Subscribe Us

MENTAL REMAJA TERJAGA DALAM ISLAM

Oleh: Venni Hartiyah
(Pegiat Literasi)

Vivisualiterasi.com-
Masa remaja adalah masa ketika rasa ingin tahu besar. Keinginan hati menggelora, semangat membara dalam melakukan segala hal, dan masa mencari jati diri.

Masa remaja adalah masa yang tidak akan terulang dan waktunya singkat. Oleh karena itu, ketika masa remaja tiba, orang tua harus memberikan pemahaman mengenai kekuatan-kekuatan pada masa remaja. Gunakan semaksimal mungkin kesempatan tersebut untuk produktivitas amal.  
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ menyampaikan keutamaan di usia muda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ...
_وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ_

*Artinya:*  
Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi ﷺ bersabda:  
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya... yaitu seorang pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid.”  
(HR Bukhari No.660 dan HR Muslim No.1031)

Masyaallah. Namun bagaimana ketika kita melihat fakta hari ini? Banyak pemuda Gen-Z yang mengalami gangguan mental.

Dilansir dari kompas.id (18/6/2026), gangguan kesehatan mental mengancam kalangan remaja. Tanpa penanganan yang tepat, persoalan tersebut menghambat tumbuhnya generasi penerus bangsa. Di sisi lain, peran anak muda sangat penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas tahun 2045.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh atau 14,3% anak yang berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan menyumbang 15% dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Namun, sebagian besar kondisi yang dialami tidak dikenal dan tidak diobati.  
Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku termasuk di antara penyebab utama penyakit dan kecacatan di kalangan remaja. Upaya bunuh diri merupakan penyebab kematian ketiga terbesar antara mereka yang berusia 15-29 tahun.

Beberapa kegagalan dalam mengatasi kondisi kesehatan mental remaja akan terus berlanjut hingga dewasa. Hal itu mengakibatkan rusaknya kesehatan fisik dan mental, serta membatasi kesempatan untuk berpartisipasi dalam masyarakat dan menjalani hidup yang berkualitas.

Sungguh miris melihat fakta di atas. Remaja yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memajukan bangsa dan negara justru banyak yang mengalami tekanan mental. Tekanan mental tersebut disebabkan berbagai macam faktor, seperti pekerjaan, ekonomi, pelajaran, dan lain sebagainya. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan jiwa dan berbagai macam emosi yang tidak stabil jika remaja tidak memiliki fondasi yang kuat. Parahnya, hal ini dapat membuat remaja rentan melakukan tindakan pintas, yaitu bunuh diri, yang mereka anggap sebagai solusi atas permasalahannya.

Visi Indonesia Emas yang digagas pemerintah tidak mungkin berhasil jika negara tidak membenahi para pemudanya. Pemuda yang rusak tidak dapat diharapkan berpartisipasi dalam kemajuan negara. Bahkan remaja yang rusak mental dan spiritualnya membuat negara berpikir keras dalam pembenahannya.

Tidak dapat dimungkiri, sistem kapitalisme yang mengakar kuat dalam masyarakat membuat rusaknya tatanan kehidupan mulai dari tatanan individu, masyarakat, bahkan sampai negara. Ketika individu rusak, tatanan masyarakat ikut rusak karena masyarakat terdiri atas sekelompok individu-individu.

Keimanan individu juga mempengaruhi kualitas masyarakat itu sendiri. Ketika kehidupan individu mengalami tekanan dari berbagai sisi, misalnya kesulitan ekonomi, permasalahan dengan suami, istri, orang tua, atau anak, masalah belum mendapatkan pekerjaan, PHK, masalah kesehatan fisik, dan lain sebagainya, hal itu akan membuat individu rentan mengalami depresi. Maka diperlukan solusi yang mengakar agar permasalahan tersebut dapat terurai.

Islam Menjamin Kesehatan Mental Remaja dan Masyarakat

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur semua aspek kehidupan. Dari bangun tidur sampai membangun negara, semuanya diatur oleh Islam. Begitu juga dengan pemeliharaan mental remaja, Islam memiliki cara yang efektif dan efisien.

Dengan menjaga akidah Islam rakyatnya melalui sistem pendidikan Islam yang mampu menciptakan individu beraqidah Islam (pola pikir Islam) dan bersyakhsiyah Islam (pola sikap), setiap individu masyarakat akan mengetahui perintah dan larangan Allah. Mengetahui makna ma'rifatullah yang sahih serta mengetahui hakikat penciptaan manusia dan alam semesta.

Selain itu, peran negara juga sangat mendesak dalam membina mental individu dan remaja. Karena tugas khalifah sebagai _ra'in_ atau pengurus urusan rakyat dalam semua aspek kehidupan, termasuk menjaga mental agar tetap stabil.

Beberapa contoh nyata peran Khilafah dalam menjaga kesehatan mental rakyatnya antara lain:

1. Membangun rumah sakit jiwa (Bimaristan) Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dibangun rumah khusus sakit untuk gangguan jiwa, seperti di Bagdad, Kairo, dan Damaskus. Di tempat ini, pasien gangguan jiwa dirawat dengan baik menggunakan berbagai macam terapi, seperti musik, wewangian, mandi air hangat, dan konseling, bukan dengan cara sadis seperti dipasung atau diasingkan.
2. Pendanaan dari Baitulmal. Pembiayaan fasilitas kesehatan, termasuk terapi psikologis dan obat-obatan, ditanggung penuh oleh Baitulmal (Kas Negara), sehingga masyarakat tidak terbebani secara finansial.
3. Pencegahan krisis ekonomi. Khilafah akan mencegah stres psikologis akibat kemiskinan dengan menjamin distribusi kekayaan yang adil. Negara mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat secara menyeluruh guna menjamin kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan, dan papan.
4. Pemberian edukasi mental spiritual. Khalifah beserta stafnya akan mengadakan majelis taklim rutin bagi masyarakat demi menciptakan keimanan. Juga menerapkan hukum yang adil untuk mencegah kejahatan dan dorongan menjaga nilai-nilai spiritual.

Masyaallah, begitulah Islam secara sempurna menjaga kesehatan mental individu dan remaja. Bukankah kita rindu dengan sistem Islam?

Wallahu a'lam bish-shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar