Subscribe Us

SIAPA YANG MERAMPAS MASA DEPAN ANAK-ANAK GAZA

Oleh:Unartin
(Aktivis Dakwah)

Vivisualiterasi.com-
Laporan lembaga PBB yang dirilis pada Selasa (23/06/2026) menyatakan bahwa Zionis Israel dengan sengaja mengincar anak-anak Gaza sehingga melakukan tindakan yang meminta genosida, sedikitnya 20.179 anak terbunuh dan 44.134 lainnya terluka di Gaza selama periode 7 Oktober 2023 hingga 7 Oktober 2025. Anak-anak Gaza mengalami berbagai mulai dari luka fisik, termasuk, melawan hak-hak, hingga trauma.

Faktanya, tenaga medis mendokumentasikan ratusan kasus luka tembak tunggal yang mengenai kepala dan bagian atas tubuh anak-anak. Pada bulan April 2024, seorang bayi laki-laki berusia 10 hari ditembak di bagian kepala oleh quadcopter saat sedang disusui ibunya di dalam sebuah tenda di Kamp Nuseirat. Sementara pada Agustus 2024, seorang anak perempuan berusia empat tahun ditembak di kepala oleh quadcopter ketika sedang makan bersama keluarganya di Khan Yunis.

Pembunuhan oleh Zionis terus berlangsung, bahkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025. Salah satu contohnya terjadi pada 29 November, ketika dua bersaudara berusia sembilan dan sepuluh tahun tewas ditembak drone 'Israel' saat mereka sedang mengumpulkan kayu bakar.
Dari 564 gedung sekolah di Gaza, 459 di antaranya telah terkena serangan langsung hingga Oktober 2025. Akibatnya, anak-anak di Gaza kehilangan kesempatan mengikuti pendidikan selama tiga tahun ajaran penuh, sementara lebih dari 668.000 anak usia sekolah tidak dapat mengakses pendidikan formal. Hingga Januari 2026, lebih dari 335.000 anak berusia di bawah lima tahun berisiko mengalami keterlambatan perkembangan yang serius akibat runtuhnya layanan pendidikan dan pengasuhan anak usia dini. Selain itu, serangan terhadap fasilitas perawatan bayi baru lahir atau neonatal secara langsung menyebabkan kematian bayi-bayi yang sebenarnya dapat dicegah.

Sungguh sedih membayangkan masa depan anak-anak Gaza. Pada saat anak-anak di belahan bumi yang lain bisa leluasa bermain dengan teman-teman, berkumpul dan bercengkerama bersama keluarga, tidur di rumah yang nyaman, belajar di sekolah, serta menikmati keindahan alam dengan rasa aman, anak-anak Gaza tidak merasakannya. Hari-hari mereka didominasi dengan menyaksikan kematian demi kematian. Terlebih lagi, setiap hari mereka berlomba dengan kematian.

Laporan tersebut menggambarkan bagaimana masa kanak-kanak mereka dihancurkan secara menyeluruh dalam hampir setiap aspek kehidupan sehingga masa depan anak-anak gaza terancam. Menyaksikan derita anak-anak Gaza, sebuah pertanyaan mengemuka, sampai kapan tragedi ini akan terus terjadi? Sampai kapan anak-anak tidak berdosa tersebut harus menanggung derita yang tidak terperikan ini? Tanya ini tidak kunjung terjawab.

Sengaja Menargetkan Anak-Anak Gaza

Zionis sengaja menargetkan anak-anak Gaza dalam rangka genosida untuk menghabisi muslim Palestina. Zonis melakukan segala cara (termasuk membunuh anak-anak) demi mencapai tujuan mereka, yaitu menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan Israel Raya. Mereka tidak peduli gencatan senjata dan kecaman lembaga PBB, genosida terus mereka lakukan.
Oleh karena bantuan itu, bantuan kemanusiaan tidak cukup karena kemanusiaan memang telah mengalir dari berbagai penjuru dunia untuk Palestina. Seandainya bantuan itu benar-benar sampai ke warga Gaza, niscaya mereka sudah sejahtera. Namun, kenyataannya sebagian besar bantuan itu tidak sampai, karena truk-truk bantuan dicegat, ditahan, bahkan dibom. Kapal bantuan seperti Global Sumud Flotilla diambil alih di tengah laut. Alhasil, bantuan-bantuan tidak bisa masuk ke Gaza. Siapa pelakunya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Zionis dengan dukungan Amerika Serikat (AS).

Solusi bagi penderitaan anak-anak Gaza tidak cukup hanya dengan mengirimkan dokter untuk mengobati luka fisik dan psikoterapis untuk mengobati jiwa mereka. Selama masih ada entitas Zionis, serangan demi serangan akan terus dialami oleh anak-anak Gaza dan mereka tidak lepas dari trauma.
Oleh karena itu, pembelaan kita bagi Gaza tidak cukup dengan memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi harus menyelesaikan akar permasalahannya, yaitu keberadaan entitas Zionis yang melakukan genosida dengan dukungan AS.
Untuk mengusir Zions dari tanah Palestina, diperlukan kekuatan militer yang mumpuni, karena akan menghadapi Zions sekaligus AS. Kekuatan militer yang sepadan untuk menghadapi keduanya haruslah berasal dari negara yang besar, bukan dari milisi, mengingat AS saat ini merupakan pemimpin dalam hal industri militer.

Oleh karena itu, kita tidak bisa berharap pada lembaga internasional seperti PBB maupun pada negara-negara muslim. PBB sudah terbukti gagal melindungi Palestina dari serangan Zionis. PBB hanya bisa mengeluarkan resolusi tanpa tindakan berarti. Selain itu, faktanya PBB berada dalam dominasi AS sebagai pemegang hak veto sehingga mustahil PBB berjalan ke arah yang tidak dikehendaki AS.

Sedangkan negara-negara muslim telah lama terbelenggu nasionalisme sehingga tidak mau memerdekakan Palestina. Mereka juga berada dalam dominasi AS, terbukti bahwa di negara-negara muslim (khususnya Timur Tengah), banyak terdapat pangkalan militer AS yang justru menjadi basis dukungan militer untuk Zionis.

Para penguasa muslim itu mengikuti Arah AS untuk mendukung solusi dua negara. Padahal, penyelesaian masalah Palestina tidak bisa terwujud dengan solusi dua negara karena ini adalah opsi yang mustahil terwujud. Zionis tidak pernah dan tidak akan pernah mau hidup damai berdampingan dengan muslim Palestina.Derita anak-anak Palestina harus diakhiri. Kita tidak boleh membiarkan mereka terluka hingga trauma. Kita membayangkan seandainya anak kita yang mengalaminya, tentu kita akan bersegera mewujudkan solusi hakiki, yaitu pengampunan Palestina.

Khilafah Mewujudkan Solusi Masa Depan Palestina

Pembebasan Palestina dari pendudukan Zions hanya bisa diwujudkan oleh Khilafah karena hanya Khilafah satu-satunya negara yang memiliki visi politik luar negeri berupa dakwah dan jihad. Khilafah berposisi sebagai pelindung bagi seluruh negeri-negeri umat Islam, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الْØ¥ِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ
Imam sejati (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan mendukungnya dan melindungi (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya. (HR Muttafaq alaih).

Khilafah akan menyatukan negeri-negeri muslim di bawah naungannya dan menyatukan seluruh potensi mereka, termasuk militer. Negeri-negeri muslim memiliki kekuatan militer yang luar biasa besar jika bersatu. Kekuatan berupa tentara, persenjataan, logistik, kekayaan alam, dan lain-lain akan diarahkan untuk jihad fisabilillah memerdekakan Palestina.
Dengan demikian, anak-anak Gaza tidak akan dirugikan lagi. Mereka akan kembali ceria bermain dengan teman, berkumpul dengan keluarga, bersekolah, dan menyongsong masa depan yang cerah di bawah perlindungan panji-panji Islam.

Untuk bisa memerdekakan palestina butuh persatuan umat, umat islam mutlak harus bersatu di bawah naungan khilafah Sejak dulu kita belajar bahwa banyak lidi yang bersatu akan menjadi kuat dan sulit dipatahkan. Sedangkan, jika sendirian, batang lidi akan mudah dipatahkan, bahkan dihancurkan.
Namun, saat ini persatuan umat sulit terwujud karena racun nasionalisme telah membelenggu umat. Oleh karena itu, diperlukan dakwah Islam yang menggugah kesadaran (dakwah fikriyyah) dan dorongan berjuang (dakwah siyasiyah) pada diri umat. Dakwah ini penting untuk mengembalikan keyakinan umat bahwa sejatinya mereka adalah umat yang satu sebagaimana firman Allah Taala,
اِÙ†َّÙ…َا الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ُÙˆْÙ†َ اِØ®ْÙˆَØ©ٌ
Sejatinya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat [49]: 10).

Dengan bersatu di bawah panji Islam, umat ini akan kembali menjadi umat terbaik sebagaimana firman-Nya,
ÙƒُÙ†ْتُÙ…ْ Ø®َÙŠْرَ اُÙ…َّØ©ٍ اُØ®ْرِجَتْ Ù„ِلنَّاسِ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS Ali Imran [3]: 110).

Dakwah Islam kafah harus dilakukan secara global di seluruh negeri-negeri muslim sehingga terwujud kesamaan pandangan tentang Khilafah sebagai solusi hakiki masalah Palestina.Wallahu'alam

Posting Komentar

0 Komentar