantinya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan kepemimpinan Islam global, yaitu institusi Khilafah Islamiah. Perjuangan menegakkan kembali kehidupan Islam ini bukanlah sebuah ide utopis, melainkan sebuah kewajiban syar‘i yang jalannya telah dicontohkan secara terperinci oleh Rasulullah ﷺ saat beliau membangun masyarakat Islam pertama di Makkah hingga berdirinya Daulah Islam di Madinah.
Metode perjuangan Rasulullah ﷺ bersifat baku dan wajib diikuti oleh seluruh gerakan dakwah Islam. Metode tersebut ditempuh melalui tiga tahapan utama yang terstruktur.
Tahapan pertama adalah tahap pembinaan dan pembentukan, di mana fokus utama dakwah adalah merekrut dan membina individu-individu beriman dengan akidah dan tsaqafah Islam yang tangguh agar terbentuk kelompok dakwah yang ideologis.
Tahapan kedua adalah tahap berinteraksi dengan masyarakat, di mana kelompok dakwah melakukan pembongkaran terhadap pemikiran dan hukum-hukum jahiliah, melakukan kritik politik terhadap kezaliman penguasa, serta menyebarkan pemikiran Islam secara terbuka guna membangun kesadaran umum di tengah-tengah umat. Dalam tahapan kedua ini pula dimohonkan dukungan kekuatan dari para pemilik kekuasaan dan militer yang bertakwa.
Tahapan ketiga adalah tahap penerimaan kekuasaan, yaitu penyerahan kekuasaan secara damai dari para pemilik kekuatan kepada kelompok dakwah untuk menerapkan syariat Islam secara total dalam bingkai negara. Hanya dengan melalui tahapan metode perjuangan Nabi ﷺ inilah kehidupan Islam akan dapat ditegakkan kembali secara sahih dan kokoh.
Ketika syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan mulai dari sistem ekonomi, politik, peradilan, sosial, hingga pendidikan, maka rahmat Allah akan tercurah secara nyata bagi seluruh manusia dan alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt. surah Al-Anbiya ayat 107: “Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam.”
Peringatan Maulid Nabi adalah momentum untuk meninggalkan metode sistem sekuler dan beralih sepenuhnya mengikuti metode perjuangan Rasulullah ﷺ demi tegaknya kembali kemuliaan Islam dan umatnya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.[]


0 Komentar