Subscribe Us

KAPITALISME MEMBATASI PERAN GENERASI HANYA SEBAGAI KOMODITAS INDUSTRI



Oleh: Asha Tridayana
(Kontributor Visualiterasi Media)


Vivisualiterasi.com - Tuntutan kerja menjadi fokus generasi dalam menghadapi dunia industri saat ini. Mereka belajar siang-malam dengan orientasi setelah lulus sekolah dapat langsung bekerja. Tidak dipungkiri, tingginya biaya kebutuhan pokok memaksa mereka hidup mandiri. Bahkan nilai pendidikan tidak lagi berharga, hanya dianggap sebagai batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi hal ini mendapatkan dukungan dari pemerintah yang berupaya mencetak pekerja untuk memenuhi target pasar industri melalui beragam kebijakannya.

Salah satunya PT Kawasan Industri Terpadu Batang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dalam sebuah Kesepakatan Bersama yang diresmikan pada 19 Agustus 2025. Kesepakatan tersebut dilanjutkan dengan penyesuaian kurikulum pendidikan vokasi dengan tuntutan dunia industri. Hal ini terwujud dalam Perjanjian Kerja Sama [PKS] tentang penguatan karakter dan kesiapan kerja bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan [SMK]. Penandatanganan perjanjian tersebut menjadi salah satu rangkaian program NGOPENI SMK yang bertujuan membangun perekonomian dan sumber daya manusia [SDM] di wilayah setempat.

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko KEK Industropolis Batang, Angga Arie Saputra, menegaskan peran penting SDM yang berkualitas dalam menunjang pertumbuhan industri. Oleh karena itu, diperlukan koneksi antara ruang kelas dan lantai produksi agar lulusan sekolah mampu beradaptasi dengan dunia kerja. Di samping itu, adanya rekrutmen tenaga kerja melalui Bursa Kerja Khusus [BKK] SMK diharapkan dapat mewujudkan lulusan yang berkompeten dan mampu mendukung ekspansi kawasan industri Batang [radarpekalongan.disway.id, 21/08/2026].

Realita permintaan industri yang memaksa lulusan SMK menguasai banyak bidang direspons oleh para siswa SMKN 1 Batang. Mereka secara mandiri berinisiatif mendirikan komunitas bahasa Mandarin. Hal ini mendapat dukungan dan apresiasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Langkah nyata yang ditempuh pemerintah, yakni bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja [BLK] untuk memberikan program pelatihan bahasa dan kerja sama luar negeri, karena penguasaan bahasa asing merupakan soft skill yang krusial [radarpekalongan.disway.id, 20/08/2026]

Lulusan SMK memang memiliki peluang besar di sektor industri. Apalagi di Kabupaten Batang terdapat kawasan industri besar yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Hingga pemerintah pun berupaya memfasilitasi pelatihan dan penyesuaian kurikulum demi menunjang kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Harapannya, semakin banyak lulusan SMK yang terserap, maka tingkat pengangguran dapat berkurang dan kesejahteraan masyarakat semakin membaik.

Namun, masalah kemiskinan dan maraknya pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan membuka lowongan kerja untuk SMK. Faktanya, banyak pekerja di industri tersebut tidak mengalami perubahan taraf ekonominya. Mereka tetap kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan waktu dan tenaga semakin diperas tanpa jaminan kesejahteraan. Terlebih sejak perekrutan, sering kali diminta untuk siap bekerja di bawah tekanan dan memiliki loyalitas tinggi sehingga dinilai wajar ketika bekerja dituntut banyak hal, sekalipun tidak manusiawi.

Hal ini terjadi karena penerapan sistem kapitalisme yang meniscayakan industrialisasi di segala bidang dan menuntut pembangunan kawasan industri di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Batang. Terciptanya kawasan industri dalam sistem kapitalisme hanya mengutamakan keuntungan tanpa memperhatikan nasib pekerjanya. Lulusan SMK dianggap sebagai aset untuk menunjang keberlangsungan industri. Mereka dicetak untuk mampu bekerja dengan beragam kompetensi, sedangkan upah yang diberikan seminimal mungkin berdasarkan level pendidikannya. Sehingga kebanyakan lulusan SMK hanya bekerja sebagai operator, teknisi, atau pekerjaan lapangan, bukan sebagai ahli.

Inilah yang memang diinginkan para pemilik modal, yakni keberadaan tenaga kerja yang menjadi bagian biaya produksi dibuat seminimal mungkin untuk hasil yang sebanyak-banyaknya. Sistem kapitalisme tidak pernah benar-benar menjamin keberlangsungan masyarakat. Masalah kemiskinan dan minimnya lapangan kerja hanya diselesaikan secara tambal sulih. Seolah-olah adanya industrialisasi dapat membawa perbaikan, padahal justru menambah masalah baru, yakni menjadikan generasi sebagai budak kapitalisme yang hanya berorientasi pada materi dan kehilangan tujuan hidup yang hakiki.

Di sisi lain, negara tidak mampu bertanggung jawab dalam menjamin kebutuhan hidup dan tersedianya lapangan kerja. Akhirnya, negara memilih menyerahkannya kepada swasta dalam bentuk kerja sama investasi asing. Seakan-akan negara peduli, padahal berlepas tangan secara nyata. Negara justru menjadi regulator dan fasilitator bagi para pemilik modal untuk memudahkan usahanya di berbagai sektor vital negara melalui kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Hal ini semakin memperjelas hilangnya peran negara dalam menjamin kemaslahatan rakyat.

Lain halnya dengan Islam yang memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar individu yang mesti dipenuhi negara. Melalui sistem pendidikan, Islam menanamkan akidah Islam sebagai landasan hidup agar setiap perbuatan senantiasa terikat hukum syara’. Kemudian terbentuk kepribadian Islam pada setiap individu yang menentukan arah berpikir dan bertingkah laku untuk berada dalam ketaatan kepada Allah Swt. Sehingga generasi penerus memiliki fondasi yang kokoh dan standar yang jelas dalam menapaki kehidupan. Selain itu, sistem pendidikan Islam juga membekali generasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat bersaing seiring perkembangan zaman.

Islam juga mewajibkan negara bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan pokok umat. Salah satunya melalui ketersediaan lapangan kerja yang luas sehingga memudahkan terpenuhinya kewajiban setiap laki-laki untuk mencari nafkah. Negara juga memfasilitasi beragam pelatihan untuk menunjang kemampuan setiap individu. Negara benar-benar menjamin kemaslahatan umat. Sehingga orientasi hidup hanya ketaatan kepada Allah Swt., tidak terfokus pada materi apalagi mementingkan gaya hidup hedonisme yang bertentangan dengan syariat Islam.

Tidak hanya itu, Islam dengan sistem ekonominya mampu mengatur seluruh pemasukan dan pembiayaan negara melalui Baitulmal sehingga negara tidak bergantung pada investasi asing. Negara memiliki kedaulatan dalam menentukan kebijakan tanpa intervensi asing, termasuk dalam mengelola sumber daya alam untuk kemaslahatan umat. Karena kekayaan alam merupakan salah satu sumber pemasukan negara yang dalam mekanisme pengelolaannya akan menyerap banyak tenaga kerja.

Begitulah saat sistem Islam diterapkan negara, beragam masalah dapat terselesaikan. Bahkan generasi penerus akan menjadi generasi cemerlang yang mampu membangun peradaban Islam. Maka penerapan sistem Islam menjadi urgensitas bersama seluruh umat Islam agar keberkahan menyelimuti kehidupan dunia dan akhirat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar