Oleh: Amirah Desi
(Muslimah Peduli Umat)
Vivisualiterasi.com - Bulan Muharam kembali hadir membawa harapan baru sekaligus menjadi momentum muhasabah bagi setiap muslim. Begitu juga ucapan selamat tahun baru Islam menghiasi media sosial, masjid, sekolah, hingga berbagai ruang publik. Banyak yang berdoa agar tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya. Akan tetapi, di tengah suasana tersebut ada pertanyaan yang patut direnungkan bersama: Sudahkah umat Islam benar-benar berhijrah menuju kondisi yang lebih baik?
Pertanyaan ini penting diajukan karena realitas yang dihadapi umat Islam saat ini masih jauh dari kata ideal seperti yang digambarkan Islam. Memang benar, umat Islam memiliki jumlah yang sangat besar dan tersebar di berbagai penjuru dunia, bahkan hidup di negeri-negeri yang kaya akan sumber daya alam (SDA). Akan tetapi, besarnya jumlah dan melimpahnya kekayaan tersebut belum menjadi kekuatan yang disegani dan belum mampu memenuhi kepentingannya sendiri.
Di berbagai belahan dunia, kaum muslim masih menjadi korban penindasan, peperangan, dan ketidakadilan. Palestina menjadi contoh paling nyata hingga hari ini masih menghadapi agresi yang merenggut nyawa, harta, dan masa depan mereka. Setiap kali tragedi terjadi, dunia Islam ramai menyampaikan kecaman dan keprihatinan. Akan tetapi, penderitaan rakyat Palestina tetap berlangsung. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang posisi umat Islam di tengah percaturan dunia saat ini.
Padahal, jika dilihat, jumlah umat Islam bukanlah kelompok kecil. Lebih dari dua miliar manusia mengaku beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Akan tetapi, kenyataannya, jumlah tersebut belum mampu menjadi kekuatan politik yang efektif. Umat memiliki sumber daya, tetapi tidak memiliki daya tawar yang kuat. Umat memiliki potensi, tetapi tidak memiliki kekuatan yang mampu mengonsolidasikan potensi tersebut menjadi kekuatan nyata.
Kondisi ini tentu tidak muncul begitu saja. Ada persoalan mendasar yang perlu dipahami. Selama ini, banyak orang melihat kemunduran umat hanya dari sisi individu. Ketika terjadi kerusakan moral, misalnya, yang dibahas adalah perilaku masyarakat. Ketika muncul berbagai persoalan sosial, yang disorot adalah lemahnya kualitas individu muslim. Padahal, persoalan umat tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang mengatur mereka.
Maka, pada bulan Muharam ini kita diingatkan kembali pada peristiwa hijrahnya Rasulullah ï·º dari Makkah ke Madinah. Banyak orang memahami hijrah sebagai perubahan perilaku pribadi, seperti memperbaiki ibadah atau meninggalkan kemaksiatan. Tentu hal itu merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Akan tetapi, hijrah Rasulullah ï·º memiliki makna yang jauh lebih luas.
Peristiwa hijrah menjadi titik awal lahirnya masyarakat Islam yang diatur berdasarkan syariat Allah. Di Madinah, Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran spiritual yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi Islam menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, peradilan, hingga hubungan luar negeri. Dengan kata lain, Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh.
Dari sinilah lahir kekuatan umat yang kemudian mampu mengubah arah sejarah dunia. Dalam waktu yang relatif singkat, Islam berkembang menjadi peradaban besar yang memberikan pengaruh luas terhadap kehidupan manusia. Umat Islam tidak hanya kuat dalam aspek ibadah, tetapi juga memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan peradaban.
Berbeda dengan kondisi saat ini. Umat Islam hidup dalam sistem yang menjadikan akal manusia sebagai sumber utama penetapan aturan. Sistem sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan sehingga Islam lebih banyak ditempatkan dalam wilayah ibadah pribadi. Sementara itu, urusan ekonomi, politik, pendidikan, dan hukum diserahkan kepada aturan buatan manusia.
Dari sistem semacam inilah berbagai persoalan terus bermunculan. Di antaranya, sistem ekonomi kapitalisme melahirkan kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin. Sistem politik yang ada sering kali gagal menghadirkan keadilan yang hakiki. Begitu juga dalam hubungan internasional, negeri-negeri muslim kerap berada pada posisi lemah di hadapan negara-negara besar yang mendominasi percaturan global.
Di samping itu, nasionalisme telah memecah umat Islam ke dalam banyak negara dengan kepentingannya masing-masing. Ikatan akidah yang seharusnya menjadi perekat utama sering kali kalah oleh batas wilayah dan kepentingan nasional. Akibatnya, ketika satu bagian umat mengalami penderitaan, respons yang muncul tidak pernah benar-benar terkoordinasi dalam satu kekuatan yang mampu memberikan perlindungan nyata.
Karena itu, Muharam hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai pergantian angka dalam kalender Hijriah. Akan tetapi, Muharam harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran umat bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan memiliki aturan bagi seluruh aspek kehidupan. Kebangkitan umat tidak cukup diwujudkan melalui perbaikan individu semata, tetapi juga melalui upaya menghadirkan Islam sebagai solusi atas berbagai persoalan kehidupan.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat bangkit dari keterpurukan, bangkit dari sikap pasrah terhadap kondisi umat, dan bangkit untuk memperjuangkan Islam kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, kebangkitan umat tidak lahir dari sikap pasif dan menunggu perubahan datang dengan sendirinya. Kebangkitan lahir dari kesadaran, perjuangan, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah akan diberikan kepada mereka yang menolong agama-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Muhammad: 7,
Ya ayyuhallazina amanu in tansurullaha yansurkum wa yusabbit aqdamakum
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Maka, untuk mewujudkan kebangkitan umat tersebut, perjuangan harus dimulai dengan membangun pemahaman yang benar tentang Islam, menguatkan akidah, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menghidupkan dakwah di tengah masyarakat. Umat harus meyakini bahwa syariat Allah merupakan solusi terbaik bagi kehidupan manusia karena aturannya berasal dari Zat Yang Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya.
Wallahu a'lam bissawab.[]


0 Komentar