#Popro (Pojok Propagandis)
Vivisualiterasi.com - Pemerataan pemasangan bendera memang sudah terjadi di segala penjuru Indonesia. Tahun lalu tidak seketat ini. Namun, beredar di media sosial bahwa aturannya seolah-olah bersifat wajib. Disusul berita tentang seorang rakyat biasa yang menyuarakan opini tentang kondisi yang ia rasakan, tetapi dianggap sebagai ancaman.
Pertanyaannya, benarkah ini bentuk kemerdekaan? Bahkan untuk bersuara saja, kemerdekaan itu tidak diberikan. Katanya demokrasi—di mana kebebasan bersuara dijunjung tinggi. Bukannya diberi solusi atau jawaban pasti, "mengapa rakyat harus merayakan kemerdekaan". Rakyat malah seolah dibungkam dan diminta agar mengikuti arus. Ini baru satu orang yang menyuarakan "tidak merdeka". Bagaimana dengan jutaan rakyat yang tidak berani bersuara?
Kemerdekaan yang hanya dinikmati segelintir orang niscaya terjadi dalam sistem kapitalisme. Tidak ada kemerdekaan hakiki jika negeri ini masih bersandar pada sistem yang sama.[] Aubi Atmarini Aiza


0 Komentar