Subscribe Us

MUHARRAM: MOMENTUM MEMPERJUANGKAN ISLAM KAFAH

Oleh: Muliana, S.Pd. 
(Aktivis Muslimah)

Vivisualiterasi.com-Tahun berganti, namun luka umat belum juga berhenti. Kaum muslim masih menyaksikan berbagai persoalan yang silih berganti menghimpit kehidupan. Tahun Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah, namun juga saat yang tepat untuk memikirkan arah perjalanan umat dan memicu berbagai persoalan baru yang terus membelit kehidupan kaum muslim di berbagai belahan dunia.

Di dalam negeri, berbagai masalah sosial dan ekonomi masih menjadi kenyataan yang sulit diabaikan. Kemiskinan struktural masih menjerat sebagian masyarakat. Praktik perjudian yang berani semakin meluas dan merusak kehidupan banyak keluarga. Kasus prostitusi anak, perundungan, eksploitasi seksual, korupsi narkoba, hingga berbagai bentuk kekerasan terus memberikan pemberitaan. Di sisi lain, pertemuan sosial semakin lebar, sementara banyak rakyat harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal.

Sementara itu, di tingkat internasional, penderitaan umat Islam juga belum berakhir. Tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina, khususnya di Gaza, masih terus berlangsung. Mereka masih menghadapi penderitaan akibat agresi yang berkepanjangan, bahkan banyak di antara mereka harus berjuang melawan kelaparan di tengah terbatasnya bantuan yang dapat masuk. Ribuan nyawa melayang, rumah-rumah hancur, dan banyak warga hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dunia menyaksikan penderitaan tersebut, namun berbagai upaya untuk menghentikannya belum mampu memberikan perlindungan yang nyata bagi kaum muslim yang tertindas.

Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: mengapa umat Islam yang jumlahnya begitu besar masih berada dalam posisi lemah? Sudahkah umat Islam mengusung sebagai _khairu ummah_? Mengapa berbagai permasalahan yang menimpa kaum muslim seolah terus berulang tanpa penyelesaian yang mendasar? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang layak direnungkan agar Muharram benar-benar menjadi titik awal kebangkitan umat menuju perubahan yang diridai Allah Swt.

Sebagian kalangan memandang bahwa berbagai masalah yang terjadi bukan semata-mata disebabkan oleh kesalahan individu, melainkan juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang diterapkan. Seluruh kenestapaan dalam negeri adalah buah dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini menjadikan standar manfaat bahan sebagai ukuran utama dalam berbagai kebijakan. Akibatnya, pertimbangan halal dan haram seringkali tidak menjadi landasan dalam mengatur urusan masyarakat.

Ketika keuntungan materi menjadi tujuan utama, berbagai kerusakan pun dapat muncul di banyak bidang kehidupan. Pendidikan lebih terfokus pada pencapaian duniawi semata, ekonomi terfokus pada kepentingan pemilik modal, sementara nilai-nilai moral dan spiritual semakin terpinggirkan. Dalam kondisi seperti ini, berbagai permasalahan sosial terus bermunculan dan sulit terselesaikan hingga ke akar-akarnya.

Di tingkat global, lemahnya posisi umat Islam juga sering dikaitkan dengan tercerai-berainya kekuatan kaum muslim di banyak negara bangsa yang berdiri sendiri. Nasionalisme menjadikan setiap negara lebih fokus pada kepentingannya masing-masing sehingga persatuan umat Islam secara menyeluruh menjadi sulit terwujud. Akibatnya, ketika ada bagian dari umat Islam yang mengalaminya, respons yang muncul sering kali tidak sesuai dengan harapan.

Muharram mengingatkan umat Islam bahwa kondisi yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja tanpa upaya perubahan. Perubahan hakiki adalah perjuangan untuk hijrah dari sistem kufur sekularisme-kapitalisme menuju sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah.

Sejarah hijrah Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari sikap pasif, melainkan dari perjuangan yang dilandasi keimanan, kesabaran, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah Swt.

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat atau mengubah penampilan lahiriah. Hijrah yang hakiki adalah perubahan menyeluruh menuju ketaatan kepada Allah Swt. dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, momentum bulan Muharram hendaknya dimanfaatkan untuk memahami kesadaran bahwa Islam tidak hanya sekedar mengatur ritual ibadah, namun juga memiliki aturan-aturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Rasulullah ﷺ selama masa dakwah di Makkah tidak hanya membina keimanan para sahabat, tetapi juga membangun kesadaran umat tentang pentingnya penerapan ajaran Islam secara menyeluruh. Berkat perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam menyebarkan Islam, keindahan Islam dapat kita rasakan hingga sekarang.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, penuh kesabaran, dan dilakukan secara terorganisasi, akhirnya terwujudlah masyarakat Islam di Madinah yang menjadikan wahyu sebagai landasan dalam mengatur kehidupan.

Pelajaran inilah yang seharusnya menginspirasi umat Islam hari ini. Perubahan hakiki membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan perjuangan yang konsisten. Umat ​​Islam tidak cukup hanya mengeluhkan berbagai kerusakan yang terjadi, namun juga perlu berupaya menghadirkan solusi yang bersumber dari ajaran Islam.

Oleh karena itu, Muharram 1448 H diperkirakan menjadi titik kebangkitan kesadaran umat. Saatnya kaum muslim memperdalam pemahaman Islam, memperkuat ukhuwah Islamiah, meningkatkan kualitas ketakwaan, serta berpartisipasi dalam aktivitas dakwah yang menyeru pada penerapan ajaran Islam secara menyeluruh. Karena Allah berfirman:

‎يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kafah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS Al-Baqarah : 208)[2]

Dengan demikian, umat dapat kembali menjadi _khairu ummah_, yaitu umat terbaik yang mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah Swt.

Semoga tahun baru Hijriah ini menjadi momentum lahirnya semangat baru untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat, serta berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang diridai-Nya. _Wallahu a'lam bish-shawab._[]

Posting Komentar

0 Komentar